Senin, 24 Oktober 2011

MAKNA DAN HIKMAH DALAM IBADAH HAJI

Oleh Syekh Subakir pada 24 Oktober 2011 pukul 4:32

Sahabat JERNIH yang (mudah-mudahan) dirahmati oleh Allah..

Bulan ini, kembali kota suci Makkah dan Madinah akan dikunjungi jutaan mukmin dari seluruh penjuru dunia untuk menunaikan salah satu kewajiban Islam yaitu Ibadah Haji.

Saya tidak pernah berhenti untuk mengingatkan bahwa dalam berislam kita jangan sampai terjebak kepada ritual dan simbol  belaka, melainkan harus dapat memahami makna dan hikmah di balik ritual ibadah yang kita jalankan. Kegagalan memahami makna dan hikmah dalam ritual ibadah, akan menjadikan apa yang kita lakukan itu tidak banyak berarti. Sebagaimana kita lihat bahwa setiap tahun jemaah haji asal Indonesia selalu mencapai jumlah terbanyak, namun sekembalinya mereka dari Tanah Suci ternyata tidak terlalu membawa dampak positif bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama di Tanah Air.

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang makna dan hikmah dalam Ibadah Haji, maka saya ingin bertanya kepada anda semua tentang tujuan berhaji.

Ya, apa sebenarnya tujuan anda dalam berhaji?

Demi memenuhi kewajiban agama saja? Ingin berdoa sepuasnya dan mendapatkan berkah dari Allah? Ingin memperoleh gelar haji? Atau ingin berjalan-jalan saja? Ataukah masih ada maksud-maksud lain di balik ibadah haji itu seperti tujuan politis, misalnya?

Jika tujuan anda berhaji masih seputar dari hal-hal di atas, maka anda mungkin belum akan mendapatkan manfaat dari ibadah haji tersebut. Al Qur’an telah dengan jelas menerangkan apa tujuan dari ibadah haji :

QS Al Baqarah [2] : 197
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan HAJI, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekal lah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah TAKWA dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

QS Al Baqarah [2] : 125
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada IBRAHIM dan ISMAIL: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud".

Tujuan dari ibadah haji adalah untuk meraih ketakwaan, dengan menapaktilasi perjalanan Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Ritual dalam Ibadah Haji mencakup lima hal :

1. Ihram.
2. Wuquf di Padang Arafah.
3. Lempar Jumrah di Mina.
4. Tawaf di sekeliling Ka’bah.
5. Sa’i di antara bukit Shafa dan Marwa.

Mari kita bahas lima ritual dalam Ibadah Haji ini secara garis besarnya!

1. IHRAM

Ihram adalah pakaian bagi jamaah Haji yang merupakan kain putih yang tidak berjahit. Baik orang Indonesia, Amerika, Arab, kulit putih, kuning, hitam, kaya, miskin, pejabat, rakyat jelata, semua diwajibkan mengenakan pakaian Ihram. Ini mengandung maksud bahwa di hadapan Allah semua derajat manusia adalah sama, sedangkan yang membedakan adalah kualitas ketakwaannya. Ini sekaligus menegaskan prinsip egalitarian atau persamaan derajat sesama manusia dalam Islam.

QS Al Hujuraat [49] : 13
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu SALING MENGENAL. Sesungguhnya orang yang paling MULIA di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling BERTAKWA di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

2. WUQUF

Wuquf adalah kegiatan berdiam diri di Padang Arafah. Pertanyaannya : berdiam diri untuk apa? Hanya menghabiskan waktu untuk bengong tanpa tujuan? Atau “berdiam” sambil makan-makan mewah di tenda-tenda haji tersebut?

Tentu tidak demikian. Bahwa berdiam diri di Padang Arafah itu mengandung maksud untuk introspeksi diri. Mempertanyakan kepada diri sendiri, sejauh mana komitmen kita sebagai makhluk yang diciptakan Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Merenung dan mencoba untuk mengenali jati diri yang sebenarnya dan memahami makna kehidupan. Sehingga ia akan selalu mengingat apa yang telah dilakukannya di masa-masa lalu. Memohon ampun atas segala dosa yang telah diperbuat, seraya berjanji untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik.

3. LEMPAR JUMRAH

Lempar Jumrah di Mina, adalah kegiatan melempar batu kerikil sebanyak tujuh kali ke arah tugu sebagai simbolisasi perlawanan terhadap godaan setan. Nabi Ibrahim melakukannya (melempari setan dengan tujuh batu kerikil), ketika setan berusaha membujuknya untuk membatalkan ujian dari Allah untuk mengorbankan putranya, Ismail.

