Minggu, 26 Desember 2010

DILARANG SYIRIK, DIPERINTAH SYIAR

Perbuatan yang paling ‘dibenci’ Allah adalah syirik alias menyekutukan Allah dengan Tuhan lain. Dalam Al Qur’an perbuatan syirik disebut sebagai dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah. Kecuali, pelakunya bertaubat dan kemudian hanya bertuhan kepada Allah saja.

Maka, orang-orang musyrik yang dulu menyembah berhala di zaman jahiliyah pun, ketika kemudian bertuhan kepada Allah, mereka memperoleh ampunan dari Sang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Artinya, tidak diampuninya dosa syirik itu adalah ketika seseorang masih terus melakukan atau sedang menjalankannya. Jika sudah tidak lagi, tentu saja akan diampuni-Nya, karena Dia adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

QS. Al Furqaan (25): 70
kecuali orang-orang yang bertaubat (dari kemusyrikannya), beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

QS. Al Israa’ (17): 25
Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.

Pada hakekatnya, seluruh proses keberagamaan seorang manusia adalah beranjak dari musyrik menuju muslim. Musyrik itu menyekutukan Allah, sedangkan muslim adalah berserah diri hanya kepada-Nya. Persis seperti yang diucapkan oleh nabi Ibrahim sebagai The Founding Father agama Islam, yang kemudian kita abadikan dalam shalat.

QS. Al An’aam (6): 103
Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama muslim (berserah diri kepada Allah)".

Bentuk kemusryikan sungguh sangat beragam. Ada yang musyrik dengan cara menyembah patung berhala. Ada yang musyrik dengan menjadikan manusia dan malaikat sebagai bagian dari unsur ketuhanan. Ada yang musyrik dengan menjadikan harta benda, kekuasaan, dan segala kepentingannya sebagai ‘tuhan-tuhan’ yang tak dinamainya tuhan, tetapi pada prakteknya dia telah bertuhan kepada segala macam selain Allah itu.

Setiap kita sebenarnya memiliki kadar kemusyrikan dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan itu tidak akan diampuni-Nya ketika kita tidak segera beranjak menuju muslim sejati. Cobalah tanyakan pada diri sendiri: sudahkah Anda benar-benar terbebas dari kemusyrikan? Dan sudah bisa berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menjalani hidup ini? Dalam suka maupun duka?

Ketika harta benda Anda ludes dimakan api misalnya, dan seluruh tabungan di bank lenyap karena banknya bangkrut, gemetarkah Anda? Putus harapankah Anda? Ataukah bisa bertawakal dan berserah diri kepada-Nya?

Ketika orang yang sangat Anda cintai, tiba-tiba pergi meninggalkan Anda untuk selamanya, lemaskah persendian tubuh Anda, larut dalam kesedihan yang mendalam dan putus asa? Ataukah bisa bersabar dan bersandar kepada-Nya?

Ketika segala fasilitas dan kenyamanan yang Anda nikmati sekarang tiba-tiba runtuh, merasa habiskah Anda? Ataukah, masih bisa terus tersenyum sambil bekerja keras kembali di jalan Allah, Sang Pemurah..?

Jawabannya akan menggambarkan seberapa besar tingkat kemusyrikan kita kepada Allah. Semakin merasa kehilangan atas segala sesuatu itu, maka semakin besar rasa kebergantungan kita kepada ’tuhan’ selain Allah. Semakin musyriklah kita. Sebaliknya, semakin tawakal dan sabar dalam menghadapi segala permainan hidup ini, semakin besar pula keyakinan kita kepada-Nya, insya Allah telah bertauhid secara lebih sempurna. Berarti, kita telah berhasil menerapkan makna laa ilaaha illallaah dalam hidup, bahwa ’’tiada sesuatu pun yang layak dijadikan sebagai tempat bergantung, kecuali Allah...’’

Insya Allah kita semua sudah paham dengan substansi tauhid. Bahwa kita dilarang melakukan kemusyrikan dalam bentuk apa pun, sekecil apa pun, karena yang demikian itu bisa mengotori penghambaan kita kepada Allah.

