Senin, 29 Oktober 2012

TASAWUF HAJI 2012 (13) ~ SA’I, PERJUANGAN TIADA HENTI ~


oleh Agus Mustofa pada 29 Oktober 2012 pukul 8:17

Lebih dari 4000 tahun yang lalu Mekah masih berupa lembah tandus tanpa penghuni. Sekelilingnya gunung bebatuan yang tak menampakkan kehidupan. Sehingga, tak ada yang mau hidup di tempat ini karena tak ada air maupun tetumbuhan yang menjadikan manusia bisa bertahan. Tapi kini, lembah tandus itu telah menjadi kota yang sangat makmur, yang setiap tahunnya dikunjungi oleh berjuta-juta manusia dari seluruh penjuru bumi.

Siapakah pendirinya? Mereka adalah keluarga Nabi Ibrahim. Khususnya Siti Hajar dan anaknya, Nabi Ismail. Dua orang ibu dan anak inilah yang telah menjadikan kawasan mengerikan itu menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang karavan. Tentu saja, dengan seizin Allah Sang Sutradara Kehidupan, setelah Nabi Ibrahim berdoa kepada-Nya agar lembah itu menjadi negeri yang penuh rezeki dan sejahtera.

QS. Ibrahim (14): 37
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung (mengunjungi) mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Syahdan Ibrahim membawa anak istrinya dari Palestina untuk ditempatkan di lembah gersang itu atas perintah Allah. Berhari-hari mereka menempuh perjalanan sejauh 1.500 kilometer, sambil membawa Ismail yang masih bayi. Ibrahim tak bercerita kepada istrinya tentang perintah Allah itu sampai mereka berada di lembah cikal bakal kota Mekah.

Sesampai disana barulah Hajar mengetahui maksud Ibrahim membawanya dalam perjalanan jauh itu. Ia begitu kaget ketika Ibrahim menyampaikan bahwa ia dan anaknya yang masih bayi itu akan ditinggalkan disana. Sementara Ibrahim sendiri akan kembali ke kawasan Palestina untuk melanjutkan syiar agama Tauhid bersama istri pertamanya, Sarah. Karena, selama ini pusat penyebaran agama Ibrahim memang berada di sekitar tanah Kan’an itu. Diantaranya, Ibrahim juga masuk ke negeri Mesir yang bersebelahan dengan kawasan Palestina.

Sebagai tokoh agama yang disegani, Ibrahim pernah memperoleh hadiah seorang budak dari penguasa Mesir, yang kemudian dibebaskan dari perbudakan. Budak berkulit hitam bernama Siti Hajar itu lantas dijadikan sebagai bagian dari keluarganya. Dikarenakan berpuluh tahun tidak juga punya anak, maka Sarah yang menjadi istri Ibrahim menyarankan agar Ibrahim menikahi Siti Hajar yang sangat baik budi pekertinya itu. Ia berharap Allah memberikan keturunan darinya sebagai penerus risalah Ibrahim. Maka, Ibrahim pun menikahi Hajar dan lahirlah putra pertamanya: Ismail.

Begitulah, sesampai di lembah tandus di pedalaman jazirah Arab itu Ibrahim menyampaikan tujuannya membawa Hajar dan Ismail. Hajar pun memandang Ibrahim dengan rasa tak percaya, bahwa ia akan ditinggalkan berdua saja. Ia melihat ke sekelilingnya, tak ada pepohonan, tak ada sumber air, tak ada kehidupan. ‘’Benarkah, kami akan engkau tinggalkan di tempat seperti ini, Ibrahim?’’ Tanya Hajar. Ibrahim tak mampu menjawab pertanyaan istrinya dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya, sambil membalikkan badan meninggalkan mereka.

Tentu saja Hajar tak puas dengan jawaban Ibrahim. Sambil menggendong anaknya ia mengikuti langkah Ibrahim yang meninggalkannya menuju ke atas bukit. Untuk kedua kalinya Hajar bertanya kepada Ibrahim, apakah ia benar-benar akan ditinggalkan di tempat yang tak ada kehidupan itu. Dan Ibrahim sekali lagi tak mampu menjawab dengan kata-kata, karena ia sendiri pun sebenarnya merasa berat meninggalkan anak semata wayang yang telah dirindukan selama puluhan tahun itu. Tapi ia menguatkan hatinya, dan kemudian menganggukkan kepalanya sambil mempercepat langkah meninggalkan anak istrinya.

Setengah berlari Hajar mengejar Ibrahim, sambil bertanya dengan nada sangat penasaran. Tapi kali ini dengan redaksi yang berbeda: ‘’Ibrahim, apakah ini perintah Allah?’’ Ibrahim semakin mempercepat langkahnya, dan lagi-lagi menganggukkan kepalanya.

Begitu Ibrahim mengiyakan bahwa ini adalah perintah Allah, sekonyong-konyong Hajar menghentikan langkahnya mengejar Ibrahim. Wanita yang dipuji-puji Sarah sebagai orang yang berbudi mulia itu mendekap erat-erat anaknya yang masih bayi. Dan, ia pun membalikkan badan menuju tempat dimana Ibrahim meninggalkannya pertama kali. Subhanallah..!

Membaca kisah ini hati saya selalu tercekat. Ada semacam sedu sedan yang naik ke kerongkongan dan menjalar ke mata, menyebabkannya terasa panas dan berkaca-kaca. Sedemikian hebatnya istri Ibrahim yang bernama Siti Hajar itu. Begitu mendengar bahwa semua ini adalah perintah Allah, mendadak sontak ia menaatinya. Sungguh sebuah keimanan yang luar biasa dahsyatnya. Mengalahkan segala ketakutan dan kekhawatiran yang mencekamnya. Ia begitu yakin, jika Allah yang menghendaki, pasti ada jaminan yang tak perlu diragukan lagi..!