Maka lakukanlah Lempar Jumrah itu dengan segenap hati, untuk mengusir sifat-sifat setan dalam diri kita, akan tetapi lakukanlah dengan tenang dan tertib. Jangan sampai maksudnya ingin mengusir setan, tapi diri kita malah kesetanan seperti yang sering terjadi bila jemaah melempari tugu itu dengan membabi buta sehingga mengenai jemaah yang lain. Lakukanlah dengan baik, karena sesungguhnya tugu itu bukanlah setan itu sendiri, akan tetapi adalah simbolisasi dari setan. Setan yang sesungguhnya ada di dalam hawa nafsu yang tidak terkendali dan menjelma menjadi perbuatan yang jahat.

4. TAWAF

Tawaf adalah ritual haji mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan berlawanan arah jarum jam. Ada dua makna penting dalam Tawaf ini, yaitu:

(i) Bahwa segala sesuatu di alam semesta ini sebenarnya adalah pusaran energi tanpa henti yang selalu digerakkan oleh Sang Konduktor alam semesta yang tidak lain dan tidak bukan adalah Allah Yang Maha Besar. Allah adalah Dzat Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu, yang tidak pernah berhenti memainkan orkestra mulai dari peredaran gugus galaksi yang super luas hingga orkestra terkecil dalam sel tubuh makhluk hidup.

Maka dalam bertawaf, kita sebenarnya sedang meleburkan diri ke dalam orkestrasi Allah dalam pusaran energi Ka’bah, dengan selalu mengingat dan memuji nama-Nya. Setiap putaran selalu dimulai dengan bacaan, “Bismillahi Allahu Akbar” yang artinya “Dengan Nama Allah Yang Maha Besar“. Seperti itulah seharusnya kita menjalani hidup dalam setiap hembusan nafas, dengan mengingat Allah Yang Maha Besar, sehingga potensi kesombongan dalam diri ini bisa diredam.

(ii) Bahwa dalam bertawaf itu kita sekaligus menceburkan diri ke dalam realita hidup di dunia ini yaitu menghadapi berbagai macam karakter manusia.

Coba lihat! Ada jamaah yang bertawaf dengan tergesa-gesa, main tubruk sana tubruk sini seolah-olah tidak mempedulikan jamaah yang lain. Ada juga yang bertawaf sambil berteriak-teriak bangga. Ada yang sangat berhati-hati, saking berhati-hatinya ingin menyelamatkan diri sehingga malah lupa berdzikir kepada Allah. Maka sebaik-baik Tawaf adalah mereka yang mampu melakukannya dengan dzikir khidmat kepada Allah, akan tetapi tetap pada kesadarannya memperhatikan manusia di sekelilingnya. Itulah konsep Islam yaitu ‘habluminallah’ dan ‘habluminannas’, yaitu hubungan vertikal dan horizontal.

5. SA’I

Sa’i adalah berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali. Ini merupakan napak tilas perjuangan Hajar, istri Nabi Ibrahim, ketika berusaha mencari mata air untuk putranya Ismail yang kehausan.

Ritual Sa’i ini bermakna perjuangan tanpa henti. Usaha dan kerja keras untuk meraih hasil. Maka biasanya, jamaah haji seusai melakukan Sa’i bisa meminum air Zamzam sebagai simbol hasil yang didapat dari jerih payahnya.


Nah, setelah kita mengetahui makna dan hikmah dalam ritual ibadah haji dengan cara menapaktilasi perjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya, mudah-mudahan kita bisa memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya seusai menjalankan ibadah haji.

Pakaian Ihram akan menjadikan kita sebagai seorang yang tidak membeda-bedakan manusia karena suku, ras, agama, pangkat, kekayaan, akan tetapi saling berbagi kasih sayang dan saling mendorong agar kita menjadi orang yang bertakwa.

Wuquf akan menjadikan kita sebagai manusia yang optimis menapak masa depan dengan penuh kebaikan dengan tidak mengulangi kesalahan di masa lalu.

Lempar Jumrah akan menjadikan kita lebih kuat dan gigih dalam memerangi nafsu setan dalam diri kita.