Akan tetapi perintah bertauhid atau larangan syirik ini tidak berdiri sendiri. Allah juga memerintahkan kita untuk melakukan syiar. Dua hal ini ~ bertauhid dan bersyiar ~ bagaikan dua sisi yang berbeda dalam satu keping mata uang yang sama. Seluruh nabi dan utusan Allah perintah utamanya hanya dua, yakni: ’’ajak manusia untuk bertauhid, dengan cara syiar yang baik...’’. Keduanya dilakukan dalam ’satu tarikan nafas’.

Lantas siapakah yang harus kita syiari? Apakah umat Islam saja? Ataukah seluruh umat manusia? Dengan mudah kita bisa mengetahui jawabannya, dari pertanyaan ini: untuk siapakah al Qur’an diturunkan dan untuk siapakah Nabi Muhammad diutus? Apakah untuk umat Islam saja, ataukah untuk seluruh manusia? Juga, untuk siapakah misi rahmatan lil alamin ini diwahyukan? Untuk umat Islam saja ataukah untuk seluruh manusia?

QS. An Nisaa’ (4): 174
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an).

QS. Al Anbiyaa’ (21): 107
Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Ternyata, Allah menjawab dengan sangat gamblang di dalam firman-firman-Nya, bahwa misi Rasulullah dan Al Qur’an adalah untuk menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Bahkan seluruh alam. Berarti, Islam harus disyiarkan kepada siapa saja. Bukan hanya kepada umat Islam. Justru yang belum Islam. Yang belum berserah diri kepada Allah. Yang belum bertuhan kepada-Nya. Yang belum mengakui Tuhan sesungguhnya, Sang Penguasa alam semesta.

Lantas bagaimana caranya? Apakah dengan cara memusuhi mereka yang belum Islam? Apakah harus membuat gap psikologis yang tidak perlu? Apakah dengan menjelek-jelekkan siapa saja yang belum bertuhan kepada Allah? Apakah dengan menjauhi mereka?

Ataukah sebaliknya? Dengan menunjukkan kehangatan dalam persahabatan. Dengan menunjukkan kepemaafan. Dengan menunjukkan sifat suka menolong dan berbuat kebajikan. Dengan memberikan teladan yang baik dalam kehidupan. Dengan argumentasi-argumentasi yang masuk akal dan bisa diterima semua pihak secara terbuka.

Sungguh akan menjadi ’sangat aneh’, kalau kita ingin syiar tapi sambil terus membuat gap psikologis, membangun sikap permusuhan, dan menjauhi orang-orang yang ingin kita syiari...(?)

Bukankah, Rasulullah pun malah mendoakan orang-orang musyrik agar mereka menjadi muslim? Dan doa Rasulullah itu dikabulkan Allah. Maka, Umar bin Khaththab dan Hamzah yang tokoh musyrikin Quraisy pun masuk Islam. Bahkan menjadi pahlawan Islam yang luar biasa tangguhnya.

Larangan berdoa untuk kaum musyrikin itu adalah memohonkan ampunan, saat mereka masih berbuat kemusyrikan. Ya tentu saja. Lha wong mereka tidak bertuhan kepada Allah, kok dimintakan ampun kepada Allah. Musy ma’ul kata orang Mesir, alias nggak masuk akal. Tentu saja Allah tidak akan mengampuninya, karena mereka kan memang tidak bertuhan kepada-Nya? Maka kita menjadi paham, ketika Allah mengingatkan para nabi yang karena kelembutannya masih memohonkan ampunan buat mereka. Yakni, Nabi Ibrahim terhadap ayahnya, Nabi Nuh terhadap anaknya, dan nabi Muhammad terhadap pamannya.

Akan tetapi, bagi para penyembah berhala yang sudah menjalankan Tauhid dengan sebenar-benarnya ~ hanya bertuhan kepada Allah ~ sungguh ampunan Allah  sedang menunggu mereka di depan pintu surga...

Maka, dalam konteks ini marilah kita tebarkan semangat rahmatan lil alamin setulus-tulusnya bagi seluruh umat manusia. Bukan hanya kepada saudara-saudara kita yang muslim. Melainkan juga kepada kawan-kawan dan sahabat-sahabat kita yang belum Islam. Seluruh umat manusia. Sambil terus berdoa kepada Allah mudah-mudahan umat akhir zaman ini mendapat petunjuk dari Allah Sang Maha Bijaksana untuk bertuhan hanya kepada Sang Penguasa sejati: Allah azza wajalla...