Dan Ibrahim, Sang Khalilullah – Kesayangan Allah – itu pun melangkah dengan berat hati meninggalkan orang-orang yang disayanginya. Tetapi, sebelum menghilang di balik bukit dia membalikkan badannya menatap anak istrinya nun jauh di dasar lembah. Dan kemudian ia bermunajat kepada Allah dalam doa yang diabadikan di dalam kitab suci Al Qur’an sebagaimana saya kutipkan di atas. Doa bagi kesejahtean dan keselamatan istri, anak, dan keturunannya sampai di akhir zaman.

Tinggallah Siti Hajar dan Ismail yang harus berjuang mempertahankan hidupnya di padang tandus yang sangat panas itu. Maka, terjadilah apa yang tercatat dalam sejarah, bahwa Siti Hajar harus berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwa untuk mencari jalan keluar atas ujian yang diberikan kepadanya. Sampai di kali yang ke tujuh, Hajar yang menggendong anaknya itu terduduk kelelahan di tempat semula. Dibaringkannya Ismail di pasir beralaskan kain seadanya. Ia merenungi keadaan sambil melihat anaknya yang mulai menangis kehausan. Tak ada lagi air minum yang dimilikinya. Demikian pula telah kering air susu di tubuhnya.

Di saat kritis itulah pertolongan Allah datang. Persis di tempat Ismail menendang-nendangkan kaki sambil menangis itu terlihat rembesan air yang semakin lama semakin banyak. Siti Hajar tercengang dan kemudian berteriak: zam..zam.. zam..zam..! Yang bermakna: berkumpullah.. berkumpullah..! Ia pun membuat bendungan kecil dari tanah pasir, sehingga ada air menggenang yang semakin jernih. Jadilah kolam mata air.

Genangan air itu menyebabkan burung-burung mulai berdatangan untuk ikut minum. Dan tak lama kemudian sejumlah pedagang karavan berdatangan pula disebabkan melihat rombongan burung yang beterbangan rendah. Mereka meminta air kepada Siti Hajar dengan menukar makanan dan segala apa yang dibutuhkan ibu dan anak itu. Subhanallah, ibu dan anak itu terselamatkan..!

Sejak itu, lembah yang tadinya sepi dan tandus sering didatangi oleh para pedagang karavan yang melintas di kawasan itu. Mereka kemudian berkemah dan bermalam berhari-hari disana. Sehingga kawasan yang tadinya mati menjadi semakin ramai, dan akhirnya menjadi kota yang sejahtera. Allah telah menunjukkan kebesaran-Nya lewat hamba-hamba yang saleh dan berserah diri hanya kepada-Nya. Sejak itu pula Mekah menjadi pusat syiar agama Ibrahim selain Palestina, khususnya ketika Ibrahim dan Ismail kelak mendirikan Baitullah disana. Perjuangan tanpa putus asa dan kepasrahan yang mendalam dari keluarga teladan ini telah menjadi bukti yang sangat mencerahkan bagi umat Islam sedunia..!

QS. Al Hijr (15): 56.
Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang tersesat."

Wallahu a’lam bishshawab. (Bersambung)

Minggu, 28 Oktober 2012

TASAWUF HAJI 2012 (12) ~ TAWAF, BERPUTAR-PUTAR DI ‘ARSY ALLAH ~


oleh Agus Mustofa pada 28 Oktober 2012 pukul 11:09

Seorang ibu setengah baya bertawaf mengelilingi kakbah sambil menangis terisak-isak. Wajahnya terlihat kalut, matanya nanar, dan mulutnya berkomat-kamit menyebut nama Allah berulang-ulang. Tak ada kalimat lain yang terucap selain: Astaghfirullah, dan ya Allah.. ya Allah..! Wajahnya sering menengadah ke langit, dan tangannya gemetaran mengusap air mata yang berderai-derai membasahi wajahnya yang mulai keriput.

Sang ibu sedang melakukan Tawaf Ifadoh, yakni ritual mengitari baitullah sebanyak tujuh kali seusai melakukan lempar jumrah di Mina. Ini pula yang sedang dilakukan jamaah haji di hari-hari Tasyrik sekarang ini. Ibu yang berangkat haji seorang diri di tahun 2000 itu adalah jamaah satu rombongan dengan saya. Keesokan harinya, ia curhat kepada saya tentang ritual Tawaf Ifadoh yang menggetarkan seluruh sendi-sendi jiwanya itu.

Kebetulan, setiap pagi kamar saya memang dijadikan tempat berkumpul jamaah haji dalam rombongan kami untuk berbagi hikmah. Pagi itu kami memperoleh hikmah luar biasa yang terjadi pada sang Ibu. Dengan masih berurai air mata ia menceritakan pengalaman Tawaf Ifadohnya kepada kami. Bahwa, kemarin saat bertawaf itu hatinya benar-benar takut dan gelisah. Sampai-sampai semalaman ia tidak bisa tidur karenanya.

‘’Pak Agus, saya takut ibadah haji saya tidak diterima oleh Allah,’’ ia mulai menumpahkan kegelisahannya. ‘’Kenapa ibu?’’ saya berusaha memberikan perhatian yang serius untuk mengurangi kegundahannya. Ia pun bercerita bahwa saat melakukan tawaf kemarin ia sama sekali lupa akan doa tawaf yang selama ini telah ia hafalkan.

‘’Saya sudah sangat hafal pak Agus, karena sudah berbulan-bulan telah saya siapkan. Saya ingin haji saya yang hanya sekali seumur hidup ini tidak sia-sia,’’ tegasnya sambil berlinangan air mata. Keberangkatan hajinya itu diperoleh dari usaha mengumpulkan uang sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Dan karenanya, ia ingin menjalankan secara sempurna seperti yang ia pelajari dari buku manasik.