Tawaf akan menjadikan kita selalu mengingat bahwa kita adalah bagian yang sangat kecil yang selalu melebur dalam kekuasaan Allah, dan kita akan siap menghadapi realita kehidupan ini.

Sa’i akan menjadikan kita sebagai pribadi yang pantang menyerah dan giat dalam berusaha.

Mudah-mudahan semangat dalam haji kita akan terus menyala tidak hanya pada saat kita berada di Tanah Suci, melainkan akan terus dinyalakan hingga akhir hayat kita, Sehingga kita akan meraih derajat takwa, dan pada akhirnya akan menjadi orang yang benar-benar berserah diri kepada Allah, sebagaimana diteladankan Nabi Ibrahim

QS Al An’am [6] : 161-163)
“Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik". Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".”

Allahu’alam …

Semoga bermanfaat!


Minggu, 16 Oktober 2011

MENGKAJI SURAT AL-MAA’UUN

QS Al Maa'uun [107] : 1-7

" Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

.. Itulah orang yang menghardik anak yatim,

.. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

.. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

.. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

.. orang-orang yang berbuat riya,

.. dan enggan (menolong dengan) barang berguna."

Sahabat JERNIH yang (semoga) dirahmati oleh Allah...

Surat Al Maa’uun adalah salah satu surat yang populer di dalam Al Qur’an. Ada sebuah pernyataan menarik di dalamnya yaitu “Pendusta Agama.” Siapakah yang disebut sebagai pendusta agama itu? Apakah kita termasuk di dalamnya? Semoga tidak! Mari kita mengkaji secara singkat surah 107 ini.

Kata “pendusta agama” menjadi titik sentral di dalam surat ini. Mengapa Allah menggunakan kata pendusta dan agama? Tentu saja maksudnya adalah orang-orang yang “berjubah agama” akan tetapi perilakunya jauh dari ajaran agama Islam.

Apa itu orang yang berjubah agama?

Ya.. Mereka adalah orang yang rajin dalam “beribadah”. Shalat lima waktu, pintar doa dan dzikir, puasa tidak pernah bolong, naik haji berkali-kali, bahkan penampilannya pun sangat “agamis”, mungkin dengan mengenakan sorban, jubah, peci, dsb. Namun ternyata semua itu di mata Allah hanyalah “dusta” belaka.

Dusta? Bagaimana bisa begitu?

“ Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”

Sahabatku... Tentu kita paham bahwa masyarakat kita sebagian besar adalah masyarakat religius. Mulai dari pejabat, ulama, pengusaha, dan segenap lapisan masyarakat lainnya. Maka agak mengherankan jika angka kemiskinan di negeri ini masih sangat tinggi. Jika saja semua umat Islam memiliki kesadaran untuk berempati kepada anak yatim dan orang miskin, seharusnya angka kemiskinan tidak setinggi itu.

Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya :

Pertama, bahwa sebagian umat Islam tidak terketuk hati nuraninya melihat fakir miskin dan anak-anak terlantar. Ajaran agama Islam tidak benar-benar merasuk ke dalam pikiran dan hati mereka, karena agama itu sebatas KTP atau ritual-ritual belaka yang tanpa makna. Maka dari itu mereka tidak menganggap penting tentang nasib fakir miskin dan anak-anak terlantar. Bagi mereka jauh lebih penting menumpuk harta sebanyak mungkin, memikirkan jabatan, kekuasaan, dan popularitas. Itulah mengapa Pasal 34 UUD’45 hingga kini kian tidak jelas jluntrungannya. Padahal coba perhatikan! Hampir semua ayat yang berbicara tentang shalat selalu diikuti dengan perintah zakat!

Kedua, karena perintah zakat hanya dipahami sebagai ritual alias formalitas belaka. Zakat 2,5% dari penghasilan setahun sekali dirasa sudah cukup. Padahal seharusnya tidak begitu. Zakat dan sedekah seharusnya menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari, bukannya hanya dikeluarkan pada saat Idul Fitri dan Idul Adha saja. Itu pun sebaiknya kita juga memiliki kesadaran untuk mengeluarkan harta kita lebih dari standar minimal yaitu 2,5%. Saya sendiri agak heran ketika melihat sebagian orang yang penghasilannya bisa miliaran rupiah, akan tetapi ketika berzakat menggunakan standar minimal 2,5%. Saya pikir orang-orang itu tetap bisa hidup bahagia bahkan dengan 70% dari penghasilannya tersebut, meskipun ia harus menyisihkan, katakanlah, 30% saja untuk membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar.

“ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya....”

Luar biasa! Allah memberikan ancaman kepada orang-orang yang shalat!

Lho, apakah berarti shalat itu ibadah yang tidak direstui oleh Allah?

Tentu tidak!

Al Qur’an menjelaskan tentang orang-orang yang “lalai” dari shalatnya. Apa maksudnya lalai? Yaitu orang-orang yang tidak benar-benar shalat dari hati nuraninya. Mereka yang tidak benar-benar berkomunikasi dengan Allah dalam shalatnya. Shalatnya hanya menjadi olah raga dan rutinitas harian saja. Ayat demi ayat dibaca cepat-cepat, tanpa mengerti artinya, apalagi memahami maknanya.
Maka shalat mereka tidak berdampak pada perilaku mereka sehari-hari. Hati nuraninya tidak tersentuh oleh hikmah ayat-ayat Al Qur’an. Tentu saja pada akhirnya mereka lalai kepada “paket wajib” yang selalu menyertai perintah shalat, yaitu zakat untuk menyantuni fakir miskin dan anak-anak terlantar!

“ orang-orang yang berbuat riya (pamer), dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”

Apalagi orang-orang yang shalat hanya untuk pamer alias riya. Shalat karena ingin dianggap alim. Shalat karena kewajiban setor muka di hadapan atasannya, dan sebab-sebab lain yang menjadikan shalatnya bukan karena Allah.

Orang-orang semacam ini jelas akan merasa enggan dalam hal tolong-menolong. Kalaupun ia menolong seseorang, tentu karena maksud-maksud yang bermuatan kepentingan pribadi, dan bukan menolong karena kewajiban sebagai hamba Allah.

Mari kita renungkan kembali!

Sudahkah shalat kita menjadi media untuk berkomunikasi dengan Allah? Curhat dengan Allah? Meresapi kata demi kata yang kita ucapkan dalam shalat, sehingga hati kita bergetar ketika membaca ayat-ayat Allah?

Sudahkah shalat kita menjadikan kita berkepribadian Qur’ani? Yang hatinya selalu tersentuh sehingga “meneteskan air mata” ketika melihat anak-anak yatim dan orang-orang miskin yang kurang beruntung? Saya ingatkan sekali lagi! Hampir semua ayat tentang perintah shalat, selalu diikuti dengan perintah zakat!

Sudahkah shalat kita hanya untuk Allah? Bukan untuk siapa pun?

Sudahkah kita tolong-menolong semata-mata karena fitrah kita sebagai makhluk Tuhan di bumi yang memang diwajibkan untuk saling tolong-menolong agar tercipta kehidupan yang penuh harmoni, tanpa memandang status sosial, suku bangsa, dan agama?

Jika iya.. Insya Allah kita bukan termasuk “para pendusta agama.”

Sesungguhnya ajaran Islam itu sederhana, namun universal dan mendalam. Maka dari itu saya agak sedih ketika umat Islam sering meributkan hal-hal kecil yang tidak pernah diperintahkan di dalam Al Qur’an, sehingga menjadikan kita tidak lagi menjadi makhluk yang humanis, yang selalu menebar kasih sayang dan persaudaraan kepada sesama manusia, dan berbuat baik kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Ibadah hanya kepada Allah, berempati kepada kaum miskin dan anak yatim, serta menjaga sikap saling tolong-menolong ..

Tidak sulit bukan?

Allahu’alam ..


Semoga bermanfaat!

Minggu, 09 Oktober 2011

SUDAHKAH KITA MENJADI KHALIFAH DI BUMI

Oleh Hanya Copas Tulisan Bermutu pada 8 Oktober 2011 pukul 11:42
SUDAHKAH KITA MENJADI KHALIFAH DI BUMI
--------------------------------------------------------------------------

Oleh : Agus Mustofa dalam buku MEMBONSAI ISLAM


Coba kita tengok diri sendiri: keteladanan apa yang telah kita bisa – umat Islam –tawarkan kepada dunia dan seisinya?

Apakah kita telah berjasa membangun peradaban manusia global yang maju? Apakah kita telah berjihad membangun Sains dan Teknologi untuk mengelola Planet Bumi bagi kesejahteraan masyarakat dunia? Atau, apakah kita telah berperan penting dalam mengamankan Bumi dari kehancuran yang semakin nyata di masa depan? Ataukah kita telah terlibat secara aktif untuk membentuk tata dunia yang mengantarkan manusia di planet Bumi ini menuju kedamaian dan keadilan?