Bisa kan, kita menyiarkan agama rahmatan lil alamin ini tanpa harus mengorbankan ketauhidan? Kecuali, kalau kita belum yakin betul siapa Tuhan sejati Penguasa Jagat Raya yang hebat ini ... :)

QS. Al Hajj (22): 67
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka tidak sepantasnya mereka berbantahan denganmu dalam urusan ini. Dan serulah mereka kepada Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.

QS. Asy Syuura (42): 15
Maka dari itu, serulah (mereka ke jalan Allah) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) bakal kembali"

QS. Ali Imran (3): 159
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
 
Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~


oleh Agus Mustofa pada 25 Desember 2010 pukul 18:03


Sabtu, 25 Desember 2010

MENCOBA MEMAHAMI EKSISTENSI SEMESTA

Ada sebuah film presentasi yang menunjukkan bahwa ternyata manusia hanyalah sebutir debu dalam eksistensi alam semesta. Sebuah kamera dipasang mengarah ke sosok manusia pada jarak 1 meter. Maka, sosok manusia itu pun kelihatan cukup besar di dalam monitor kamera. Closed up. Lantas, kamera itu dijauhkan perlahan ke arah angkasa, secara terus menerus.

Pada jarak 10 meter, sosok manusia itu tidak lagi mendominasi layar monitor. Selain si manusia, ternyata kelihatanlah pemandangan di sekitarnya. Ada batu, pohon, kursi, dan taman. Lantas, kamera itu dijauhkan lagi menjadi setinggi 100 meter. Sang manusia menjadi kelihatan semakin kecil, berada di dalam sebuah taman yang besar. Yang lebih dominan adalah pepohonan dan benda-benda besar di sekitarnya.

Pada jarak 1000 meter alias 1 km, sosok manusia itu mulai tidak jelas. Hanya terlihat sebagai bintik kecil yang bergerak-gerak. Dan tamannya pun mulai kelihatan kecil pula. Yang mulai kelihatan dominan adalah kawasan kota. Kemudian, kamera ditarik menjauh lagi ke angkasa. Pada jarak 10 km, kawasan itu pun menjadi semakin kecil. Yang tampak adalah sebuah kota dengan permukimannya. Sedangkan sang manusia, sudah tidak kelihatan lagi...!

Jika kamera itu terus dinaikkan ke angkasa, pada jarak 1000 km, kamera sudah berada di lapisan paling luar atmosfer Bumi. Yang kelihatan di layar monitornya adalah permukaan planet Bumi yang melengkung. Dan, seterusnya semakin jauh, yang kelihatan adalah planet Bumi beserta satelitnya, yakni Bulan.

Kemudian berturut-turut, semakin jauh kamera, akan kelihatan tata surya yang berisi delapan planet dengan lintasan orbitnya dan berbagai satelit, asteroid, dan bebatuan angkasa. Lantas, kelihatanlah matahari sebagai pusatnya. Dan bintang-bintang yang bertaburan berjumlah miliaran. Yang ketika semakin jauh, akan kelihatan sebagai bintik-bintik cahaya terang dalam kegelapan alam semesta. Berkelap-kelip di dalam jagad raya yang tak kelihatan batasnya.

Semakin menjauh, di jarak sekitar 1000.000.000.000.000.000 Km (10^18 km), kelihatanlah galaksi Bima Sakti. Yakni gerombolan matahari, dimana tatasurya dan Bumi kita berada. Dimana, sosok manusia yang kita amati tersebut telah ’terlupakan’ karena sudah tak ada bekasnya. Sudah lenyap dari pandangan mata. Teruskanlah, kamera semakin menjauh ke kedalaman langit, pada jarak 100.000.000.000.000.000.000 (10^20 Km) dan selebihnya, yang terlihat adalah samudera kegelapan alam semesta yang cuma berisi bintik-bintik cahaya disana-sini, yang kita kenal sebagai bintang atau pun gugusan bintang atau pun galaksi-galaksi yang berkedap-kedip lemah.

Ternyata kawasan gelap alam semesta demikian luasnya. Jauh lebih luas dibandingkan kawasan terangnya. Dengan kata lain, misteri kegelapan realitas ini jauh lebih dahsyat tak terukur dibandingkan dengan segala yang sudah diketahui oleh manusia. Ya, ternyata alam semesta lebih didominasi oleh ’kegelapan malam’ dibandingkan terangnya cahaya...