Karena merasa sudah hafal itu, ia pun tak membawa buku doa yang biasanya disandang oleh para jamaah haji saat bertawaf. Ia tak memerlukannya, dan berharap bisa bertawaf dengan penuh kekhusyukan tanpa dibingungkan membuka-buka bukunya. Tapi celaka, ternyata ia terlupa saat mengamalkannya dalam ibadah. Sesaat setelah mengucapkan kalimat: bismillahi Allahu Akbar sambil melambai ke Hajar Aswad, ia pun mulai melangkah bertawaf. Entah karena sangat gembira, atau terharu disebabkan cita-citanya pergi ke tanah suci tercapai, tiba-tiba saja ia tidak bisa mengingat doa yang sudah di hafalnya.

Putaran pertama dilaluinya dengan pikiran ‘blank’. Semakin berusaha diingat, doa yang sudah dihafal itu semakin tak bisa diucapkan. Rasanya sudah seperti di ujung lidah, tetapi tak ada kalimat yang terucap. Darahnya berdesir karena takut. Tapi, ia sudah telanjur melangkahkan kaki dalam pusaran tawaf. Sampai menjelang putaran pertama beakhir, ia tetap tak mampu berkata apa pun kecuali menyebut: Astaghfirullah, Ya Allaah .. ya Allaah..!

Hingga sampailah ia di sudut Hajar Aswad lagi, dimana ia harus memulai putaran kedua dengan mengucapkan: bismillahi Allahu Akbar. Sang ibu melangkahkan kaki diputaran kedua dengan penuh harap bisa mengingat doa yang harus diucapkan. Tapi celaka, doa-doa itu tak ada yang muncul di benaknya. Semakin jauh ia melangkah semakin kacau pikirannya. Dan lagi-lagi ia hanya bisa beristighfar memohon ampun kepada Allah: astaghfirullah... ya Allah.. yaa Allaah...! Keringat dingin kepanikan mulai membasahi keningnya sampai putaran kedua selesai.

Selanjutnya, ia semakin kalut. Tawaf di putaran ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh dilaluinya tanpa ada doa yang bisa diingat dan diucapkannya. Ia pun menangis tersedu-sedu. Sang ibu benar-benar lupa doanya. Yang diingat dan diucapkannya kini hanya: Allah, Allah dan Allah..!Kegelisahan hatinya pun sedemikian hebat, dan ia tak tahu harus berbuat apa kecuali pasrah dan berserah diri kepada Allah. Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Bijaksana.

Dijalaninya sisa putaran tawaf itu dengan tubuh gemetar dan derasnya air mata yang tumpah di wajahnya. Mulutnya terus berkomat-kamit menyebut nama Tuhannya. Perhatiannya terhadap sekitar menjadi nanar. Dan seluruh kesadarannya hanya terisi oleh kepasrahan total, serta rasa berdosa atas kebodohannya. Ia berharap Allah memaafkan segala kekhilafannya...

‘’Apakah tawaf saya sah Pak Agus? Apakah ibadah haji saya diterima oleh Allah, Pak?,’’ ia bertanya menumpahkan harapan kepada saya. Sambil tersenyum saya pun menatap matanya yang gelisah dan menjawab pertanyaannya dengan mantap: ‘’Insya Allah tawaf Anda sah, ibu’’. Saya melihat tebersit sinar kelegaan di matanya yang lelah. Tapi ia ingin tahu: ‘’kenapa tawaf saya sah? Bukankah saya sama sekali tidak bisa membaca doa yang mestinya saya baca?’’

Sambil masih tersenyum saya katakan kepadanya, bahwa selama tawaf itu dilakukannya dengan memenuhi syarat dan rukunnya, maka secara syariat ia telah menjalaninya dengan sah. Yaitu, dia melakukan tawaf dengan mengenakan baju ihram. Juga dalam keadaan berwudhu. Memulai putarannya dari sudut Hajar Aswad dengan berucap bismillahi Allahu Akbar. Dan mengitarinya sampai tujuh kali putaran. ‘’Insya Allah, tawaf Anda sah,’’ saya ulangi lagi ucapan saya dengan mantap. Ia pun tersenyum lega.

Sedangkan mengenai doa yang terlupa itu, lanjut saya, sama sekali tidak membatalkan ibadahnya. Karena dzikir dan doa dalam ritual haji lebih bersifat maknawi sebagai pengisi substansi. Berbeda dengan shalat yang tidak membaca Al fatihah, misalnya, akan menjadi batal. ‘’Saya justru melihat ibu sedemikian khusyuknya saat bertawaf. Sambil terus menyebut-nyebut nama Allah. Jauh lebih khusyuk dibandingkan dengan orang-orang yang sibuk membuka-buka buku doanya, tetapi lupa mengingat Tuhannya..!’’

QS. Al Anbiyaa' (21): 90
''...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam perbuatan baik. Dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh HARAP dan CEMAS. Dan mereka adalah orang-orang yang KHUSYU' kepada Kami.''

                                                      ***

Bertawaf adalah berputar-putar di Baitullah. Substansinya mengisi seluruh kesadaran kita dengan menyebut-nyebut nama-Nya, dan menjadikan Allah sebagai pusat dari seluruh aktivitas yang sedang kita jalani. Gerakan tubuh fisikal, kesadaran nafsiyah, dan potensi ruhiyah semuanya melebur menjadi satu dalam realitas tunggal: merasakan kehadiran-Nya..!