Dalam bahasa agama : sudahkah kita menjadi ‘khalifatu fil ardhi’ sebagaimana desain penciptaan kita sebagai manusia?

Marilah kita tengok kembali Al Qur’an, bahwa umat Islam sebenarnya adalah umat teladan. Umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Yang tujuan hidupnya adalah membentuk masyarakat dunia yang penuh dengan kema’rufan dan jauh dari kemungkaran. Serta mengorientasikan kehidupannya hanya kepada Allah.

Inilah umat yang didesain Sang Pencipta untuk menjadi pemimpin planet Bumi, dan menyejahterakan penduduknya dalam arti yang sebenar-benarnya. Menebarkan kasih sayang dan kesejahteraan secara adil dan merata, untuk manusia dan kemanusiaan. ‘Rahmatan lil’alamiin ..’

Kayaknya, perlu kita coba untuk bercermin. Sudahkah tujuan penciptaan kita itu terwujud dalam kehidupan kita? Kalau belum, dan kita semua tahu itu belum, pertanyaannya adalah : kenapa?

Kenapa “umat terbaik” yang didisain menjadi ‘khalifatu fil ardhi’ ini belum menjadi khalifah? Kenapa sang pemimpin belum juga menjadi pemimpin? Dan kenapa Sang Teladan belum menjadi teladan di muka bumi ciptaan Allah?

Sebagian kawan menjawab, bahwa kita sudah pernah menjadi teladan di jaman-jaman keemasan Islam. Kita pernah memunculkan tokoh-tokoh menonjol dalam dunia internasional. Dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan beberapa, juga dalam bidang politik. Tetapi, semua itu kini lenyap seperti tidak berbekas.

Umat Islam, kini berada dalam suatu posisi yang kurang menguntungkan. Baik dalam bidang politik, sains, teknologi, ekonomi, militer, maupun kualitas SDM secara keseluruhan. Bahkan umat Islam kini seperti terpojok dalam sebuah ‘Image Building’ yang serba sulit dan sangat merugikan performa secara keseluruhan.

Suatu ketika ada seorang tamu ‘bule Eropa’ datang ke rumah saya. Selama sekitar 2-3 jam kami berdiskusi tentang Islam dan keislaman. Sampai suatu saat ia menyoroti betapa tidak menguntungkannya posisi Islam dan Umat Islam di mata dunia internasional sekarang ini.
Tanpa ada maksud memojokkan, ia berkata begini: “Saya dan kawan-kawan saya sering mendengar yang tidak enak-enak dari dunia Islam. Yang paling sering adalah isu teror dan bunuh membunuh, seperti yang sering terjadi di Indonesia, Philipina, Timur Tengah, bahkan di Eropa dan AS. “

Yang kedua, katanya, adalah isu korupsi. Negara-negara Islam atau yang mayoritas berpenduduk Islam seperti Indonesia memiliki ‘budaya korupsi’ yang luar biasa. Hampir setiap hari, media massa, cetak maupun elektronik memuat berita tentang korupsi.

Yang ketiga, cerita tentang kemiskinan dan ketidakadilan dalam bidang kesejahteraan. Begitu banyak cerita orang kelaparan, sakit busung lapar, dan berbagai penyakit lainnya, akibat dari ketidakadilan dan salah urus terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang tidak mampu, lemah atau dilemahkan oleh keadaan.

Yang keempat, katanya, ia seringkali mendengar dan melihat demikian banyaknya cerita bencana yang terus menerus mengguncang. Mulai dari gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, banjir dan tanah longsor, dengan korban yang mengerikan ..!

Sampai di sini sebenarnya saya sudah sangat resah dan hampir tak tahan, mendengarkan celotehan tamu saya itu. Hati saya menjadi miris mendengarnya. Karena semua yang dia gambarkan itu seperti terpampang nyata di depan mata saya. Dia bukan sedang membual, tapi sedang menginventarisasi masalah ..!!

Namun, ia seperti tidak tahu kegelisahan saya. Dia masih meneruskan celotehannya. Dia paparkan panjang lebar, soal budaya sehari-hari kalangan umat Islam. Setidak-tidaknya di Indonesia yang mayoritas muslim.  Banyak yang menurutnya “kurang enak”. Misalnya, dalam soal makan dan perilaku hidup boros.