Sekarang, marilah kameranya kita gerakkan mendekat kembali ke Bumi. Maka, secara berurutan kita akan melihat benda-benda yang kita tinggalkan tadi mendekat kembali. Kelihatanlah miliaran galaksi dalam jarak yang semakin dekat. Kemudian muncul galaksi Bima Sakti. Disusul gerombolan tatasurya, planet-planet dan satelitnya. Dan akhirnya sampai di bagian luar planet Bumi.

Kamera terus mendekat pada jarak 1000 km, saat ia berada di bagian luar atmosfer. Terus mendekat sejarak 100 km, 10 km, 1 km, 10 meter, dan akhirnya 1 meter, dimana sosok manusia terlihat closed up kembali...

Tapi, jangan berhenti. Dekatkan terus kamera itu ke arah sosok manusia tersebut, sehingga berjarak 10 cm. Apakah yang terlihat? Jika resolusi lensanya sangat bagus, Anda akan bisa melihat permukaan kasar kulit manusia. Pori-porinya dan bulu-bulu rambut di permukaan kulitnya.

Dekatkan lagi, pada jarak 1 cm. Maka, pori-porinya akan semakin kelihatan jelas. Dan keriput-keriput kulit kita terlihat demikian gamblang. Dekatkan lagi sejarak 1 mm. Jika lensanya didesain beresolusi sangat tinggi, akan kelihatan jaringan sel-sel tubuh kita. Mendekatlah sampai sejarak 10^(-4) meter alias 1/10.000 meter alias 100 micron akan semakin jelas ’betapa jeleknya’ kulit kita yang kelihatan halus itu. Dan kemudian kita akan mulai bisa melihat sel-sel tubuh kita sendiri.

Pada jarak 1 micron alias 1/sejuta meter akan kelihatan isi selnya. Bahkan mulai kelihatan pilinan-pilinan chromosom dan untai genetika. Itu berlangsung sampai sejarak 10^(-8) alias 100 angstroms. Jika kita mendekat lagi sampai sejarak 10 angstroms, mulai kelihatan gerombolan molekul-molekul penyusun sel. Dan pada jarak yang lebih dekat lagi sampai 0,01 Angstrom kita akan bertemu dengan atom-atom yang memiliki ruang-ruang gelap antar-orbit elektronnya. Mirip saat berada di luar angkasa, di jarak antar-planet, bintang dan galaksi.

Lebih dekat dari itu, pada jarak 0,001 A, kita mulai bisa melihat isi atom yang terdiri dari partikel-partikel subatomik. Semakin mendekati, di jarak 0,0001 A, kita akan bertemu dengan penyusun inti atom seperti proton, neutron, dan berbagai partikel elementer lainnya. Jika diteruskan lagi lebih dekat dari 0,00001 A, maka yang tampak hanyalah kegelapan alam mikrokosmos. Persis seperti kegelapan alam makrokosmos di luar angkasa sana.

Jadi, akhir dari perjalanan Makrokosmos ke luar angkasa itu ternyata hanya akan mempertemukan kita dengan kegelapan tiada bertepi, seluas miliaran tahun cahaya. Sebaliknya, perjalanan ke mikrokosmos juga ternyata berakhir dengan kegelapan yang tidak ada batasnya, sampai mendekati ketiadaan di ukuran nol ruang alam mikro..!

Ke luar angkasa luas bertemu dengan Misteri yang sangat mencengangkan, ke dalam alam mikro juga bertemu dengan Misteri yang menggiriskan. Kesana bertemu ’Kegelapan’ dan ketidak-tahuan, kesini bertemu ’Kegelapan’ dan ketidak-mengertian. Menjauh bertemu dengan ’Kekosongan’, dan mendekat juga bertemu dengan ’Kekosongan’.

Dan di sepanjang perjalanan dari ’Kekosongan’ menuju ’Kekosongan’ itu kita menemukan ’Isi’ alam semesta yang teratur demikian rapi, dalam keseimbangan dan harmoni yang tiada terkira indahnya. Oh, siapakah Dia yang sedang ’bermain-main’ mengisi segala kekosongan realitas alam semesta ini? Dimana Dia sedang menunjukkan kedahsyatan Kekuasaan yang tiada terkira. Dialah Sang Maha Berilmu lagi Maha Bijaksana: Allah Azza wajalla...

QS. Al Mulk (67): 3-4
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak harmonis?
Kemudian cermatilah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat, bahkan penglihatanmu akan kembali dalam keadaan yang meletihkan.