Karena sesungguhnyalah, Dia sudah hadir meliputi semesta. Mulai dari mikrokosmos yang menyusun tubuh kita maupun seluruh benda di sekitar, sampai pada jagat raya yang tak ketahuan batasnya. Gerakan abadi di dunia atomik, sub atomik sampai di tingkat kuantum adalah manifestasi dari kehadiran Allah di alam mikro. Semua sedang bertasbih kepada-Nya dalam gerak abadi tiada henti. Demikian pula, alam semesta di skala makrokosmos, tak ada yang tidak bergerak dan bertasbih. Langit berlapis tujuh dan semua yang ada di dalamnya sedang bergerak dalam pusaran abadi mengelilingi Arsy Allah Sang Penguasa jagat semesta: melakukan tawaf abadi, hanya kepada Ilahi Rabbi..!

QS. Al Israa’ (17): 44
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya (sedang) bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya. Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

QS. Az Zumar (39): 75
Dan kamu akan melihat para malaikat bergerak berkeliling di seputar 'Arsy (Allah). (Mereka) bertasbih sambil memuji Tuhannya. Dan diberi putusan diantara hamba-hamba Allah dengan adil serta diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

Wallahu a’lam bishsawab. (Bersambung).

Sabtu, 27 Oktober 2012

TASAWUF HAJI 2012 (11) ~ LEMPAR JUMRAH, MENGUSIR SIFAT-SIFAT SETANIYAH ~


oleh Agus Mustofa pada 27 Oktober 2012 pukul 8:34

Tiga hari ke depan ini jamaah haji di tanah suci sedang menggenapkan ritual ibadahnya. Di hari tasyrik – sampai tanggal 13 Dzulhijjah – seusai wuquf di Arafah jamaah haji melakukan lempar jumrah di Mina atau Tawaf dan sa’i di Mekah. Tertunainya keempat ritual itu menjadi tanda sempurnanya ibadah haji secara syariat. Meskipun, boleh jadi, tak sedikit jamaah yang tak mampu menyelami substansi hajinya.

Sebagaimana telah saya sampaikan di tulisan sebelumnya, Nabi Ibrahim memperoleh kemantapan iman saat berwuquf di Padang Arafah. Namun, hal itu baru menjadi awal ujian kesabaran yang sebenarnya. Beragama tidak cukup hanya bersifat internal di dalam keyakinan diri, melainkan harus sampai mengimbas keluar, dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Seberapa mantap Ibrahim memenuhi ujian Allah itu, setan pun memperoleh peran untuk menghadang perjalanan Ibrahim menuju Jabal Qurban.

Jabal Qurban adalah sebuah bukit yang ada di kawasan Mina. Dimana seusai menjalani wuquf, Ibrahim bersama istri dan anaknya berjalan menuju ke Mekah melewati kaki bukit itu. Ibrahim yang sudah mantap untuk menjalani ujian Allah, meminta istrinya menunggu di bawah bukit. Ia mengajak Ismail yang tak tahu apa yang akan dilakukan ayahnya ke atas bukit.

Di lereng bukit itulah Ibrahim dan Ismail dihadang oleh setan dengan segala rayuannya, agar membatalkan niat mengorbankan anaknya. Sebuah rayuan maut, yang seakan-akan membela Ibrahim dan menyodok perasaan cinta kepada anak yang dikasihinya. Tapi keimanannya telah menghunjam jiwa, hatinya telah terbuka dari hijab yang menutupinya. Ia bisa melihat dengan jernih bahwa yang menghadangnya adalah setan yang menunggangi kesadaran egoistiknya sebagai manusia. Sementara, kesadaran ilahiah telah memancar ke dalam relung-relung jiwa yang paling dalam, mencahayai segala perbuatannya.

Dengan tegar Ibrahim melangkah ke atas bukit sambil menggandeng Ismail. Setan yang menghadang dengan rayuan itu tak digubrisnya, bahkan dilemparinya dengan bebatuan. Bukan hanya sekali si setan merayu Ibrahim, melainkan sampai tiga kali, hingga menjelang puncak bukit. Ibrahim kukuh dengan keimanannya. Peristiwa melempar setan itulah yang kemudian diabadikan secara simbolik menjadi ‘lempar jumrah’: jumratul Aqobah, jumratul Wustha, dan jumratul ‘Ula di kota Mina, yang hari-hari ini sedang dilakukan jamaah haji di tanah suci.

Tak terbayangkan, sebenarnya, betapa berat pergulatan batin Ibrahim saat menuju ke puncak Jabal Qurban itu. Tetapi, keimanannya telah memenangkan pertarungan melawan setan yang merayunya dengan segala cara. Sesampai di atas bukit, barulah Ibrahim menyampaikan maksudnya mengajak Ismail. Di atas bukit di kawasan Mina itulah drama keikhlasan dan kesabaran antara dua orang hamba yang saleh dipertontonkan. Dan kisah ini lantas diabadikan Allah di dalam kitab suci Al Qur’an Al Karim. Serta, diwariskan sebagai ajaran puncak dalam berislam kepada Allah, Tuhan Jagat Semesta Raya, kepada umat Islam sampai akhir zaman.

QS. Ash Shaaffaat (37): 102
Maka ketika anak itu (Ismail) sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Betapa mengharukan dialog antara dua orang yang sangat santun dan saling menyayangi ini. Sang Bapak tak melakukan pemaksaan apa pun kepada Anaknya, melainkan menyampaikan ‘perintah Allah’ itu dengan penuh kehati-hatian. Panggilan yaa bunayya dalam ayat di atas adalah ‘panggilan kesayangan’ kepada seorang anak, yang diterjemahkan sebagai: ‘wahai anakku tersayang’. Berbeda dengan yaa ibniy, yang meskipun juga diterjemahkan sebagai: ‘hai anakku’, tetapi bermakna lugas.