Dia sering melihat orang kita, kalau makan suka mengambil porsi berlebihan. Nasinya banyak, lauknya menggunung. Tapi setelah dimakan ternyata tidak habis. Lantas dibuang! Padahal banyak orang yang kelaparan di sekitar kita ...

“Berbeda dengan kami”, katanya. Kami terbiasa mengambil makan secukupnya. Jika kurang , mengambil lagi secukupnya. Selalu habis dimakan. Tidak pernah membuang-buang makanan. Kami selalu teringat banyak negara miskin yang kekurangan makanan, karena itu kami tidak tega untuk membuang-buang makanan seperti itu.

Dan ini yang lebih menusuk hati saya, ia mengatakan begini : “saya kira negara kami lebih kaya dari di sini, tetapi kenapa orang-orang di sini lebih boros dibandingkan masyarakat kami?”
Saya tercenung beberapa lama, tak ingin memberi tanggapan apa pun. Karena, semua itu memang terpampang di sekitar kita. Sebuah realitas, yang harus saya pahami dengan hati besar. Sekaligus keprihatinan.

Sebenarnya masih banyak lagi obrolan kami yang memiriskan hati, tapi tak perlu saya kemukakan di sini. Cukup kami yang merasakan. Saya bisa menerima ungkapan kritis itu dengan lapang hati, meskipun terasa sakit.

“Untungnya”, bule Eropa itu adalah seorang muslim. Sehingga saya tidak begitu malu. Meskipun ia tergolong mualaf. Baru masuk Islam. Jadi, sebenarnya waktu itu, kami sedang sama-sama melakukan ‘autocritic’. Mengkritik diri sendiri. Kami sama-sama tahu, bahwa semua itu bukan salah ajaran Islam. Tetapi perilaku umatnya yang memang belum Islami ..!
Meskipun, sungguh ini sangat memilukan hati. Kenapa umat yang didesain untuk menjadi umat terbaik ini kondisinya begini rupa.

Kenapa tidak kita ciptakan kondisi yang baik-baik, enak-enak, dan menyejukkan hati. Misalnya kenapa tidak muncul penemuan-penemuan sains dan teknologi yang bermanfaat buat masyarakat dunia oleh ilmuwan-ilmuwan muslim? Atau, kenapa tidak kita munculkan jihad untuk memperbaiki kembali ekosistem dan lingkungan hidup yang semakin rusak, dan menyengsarakan penduduk bumi?

Atau bagaimana kita bisa menciptakan SDM-SDM berkualitas dunia lewat sistem pendidikan yang Islami dan berwawasan masa depan yang sarat dengan sains dan teknologi. Bagaimana pula membangun solidaritas terhadap kaum miskin dan mengentas anak-anak terlantar dalam kerangka yang diajarkan oleh Al Qur’an.

Atau, bagaimana kita bisa menyatukan kembali persaudaraan Islam atas kelompok-kelompok yang terpecah belah di berbagai belahan dunia Islam termasuk di Indonesia sebagai negara yang umat Islamnya terbesar di dunia. Dan sebagainya ..

Mari kita mengkritisi diri sendiri lebih jauh. Kita coba bercermin ke segala penjuru untuk memahami wajah kita dewasa ini. Ke masa lalu, ke masa depan, maupun ke sekitar kita, kini. Untuk apa? Untuk mencari tahu, kenapa wajah kita yang seharusnya mempesona, tidak lagi menarik seperti yang seharusnya ..

Dan jika, kemudian kita menemukan wajah kita banyak noda atau bahkan bopeng-bopeng, janganlah cermin itu yang kita pecah. Marilah bersama-sama kita obati diri dan wajah ini, kita berupaya mencari jalan keluarnya dengan besar hati dan penuh kesabaran, sambil memohon petunjuk kepada-Nya ..

Mudah-mudahan Allah berkenan mengampuni dosa-dosa kita, dan membimbing kita semua untuk menjadi umat teladan, sebagaimana di jaman Rasulullah SAW. Ya, menjadi umat terbaik di muka Bumi, seperti yang telah digambarkan oleh Allah di dalam Al Qur’an Al Karim ..

Kamis, 15 September 2011

MENGKAJI SURAT AL-FATIHAH

Oleh Syekh Subakir di JERNIH (Berkas)
15 September 2011 pukul 6:55 

Surat Al-Fatihah (Surat Pembuka) adalah surah yang paling populer bagi umat Islam, dikarenakan surat ini adalah bacaan wajib di saat kita shalat, dan juga surat yang paling sering dibaca pada saat berdoa. Surah Al-Fatihah disebut juga sebagai induk dari segala surat dalam kitab suci Al Qur'an, dikarenakan surat ini memuat pokok-pokok isi dalam keseluruhan Al Qur'an.