QS.Adz Dzaariyat (51): 20-21
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (eksistensi Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

QS. Al Infithaar (82): 6-7
Hai manusia, apakah yang telah membuatmu ingkar terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu demikian harmonis?
 
Wallahu a'lam bishshawab
~ salam ~


oleh Agus Mustofa pada 24 Desember 2010 pukul 20:26


Sabtu, 11 Desember 2010

BENCANA, YANG TAK BERDOSA PUN IKUT TERKENA


Betapa beratnya tertimpa bencana. Harta, benda, nyawa, dan segala yang kita cintai bisa hilang seketika. Ujiankah atau siksa? Itulah pertanyaan yang sering berkecamuk dalam hati dan pikiran kita. Tapi, barangsiapa bisa mengambil hikmah dari bencana, mereka bakal bangkit menjadi umat yang kuat dalam menyusuri drama kehidupan untuk menuju kepada ridha-Nya.

Banyak yang salah kaprah dan ’agak ceroboh’ dalam melihat sebuah bencana. Ada yang langsung memvonis sebagai azab Allah. Ada pula yang ’menyelamatkan diri’ dengan mengatakan ini sekedar ujian, padahal dia sebenarnya ikut menjadi penyebab bencana. Ketidakjelasan dalam menyimpulkan sebuah musibah atau bencana akan membuat kita tidak bisa mengambil hikmah yang ada di dalamnya.

Jika kita mau mengambil sudut pandang holistik, Insya Allah kita bisa melihat sebuah bencana secara lebih proporsional. Bahwa ada 2 jenis bencana yang bisa melanda manusia. Yang pertama adalah, bencana yang bersifat alamiah. Dan yang kedua, adalah bencana yang disebabkan oleh kesalahan manusia dalam mengelola alam.

Bencana yang bersifat alamiah, adalah bencana yang memang sudah menjadi bawaan alam. Bahwa alam semesta ini memang sedang menuju pada kerusakan yang semakin hari semakin parah. Ibarat manusia, usianya sudah semakin tua. Otot-ototnya semakin kaku, persendiannya bertambah lemah, otaknya mulai pikun, dan organ-organ di dalam tubuhnya mulai mengalami mal fungsi. Maka, bermunculanlah penyakit degenerative alias penyakit tua, yang tidak bisa tidak bakal mengenainya.

Alam pun mengalami hal yang serupa. Bumi kita ini sudah sangat tua. Diperkirakan sudah berumur sekitar 5 miliar tahun. Sudah mulai ’batuk-batuk’, dan ’otot-otot’ maupun ’persendiannya’ mulai lemah. Jadi, jangan heran semakin hari semakin banyak bencana dimana-mana. Mulai dari angin badai, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, berbagai anomali iklim, dan lain sebagainya. Memang sudah bawaan alam.

Bukan hanya bencana alam, melainkan juga musibah yang lain seperti kecelakaan transportasi, kekacauan sosial-ekonomi-politik, munculnya berbagai kejahatan, dan lain sebagainya. Inilah yang di dalam Fisika disebut sebagai peningkatan Entropi alam. Yakni, bertambahnya kekacauan seiring dengan bertambahnya usia alam semesta.

Rasulullah pun sudah memprediksi sejak awal, bahwa semakin mendekati hari akhir, tingkat kekacauan dan kejahatan akan semakin besar. Di segala bidang. Sehingga, kata Rasulullah, berpegang pada petunjuk agama akan menjadi sedemikian beratnya. Bagaikan memegang bara api. Digenggam terasa panas, dilepas kehilangan pegangan. Tapi sungguh, siapa yang tetap istiqomah berpegang tali Allah akan selamat dunia dan akhirat.

QS. Al Baqarah (2): 256
... barangsiapa tidak mengikuti Thaghut (selain Allah) dan beriman hanya kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

QS. Luqman (31): 22
Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebajikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

Jadi, kita harus sudah bersiap diri bahwa ke masa depan tingkat kekacauan akan semakin besar. Tapi, tidak usah gelisah dan khawatir, karena selama kita tetap berpegang teguh kepada petunjuk Allah, Insya Allah akan selamat. Istilah ayat di atas adalah: hanya beriman kepada Allah, berserah diri, dan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Segala urusan berada di tangan-Nya, dan terjadi sesuai kehendak-Nya.