Panggilan kesayangan semacam itu menunjukkan, betapa trenyuhnya Nabi Ibrahim ketika akan menjalankan perintah Allah tersebut. Dan kemudian ia melanjutkan dengan kalimat yang sangat lembut untuk ‘meminta pendapat’ kepada Ismail tentang mimpinya yang aneh itu dengan pertanyaan: fikirkanlah apa pendapatmu? Tak ada kesan otoriter sama sekali. Tak ada kekejaman dan kebengisan seorang ayah kepada anaknya, meskipun itu atas nama perintah Tuhan.

Dan yang membuat air mata saya menetes tak tertahan adalah saat membaca jawaban sang anak. Ia membalas kalimat penuh sayang yang ‘mengancam jiwanya’ itu dengan kalimat santun dan penuh hormat: yaa abati if’al maa tu`maru. Satajiduniy insyaa Allaah minash shaabiriin – wahai ayahanda lakukanlah yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Ini bukan tentang peristiwa seorang ayah yang mengorbankan anaknya, dimana sang ayah menjadi subyek dan sang anak menjadi obyek, tetapi sebuah drama keikhlasan dan kesabaran dari dua orang hamba Allah yang luar biasa mendalamnya. Kedua-duanya paham betul bahwa cobaan tersebut diberikan Allah kepada mereka berdua, bukan hanya salah satunya. Tak ada paksaan sama sekali di dalamnya. Juga tak ada rasa terpaksa pada sang anak, meskipun Ismail menjadi anak yang akan ‘dikorbankan’. Semua dijalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Sebuah kualitas ketaatan yang paripurna, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang terbuka hijabnya. Sehingga setan pun tak mampu mempengaruhinya.

Sampai disini tak terbendung lagi air mata saya, yang tumpah berderai-derai di wajah. Tak mampu lagi saya mengukur suasana kebatinan dua Nabi teladan itu dalam mempraktekkan ikrar berserah dirinya kepada Allah..!

QS. Ash Shaaffaat (37): 103-110
Tatkala keduanya telah BERSERAH DIRI dan Ibrahim membaringkan anaknya pada pelipis(nya), (terbuktilah kesabaran dan keikhlasan mereka). Maka Kami seru dia: "Hai Ibrahim (cukup)..! Sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya begitulah Kami memperlakukan orang-orang yang berbuat baik.

Sesungguhnya ini benar-benar suatu UJIAN yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor binatang sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (peristiwa) itu di kalangan orang-orang yang hidup di zaman kemudian. "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Demikianlah Kami membalas orang-orang yang berbuat kebajikan.

Inilah simbolisasi keikhlasan dan kesabaran yang luar biasa. Yang dicapai dengan perjuangan dan kesengajaan dalam mencari ridha Allah. Yang dilakukan oleh orang-orang yang telah mencapai kejernihan spiritual, dengan menghalau sifat-sifat setaniyah yang telah menunggangi egonya. Sebuah kesadaran ilahiyah yang telah mampu menaklukkan kesadaran nafsiyah, sebagai puncak perjalanan spiritualitasnya: Ikhlas BERSERAH DIRI hanya kepada Allah. Wallahu a’lam bishshawab.(Bersambung).

Kamis, 25 Oktober 2012

TASAWUF HAJI 2012 (10) ~ WUQUF DI ARAFAH MEMBUKA HIJAB JIWA ~


oleh Agus Mustofa pada 25 Oktober 2012 pukul 7:02

Jutaan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia hari ini sudah berada di Padang Arafah. Sebuah padang bebatuan dimana mereka akan memulai seluruh rangkaian ibadahnya dengan perenungan suci. Yakni sejak Zhuhur sampai tenggelamnya matahari. Inilah puncak ibadah haji, yang kata Rasulullah SAW tidak sah haji seseorang jika tidak melakukan wuquf.

Sayang, kebanyakan jamaah haji lantas hanya berusaha memenuhi sahnya haji secara syariat belaka. Yakni, berdiam di Arafah selama waktu siang sampai sore hari. Asal tidak meninggalkan Arafah di waktu tersebut, maka hajinya pun menjadi sah. Sehingga, saya melihat, tak sedikit jamaah haji yang lantas menghabiskan waktu wuquf hanya dengan tidur-tiduran, ngobrol ke tenda sebelah, dan kegiatan-kegiatan tak bermakna lainnya.

‘’Toh tidak membatalkan ibadah haji,’’ begitu barangkali pikirnya. Padahal, di tempat inilah Nabi Ibrahim memahami substansi ibadah hajinya. Yakni setelah beliau meyakini kebenaran mimpinya, sebagai ujian kesabaran yang diberikan Allah kepada keluarganya.

Di Padang Arafah itulah keyakinan Ibrahim menjadi mantap, dikarenakan bisa menangkap pesan mimpi anehnya: menyembelih anak yang dikasihinya. Padahal dia sendiri adalah penentang praktek agama pagan yang mengorbankan manusia kepada dewa-dewi. Kini ia malah memperoleh perintah untuk mengorbankan anaknya. Tapi, dengan ritual ini, kelak Ibrahim justru tahu bahwa berkurban yang benar adalah menyembelih ternak yang bermanfaat untuk banyak orang. Bukan seperti yang dilakukan oleh penganut agama pagan itu.

Ibrahim tahu betul bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana. Sehingga, hati kecilnya tetap yakin semua ini hanya bersifat ujian untuk mengetahui seberapa besar tingkat berserah dirinya kepada Allah. Agar terbukti ikrar kepasrahan yang selalu ia lantunkan setiap hari:‘’sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata...’’