Saya yakin 90% pemeluk agama Islam hafal luar kepala ketujuh ayat dalam Al-Fatihah. Pertanyaannya: Sudahkah kita mengaji (baca: mengkaji) secara sungguh-sungguh isi dari surat Al-Fatihah ini? Mengaji dalam arti tidak hanya menghafal atau membaca ayat-ayat tersebut dengan lantang dan cepat, melainkan benar-benar mengerti dan mendalami isi surat yang luar biasa ini. 

Saya khawatir bahwa sebagian dari umat Islam kurang mendalami isi dari surat ini. Jangankan mendalami, mengerti terjemahannya saja mungkin tidak! Jadilah ketujuh ayat itu meluncur dari bibir kita pada setiap shalat dan do'a, namun tanpa makna. Tidaklah heran juga ketika melihat betapa sesungguhnya umat kita jauh dari pesan-pesan Al Qur'an. Padahal jika kita memahami, sesungguhnya surat Al-Fatihah adalah doa yang sangat indah, dan merupakan dasar bagi kita untuk mendalami hikmah dalam Al Qur'an, yang insya Allah akan membawa dampak yang baik bagi kehidupan kita!

Berikut terjemahan Indonesia pada Surat Al-Fatihah :

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
3. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
4. Yang menguasai hari pembalasan.
5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Mari kita mengaji sejenak surat dalam Al Qur'an yang begitu "familiar" ini!

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bahwa hidup ini adalah untuk mengenal-Nya dengan baik, dan untuk kembali kepada-Nya dengan baik. Maka dari itu kita sebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang pada setiap hembusan nafas kita. Kita berbuat karena Allah. Kita berucap karena Allah. Kita belajar karena Allah. Kita bekerja karena Allah. Kita berperang karena Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan adalah demi mengharapkan ridha-Nya semata.
Maka jika kita menyadari hal ini, insya Allah kita akan benar-benar menjaga pikiran, ucapan, perbuatan, dan perilaku kita dalam jalan Allah, sehingga menghasilkan manusia yang berkepribadian baik dan bermanfaat bagi alam semesta.

2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Penegasan akan keberadaan Allah sebagai Tuhan semesta alam. Bahwa alam semesta ini tercipta atas kekuasaan-Nya. Dan tidak ada penguasa alam semesta ini melainkan Allah semata. Maka dari itu kita diperintahkan untuk terus mengamati dan mempelajari rahasia alam semesta, sehingga kita akan mengerti tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Semakin kita mengerti rahasia alam semesta, maka semakin kita mengagumi kebesaran-Nya. Ungkapkan kekaguman anda dengan memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya, atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita semua. 

3. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Penegasan sekali lagi sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang!
Luar biasa bukan, kalimat ini ditegaskan hingga dua kali dalam satu surat pendek ini! Apa artinya? Bahwa alam semesta ini ada di dalam kekuasaan Dzat Maha Besar yang memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah adalah Dzat Maha Tinggi yang senantiasa akan melimpahkan kasih sayang dan ampunan kepada manusia yang bodoh dan lemah.
Oleh karena itu, jika pemahaman agama kita sampai pada kesimpulan bahwa Allah adalah Tuhan yang pemarah, penghukum, dan kejam, maka anda perlu berpikir ulang terhadap pemahaman anda! Ketika kita menyadari bahwa Allah sangat mengutamakan sifat kasih sayang, maka sebagai makhluk-Nya, kita wajib menebar kasih sayang kepada alam semesta ini. Berikan kasih sayang kepada orang tua kita, anak-anak kita, istri kita, keluarga kita, sahabat kita, tetangga kita, sesama manusia, sesama makhluk hidup, kepada lingkungan. Itulah hakikat Islam yang sebenarnya yaitu damai. 

4. Yang menguasai hari pembalasan.

Kita diingatkan oleh Allah akan adanya hari pembalasan setelah peristiwa kebangkitan. Meskipun Allah Maha Pengasih dan Penyayang, tentu Dia Maha Adil. Hakim seadil-adilnya! Kebaikan akan dibalas dengan nikmat surga, dan kejahatan akan dibalas dengan azab neraka.
Oleh karena itu Allah memperingatkan kita untuk berhati-hati dalam menjalani hidup di dunia ini. Jangan berlebihan, jangan sewenang-wenang, jangan berbuat jahat karena hidup kita tidak benar-benar berakhir dengan adanya kematian! Semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak!