Jenis bencana yang kedua, adalah bencana yang ’semata-mata’ disebabkan oleh manusia. Misalnya, banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan, kekacauan musim disebabkan oleh global warming, berbagai kekacauan dan kecelakaan, dan semacamnya. Di satu sisi, dipengaruhi oleh entropi alam semesta yang meningkat sehingga ada ’dorongan’ munculnya kekacauan, disisi lain dalam waktu bersamaan, manusia menambah ’dorongan’ itu dengan perbuatannya.

Meskipun, kondisi alam semakin tua, sebenarnya jika manusia banyak berbuat kebajikan dan tidak serakah dalam menjalani hidupnya, jenis bencana yang kedua ini bisa diminimalisir. Kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, global warming, dan semacamnya itu mestinya tidak harus terjadi separah ini.

Beberapa penyebab yang memicu bencana-bencana ’buatan’ ini adalah perusakan hutan yang demikian parah, penggunaan bahan-bahan gas yang merusak lapisan ozon, emisi panas dari industri dan transportasi yang berlebihan, dan sebagainya. Sehingga, mengganggu keseimbangan alam. Selain itu, eksploitasi bahan-bahan tambang dari dalam perut Bumi yang demikian brutal dalam dua abad terakhir, juga memperparah ketidak-seimbangan planet ini.

Ibarat ban mobil, putaran bumi butuh keseimbangan. Jika ban mobil sudah tidak seimbang, maka putarannya akan menyebabkan mobil bergetar. Dan kemudian, harus dilakukan balancing terhadap bannya, dengan menambahkan lempeng-lempeng timah di velg mobil itu. Dengan demikian, ban akan berputar seimbang kembali.

Bayangkan, jika itu terjadi pada bumi yang sedang berputar kencang dengan kecepatan rotasi sekitar 1600 km per jam. Tentu akan terjadi ketidak seimbangan di dalamnya. Memang tidak seterasa pada bodi mobil, karena ukuran bumi sangat besar dibandingkan dengan kita sebagai penghuni. Tetapi akan muncul getaran pada bagian dalam bumi, yang bisa menyebabkan gerakan-gerakan lempeng bumi dan magma lebih aktif dari sebelumnya.

Bumi berusaha mengembalikan keseimbangan dirinya, karena alam memang memiliki mekanisme keseimbangan dinamis. Dan yang paling cepat bereaksi adalah bagian-bagian yang cair, lembek, atau mengambang. Mereka akan bergerak menuju ke tempat-tempat tertentu untuk membangun keseimbangan.

Maka, proses mencari keseimbangan kembali itu akan menyebabkan magma dalam perut bumi, lempeng tektonik, dan perilaku air menjadi lebih aktif. Sehingga memicu munculnya gempa tektonik lebih sering dari sebelumnya, gunung-gunung lebih ’bergairah’ untuk menghasilkan magma dan kemudian meletus, kemungkinan terjadi tsunami meningkat, serta banjir dimana-mana akibat kacaunya pergerakan air dan hujan. Ini akan terus terjadi sampai munculnya keseimbangan baru.

QS. Ruum (30): 41
Telah Nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Jadi, meskipun berbagai bencana itu disebabkan oleh alam yang sedang mengalami kenaikan entropi, manusia juga memiliki saham atas terjadinya semua bencana ini. Disadari maupun tanpa disadari. Yang demikian ini, baru akan kelihatan jika kita mau melihat penyebabnya secara holistik.

Kebanyakan kita, terjebak pada penglihatan parsial atau sebagian-sebagian. Sehingga, kita seringkali mengambinghitamkan alam belaka. Dan menghilangkan faktor manusia. Khususnya, kejadian-kejadian di abad-abad terakhir. Namun, para ahli dan pemimpin dunia kini sudah melihat korelasi yang demikian erat antara kerusakan planet Bumi dengan kesalahan menejemen yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, lantas muncul berbagai upaya untuk menyelamatkan Bumi. Sayangnya, kepentingan politik dan keserakahan ekonomi seringkali masih mengalahkan semua upaya itu.

Lantas, bagaimanakah menyikapi bencana? Apakah ini ujian ataukan Azab Allah? Menurut saya keduanya terjadi pada setiap ada bencana. Bergantung dari sisi mana kita melihatnya dengan penuh kejujuran. Jika kita memang bersalah dalam bencana itu, tentu kita harus melihatnya sebagai azab alias balasan atas perbuatan kita. Supaya kita segera menyadari bahwa ada yang salah dengan perbuatan kita.