Saya membayangkan betapa dahsyat pergulatan batin Ibrahim untuk memperoleh keyakinan bahwa mimpi itu adalah perintah Allah. Bukan bisikan setan. Pada orang awam yang kejernihan batinnya belum setingkat Nabi, pasti sangat sulit untuk membedakan antara perintah Allah dan bujukan setan. Tetapi, dengan cara wuquf itu Nabi Ibrahim lantas memperoleh kemantapan. Apakah yang terjadi ketika itu?

Intinya adalah terbukanya hijab alias tabir dalam jiwa Ibrahim. Sebuah proses menjernihkan hati, yang dilakukan dengan sepenuh jiwa lewat dzikir-dzikir yang intensif. Inilah yang secara umum telah saya sampaikan di tulisan-tulisan sebelumnya, dan lebih khusus di buku ‘Ma’rifat Di Padang Arafah’. Bahwa dzikir adalah proses untuk menyambungkan jiwa kita kepada Allah. Mengisi seluruh kesadaran hanya dengan nama-Nya. Dan kemudian merasakan kehadiran-Nya.

Semua itu terjadi di dalam inner-cosmos yang meleburkan kesadaran nafsiyah ke dalam kesadaranruhiyah. Kesadaran nafsiyah adalah kesadaran ego sebagai manusia, sedangkan kesadaran ruhiyahadalah kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam diri. Karena ruh kita memang sudah membawa sifat-sifat ketuhanan. Itulah sebabnya Allah mengatakan Dia telah hadir begitu dekat dengan kita, lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Sehingga bisa mengetahui seluruh bisikan jiwa setiap manusia.

QS. Qaaf (50): 16
Dan sesungguhnya Kami-lah yang telah menciptakan manusia. Dan Kami mengetahui segala yang dibisikkan oleh jiwanya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

Bagaimanakah Anda memahami sebuah ‘jarak’ yang lebih dekat daripada sesuatu yang ‘tak berjarak’? Bukankah urat leher itu sudah di dalam diri kita, yang dengan kata lain sudah tak berjarak? Tetapi Allah masih mengatakan lebih dekat daripada yang tak ada jaraknya itu. Kesimpulannya, kita ini sebenarnya sudah berada di dalam Diri-Nya. Sudah diliputi-Nya.

Nah, dengan dzikir saat wuquf itulah seseorang akan merasakan kehadiran Allah dalam seluruh kesadarannya. Meleburkan sifat-sifat yang egoistik ke dalam sifat-sifat ruh yang universal. Sifat-sifat kemakhlukan ke dalam sifat-sifat ketuhanan.

Hubungan antara ego manusia dengan Ego Tuhan itu ibarat timbangan. Jika ego kita membesar, maka Ego Tuhan akan mengecil dalam kesadaran kita. Sebaliknya, jika Ego Tuhan kita hadirkan sebesar-besarnya dalam kesadaran, ego kita akan mengecil bahkan bisa hilang sama sekali. Itulah substansi dari kalimat laa ilaaha illallah – tidak ada lagi yang mendominasi kesadaran kita kecuali Dia.

Orang yang bisa menghadirkan rasa ini di dalam dzikirnya, dia telah menghilangkan hijab yang membatasi jiwanya terhadap ruhnya sendiri. Energi ruhiyah akan memancar menerangi jiwa. Dan menerobos sampai kepada ucapan, serta tingkah lakunya. Menjadi rahmat bagi seluruh alam. Itulah yang diperoleh Nabi Ibrahim saat wuquf di Padang Arafah.

Kemantapan yang dia peroleh itu disebabkan telah terbukanya hijab antara jiwa yang egoistik dengan ruhnya yang universal. Kekhawatirannya menjadi sirna seketika. Karena kekhawatiran itu memang bersumber dari jiwa yang terkungkung oleh ego pribadi. Dengan wuqufnya, Ibrahim bisa memusnahkan kekhawatiran berganti dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. Bahwa, mimpinya itu adalah wahyu ilahiah untuk menguji keimanan dan kesabarannya. Dan akan menjadi skenario besar yang diwariskan kepada umat Islam sampai ribuan tahun kemudian.

Tidak mudah untuk mencapai kesadaran spiritual semacam ini. Dan tidak sembarang orang bisa mencapainya. Tetapi, kita bisa mengusahakannya sampai tingkat tertentu, supaya hijab antara jiwa dan ruh kita tidak sedemikian tebalnya sehingga menghalangi informasi-informasi ilahiyah sebagai petunjuk kehidupan. Sesungguhnya segala macam petunjuk itu memang sudah ada di dalam diri kita sendiri. Bersumber di dalam ruh. Sedangkan, informasi dari luar diri – outer cosmos – tak lebih hanya bersifat menstimulasi atau mengaktifkan sifat-sifat ketuhanan yang sudah inheren itu.

Maka, sebanyak apa pun seseorang melakukan interaksi dengan dunia luar – termasuk membaca ayat-ayat Qur’an – jika sifat-sifat ketuhanan yang ada di dalam dirinya tidak terbangkitkan, orang tersebut tidak akan memperoleh petunjuk. Kita menyebut: hatinya belum terbuka. Tertutup oleh hijab. Meskipun bacaanya setiap hari adalah Al Qur’an Al Karim..!

Jadi, wuquf yang baik adalah perenungan yang bisa membuka hijab itu. Perbanyaklah dzikir saat wuquf di Arafah. Maupun saat berpuasa Arafah di tanah air. Dan dzikir yang paling baik adalah dengan mengerjakan shalat sebagaimana Allah ajarkan di dalam Al Qur’an. Maka, saat berwuquf, saya mengisinya dengan shalat dua rakaat berulang-ulang sejak tergelincirnya matahari di siang hari, sampai tenggelam di senja hari. Mudah-mudahan Allah berkenan membukakan hijab jiwa kita, dan mengaruniakan hidayah kepada siapa saja yang mengikhlaskan hidupnya hanya untuk Allah semata..!