5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Bahwa tidak ada yang patut disembah melainkan Allah dalam arti yang sebenar-benarnya. Tidak hanya menyembah selain Allah dalam konteks ibadah ritual, akan tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Masih banyak di antara kita yang shalatnya rajin, akan tetapi dalam keseharian memilih untuk bertuhan kepada ego, uang, jabatan, dan popularitas.
Memohon pertolongan hanya kepada Allah semata. Bukan berarti kita harus menolak pertolongan dari manusia, makhluk hidup lain, atau alat-alat bantu. Akan tetapi segala pertolongan itu harus kita pahami sebagai kepanjangan tangan Allah. Sehingga dalam setiap pertolongan yang kita dapatkan tidak pernah lupa kita bersyukur kepada Allah dengan menebar kebaikan yang lebih luas lagi.  

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Manusia diciptakan Allah untuk mengarungi kehidupan dunia dengan berbagai godaan dan gangguan. Tentunya kita berharap dapat menjalani kehidupan itu di jalan yang benar, yang akan mengantar kita kepada Allah dalam keadaan baik. Tidak henti-hentinya kita panjatkan doa ini, sebagai bukti kelemahan kita ini di hadapan-Nya. Allah akan selalu membuka kebenaran demi kebenaran kepada hamba-Nya yang tulus ikhlas. Kita akan menyadari bahwa kebenaran yang kita pahami tidaklah mutlak, maka dari itu kita akan selalu haus mencari kebenaran.
Dengan demikian insya Allah kita akan terhindar dari sifat sombong, yang merasa paling tahu dan paling mengerti kebenaran, sehingga meremehkan yang lain bahkan menganggap sesat. 

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Sebagian ahli tafsir menafsirkan kaum yang dimurkai adalah Yahudi, sedangkan kaum yang tersesat adalah Nasrani. Saya kurang sependapat dengan tafsir yang cenderung menyederhanakan permasalahan. Mudah saja tafsir ini digugurkan. Saya akan bertanya, bagaimana dengan umat Buddha? Umat Hindu? Atheis? Apakah Tuhan tidak menyadari masih ada umat-umat lain? Kenapa hanya Yahudi dan Nasrani? Maka dari itu mungkin ada penafsiran yang lebih tepat. Kaum yang dimurkai Allah berkaitan dengan perilaku buruk dan sewenang-wenang di dunia ini. Ini bisa termasuk umat Islam sendiri, yang mengaku Islam tapi perangainya sangat buruk. Tentu Allah akan murka terhadap orang-orang semacam ini. Begitu pula dengan orang-orang yang tersesat. Kesesatan bisa terjadi oleh karena kesombongan dan keengganan menggunakan akal pikirannya dengan baik sehingga menjadi bodoh. Sombong dan bodoh menjadikan orang mudah terjerumus pada kesesatan. Kesesatan pada manusia bisa dilihat dari buahnya. Ia akan merasa jauh dari Tuhan, bahkan menambah kedurhakaannya dengan mengingkari adanya Tuhan.
Maka dari itu orang yang dikatakan diberikan kenikmatan di sini adalah orang-orang yang benar-benar mengerti hakikat dalam berislam. Bukan Islam kulit luarnya saja, bukan pula orang yang hanya "berilmu Islam". Dengan demikian efeknya akan luar biasa. Ia akan menjadi merasa dekat dengan Allah. Hatinya akan tenteram damai. Pikirannya terbuka, kecerdasannya terasah. Sifatnya penyabar dan suka tolong menolong. Jujur, adil, dan tegas dalam melawan kejahatan di dunia ini. Itulah nikmat yang akan kita rasakan jika kita benar-benar tahu pesan Islam yang sesungguhnya, dan tentu saja.. menjalaninya dengan sepenuh hati karena rasa cinta kepada Dzat Yang Maha Mencintai umat manusia.. Allah Yang Maha Besar!

Mudah-mudahan dengan penjelasan yang singkat dan sederhana ini, kita bisa menyadari dan memahami petunjuk-petunjuk Allah, sehingga kita benar-benar menjadi manusia yang bermanfaat bagi semesta alam!

Allahu'alam ..


Semoga bermanfaat!