Persis seperti peringatan ayat di atas. ’’Kami rasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, agar mereka segera kembali...”.
Begitulah kata Allah. Sebab, kalau tidak segera kita sadari, sungguh bencana berikutnya akan lebih besar lagi. Dan akan memakan korban lebih banyak dari yang sudah terjadi.

Dan celakanya, dampaknya bukan hanya mengena kepada pelaku kerusakan, melainkan akan menimpa juga kepada orang-orang yang tidak bersalah. Persis seperti yang diceritakan Allah dalam ayat berikut ini.

QS. Al Anfaal (8): 25
Dan peliharalah dirimu dari azab yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Karena itu, kita diperintahkan Allah untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, mengajak pada kebaikan dan mencegah kejahatan. Itulah penyebabnya. Supaya jangan sampai terjadi kejahatan yang dampaknya akan menimpa kita semua, meskipun kita tidak ikut-ikut berbuat.

Jika ada orang yang merusak hutan, cegahlah. Karena jika tidak, maka efek banjir dan tanah longsornya bukan hanya menimpa orang yang merusah hutan. Melainkan semua orang yang berada di dekatnya. Semakin rusak, semakin besar akibatnya. Dan bersifat kolektif, bukan hanya orang per orang.

Ini mirip dengan penumpang perahu yang sedang berlayar di lautan. Kalau ada seorang penumpang yang mau membocori perahu, cegahlah. Sebab kalau tidak dicegah, dan perahunya tenggelam, yang tenggelam bukan hanya si pembocor perahu. Melainkan seluruh penumpang. Nah, kita hidup di sebuah planet yang sama. Jika Bumi ini mengalami kerusakan, maka orang yang tidak berdosa pun akan ikut terkena bencana.

Ketika semua itu menimpa kita, bolehlah itu bisa disebut sebagai ujian. Karena, kita tidak ikut berbuat kok ikut menerima akibatnya...! Maka, siksa atau ujian itu bukan dilihat dari bencananya. Melainkan dari sisi kita. Apakah Anda masuk dalam klasifikasi pelaku kerusakan sehingga menimbulkan bencana, ataukah hanya sebagai korban saja. Keduanya tentu berbeda di mata Allah.

Jika ada seseorang yang sedang mencuri saat terjadi Tsunami, dan kemudian ia mati di dalamnya, tentu saja dia mati dalam keadaan berdosa. Sebaliknya, jika ada orang yang mati di dalamnya saat dia sedang berbuat kebajikan, tentu dia mati dalam keadaan khusnul khatimah. Tidak seperti sebagian pendapat yang kita dengar, bahwa orang yang mati dalam sebuah bencana adalah mati dalam keadaan syahid... :(

QS. Asy Syuura (42): 30-31
Dan segala musibah yang menimpa kalian (secara kolektif), adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan itu). Dan kalian tidak akan dapat melepaskan diri di muka bumi, dan kalian tidak akan memperoleh seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong kecuali (memohon perlindungan kepada) Allah.

Dan lebih penting dari semua itu, Allah sedang mengajarkan kesabaran kepada kita dengan adanya bencana. Jangankan kita yang manusia biasa, para Nabi dan Rasul pun diuji dengan bencana. Tetapi mereka tetap teguh dan istiqomah di jalan Allah. Pantang menyerah, terus berbuat kebajikan sampai ajal datang menjemput. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang sabar, dan selalu berbuat kebajikan dalam kondisi apa pun yang sedang ia terima...

QS. Ali Imran (3): 146
Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar.

Bukan seperti orang yang dikritik Allah dalam ayat berikut ini. Yaitu, mereka yang berbangga hati dan lupa diri ketika diberi kenikmatan. Serta, berputus asa ketika diberi cobaan. Bukan. Sungguh, Allah bakal memberikan balasan terbaiknya hanya kepada orang-orang yang istiqomah dalam kebajikan dan kesabaran...

QS. Huud (11): 9-11
Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak (tahu) berterima kasih.

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; sungguh dia menjadi sangat gembira lagi berbangga diri

kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan selalu mengerjakan amal-amal kebajikan; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.

Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~


oleh Agus Mustofa pada 10 Desember 2010 pukul 14:19