QS. Thaahaa (20): 14
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah SHALAT untuk BERDZIKIR kepada-Ku.

QS. Az Zumar (39): 11
Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam beragama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri (hanya kepada-Nya)."

Wallahu a’lam bishshawab. (Bersambung)

Rabu, 24 Oktober 2012

TASAWUF HAJI 2012 (09) ~ UJIAN BERAT ITU DIMULAI DI MINA ~


oleh Agus Mustofa pada 24 Oktober 2012 pukul 8:00

Hari ini, 8 Dzulhijjah, jamaah haji di tanah suci sedang bersiap-siap memulai seluruh rangkaian ibadahnya. Mereka berkumpul di kota Mina, sebuah kawasan yang berjarak sekitar 8 kilometer dari Mekah, menuju ke Arafah. Diharapkan malam ini jutaan jamaah dari seluruh penjuru dunia itu sudah bisa berkemah di Arafah – yang masih berjarak 14 kilometer lagi. Karena, besok siang mereka mesti melakukan wuquf sebagai awal sekaligus puncak ibadah hajinya.

Lebih dari 4000 tahun yang lalu, Nabi Ibrahim bersama Istri dan anaknya – Siti Hajar dan Ismail – juga sedang berada di tempat yang sama: Mina. Sebuah lembah yang diapit perbukitan dimana keluarga Ibrahim sering menggembalakan ternaknya, sampai di kawasan Arafah. Di tempat inilah Ibrahim mulai diuji oleh Allah dengan ujian yang sangat berat, yang kemudian menjadi ritual haji.

Waktu itu, Ibrahim sedang melepas rindu karena bertahun-tahun tidak bertemu istri dan anaknya. Sejak bayi memang Ismail telah ditinggalkan oleh Ibrahim di sebuah lembah tandus, cikal bakal kota Mekah. Ismail tinggal di Mekah bersama ibundanya, Siti Hajar hingga masa remaja. Sedangkan Ibrahim pulang ke Palestina, dan tinggal bersama istri dan anaknya yang lain – Sarah dan Ishak. Kota Palestina berjarak sekitar 1.500 kilometer dari Mekah.

Sejak meninggalkan mereka belasan tahun yang lalu itulah Ibrahim melepas rindu untuk pertama kalinya, dengan mengunjungi Hajar dan Ismail di kota Mekah. Ia begitu bangga dengan istrinya yang telah berhasil membesarkan Ismail menjadi anak yang saleh dan penyabar. Ia juga bangga dengan Ismail yang telah tumbuh sebagai remaja yang sangat penyantun dan taat kepada Allah serta orang tuanya. Maka, Ibrahim pun mulai melibatkan Ismail dalam syiar agama Islam. Dan lantas, mengajaknya untuk meninggikan pondasi Kakbah menjadi sebuah rumah ibadah, pusat penyebaran agama Islam di Jazirah Arabiyah.

QS. Al Baqarah (2): 127-128
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim membangun pondasi Baitullah bersama Ismail. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah (amal ibadah) kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu. Demikian pula (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang berserah diri kepada-Mu. Dan tunjukkanlah kepada kami cara dan tempat-tempat ibadah haji kami. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Maka Allah pun menunjukkan tatacara ibadah haji kepada keluarga Ibrahim. Mereka diperintahkan untuk berjalan ke arah Arafah, sebuah padang berjarak sekitar 22 kilometer dari tempat tinggal mereka di Mekah, dimana Hajar dan Ismail biasa menggembalakan ternak mereka. Nah, pada tanggal 8 Dzulhijjah itu sampailah mereka di Mina, lantas beristirahat disana.

Dalam tidurnya Ibrahim bermimpi aneh, yakni disuruh menyembelih anaknya – Ismail. Ia tergeragap, terbangun karenanya. Sebuah mimpi yang sangat jelas, dan menggetarkan hatinya. Ia termenung memikirkan mimpi itu. Tetapi, tidak bercerita kepada istri dan anaknya. Ia pun mengajak mereka untuk meneruskan perjalanan ke Arafah yang masih belasan kilometer lagi. Di Arafah itulah Ibrahim ingin berkemah untuk memperoleh petunjuk Allah tentang tatacara ibadah haji.

Ibrahim dan keluarganya sampai di Arafah menjelang malam hari, memasuki tanggal 9 Dzulhijjah. Mereka pun berkemah disana. Malam itu, Ibrahim bermimpi kembali dengan sangat jelas: lagi-lagi diperintahkan untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya. Hatinya semakin gemetar, ia gundah jangan-jangan ini adalah perintah Allah terkait dengan ibadah haji yang sedang dimintakan petunjuk kepada-Nya.

Sampai keesokan harinya, Ibrahim terpanggang dalam kegelisahan. Hatinya ragu-ragu dengan mimpi yang aneh itu. Tetapi, mau bercerita kepada istri dan anaknya ia tidak sampai hati. Akhirnya Ibrahim memutuskan untuk bermunajat kepada Allah seusai Zhuhur. Ia berdiam di dalam kemahnya melakukan wuquf – menghentikan segala kegiatannya untuk memfokuskan diri berdzikr dan berdoa kepada-Nya memohon petunjuk.

Wuquf itu dilakukannya sampai menjelang matahari terbenam. Di dalam wuqufnya itulah Ibrahim memperoleh keyakinan, bahwa mimpi yang dialaminya itu adalah perintah dari Allah. Sebuah proses terbukanya hijab jiwa, yang membuatnya bisa menangkap informasi kebenaran yang ditunjukkan Allah kepadanya. Maka ia pun menyudahi wuqufnya, dan mengajak keluarganya melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Mekah.

Menjelang tengah malam, keluarga Ibrahim sampai di suatu tempat bernama Muzdalifah. Di tempat ini keluarga Ibrahim beristirahat, dan untuk ketiga kalinya Ibrahim bermimpi dengan isi yang sama: diperintahkan mengorbankan Ismail. Hatinya pun menjadi mantap, bahwa ini memang perintah dari Allah untuk menguji keimanannya.

Tiba-tiba terlintas di benaknya tentang janji yang pernah diucapkannya puluhan tahun yang lalu. Sejak muda Ibrahim suka melakukan qurban. Puluhan kambing dan unta disembelihnya untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang miskin dan kelaparan. Sekaligus untuk mencontohkan kepada manusia bahwa praktek berkurban yang diajarkan oleh sejumlah agama pagan adalah tidak benar, dikarenakan mereka membuang daging-daging ternak secara mubazir, bahkan kadang-kadang diselingi mengorbankan manusia untuk dipersembahkan kepada para dewa. Berkurban ala Ibrahim adalah memadukan keikhlasan untuk Allah sekaligus menebarkan manfaat untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

QS. Al Hajj (22): 36
Dan telah Kami jadikan untukmu unta-unta itu sebagian dari syi'ar (agama) Allah. Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri. Kemudian apabila telah roboh, maka makanlah sebagian (daging)nya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk makan orang-orang miskin yang tidak meminta-minta. Dan (juga) untuk orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.

Nah, sesaat setelah berkurban dalam jumlah besar itulah Ibrahim sempat berkata, bahwa seandainya Allah menghendaki dia untuk berkurban lebih banyak lagi ia pasti akan melakukannya. Termasuk apa saja yang paling dicintainya. Begitulah memang keikhlasan Ibrahim dalam bertuhan kepada Allah sebagaimana doanya yang sering kita baca dalam shalat: ‘’sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata...’’

Ternyata ucapan Ibrahim waktu masih muda itu kini ‘ditagih’ oleh-Nya. Ibrahim diminta untuk mengorbankan Ismail yang sangat dikasihinya. Anak yang diharapkan akan meneruskan syiar agama Tauhid yang sedang diperjuangkannya. Betapa berat beban jiwa Ibrahim ketika itu. Tetapi, karena ini adalah perintah Allah, maka dengan kesabaran dan kepasrahan yang sangat mendalam ia pun bertekat untuk menjalankannya..!

Wallahu a’lam bishshawab. (Bersambung).

Selasa, 23 Oktober 2012

TASAWUF HAJI 2012 (08) ~ AKHLAK MULIA BERENERGI TINGGI, AKHLAK BURUK RENDAH ~


oleh Agus Mustofa pada 23 Oktober 2012 pukul 9:18

Seluruh interaksi keseharian kita membutuhkan energi. Baik yang bersifat internal di dalam badan fisik dan jiwa kita, maupun yang bersifat eksternal berupa interaksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Semuanya membutuhkan energi agar bisa berdinamika ke arah lebih baik atau sebaliknya menjadi lebih buruk.

Otak membutuhkan energi, jantung membutuhkan energi, paru-paru, liver, pencernaan, kelenjar-kelenjar, jaringan tubuh, sampai triliunan sel semuanya berdinamika dengan menyerap atau memancarkan energi. Jika energi kehidupan di tubuh kita habis, maka tubuh sebagai wadah kehidupan itupun rusak dan kemudian disebut meninggal. Lantas, triliunan sel-sel tubuhnya pun bakal terurai.

Jiwa kita juga butuh energi. Tidak seperti energi badan yang bisa diukur secara fisikal, energi jiwa lebih abstrak dan unpredictable, sehingga masih membutuhkan penelitian intensif agar tidak disebut sebagai pseudo-science. Tetapi perkembangan mutakhir di dunia psikologi menunjukkan perkembangan yang semakin kuat bahwa energi jiwa ternyata memiliki peran yang sangat besar dalam perubahan peristiwa di dunia fisikal.

Kenapa tangan kita bisa digerakkan, misalnya? Sumber utamanya bukan di energi badaniah, melainkan berada di energi jiwa. Bukan karena ‘otak fisik’ kita yang menggerakkan, melainkan ada ‘otak batiniah’ yang menginginkan. Kebanyakan pakar biologi hanya berhenti pada mekanisme ‘otak fisik’ belaka. Padahal, jika ‘otak batiniah’ sudah meninggalkan otak fisik itu ia tak lebih hanya menjadi organ seperti bubur yang berbobot sekitar 1 kg yang tak punya ‘kehendak’. Meskipun hanya untuk sekedar menggerakkan ujung jari sekalipun.

Jiwa berdinamika dengan menggunakan energi. Para pakar psikologilah yang terus berusaha untuk membuktikan agar semakin transparan. Tetapi, gejala dan dampaknya sungguh sangat besar dalam kehidupan seseorang maupun kolektif. Meskipun, orang-orang yang kurang memahaminya akan mengatakan itu sebagai pseudo-science atau bahkan ‘cocokology’, hanya disebabkan mereka belum bisa menghubungkan mekanisme antara psycho-energy dengan physio-energy.

Akhlak adalah sumber psycho-energy alias energi kejiwaan yang sangat besar. Penerapan akhlak yang baik secara benar akan menghasilkan perubahan fisikal yang baik dan benar pula. Kita menyebutnya sebagai energi positif. Sebaliknya, akhlak yang buruk akan menghasilkan perubahan fisikal yang buruk dan merugikan. Baik yang terjadi pada badan kita maupun lingkungan. Kita menyebutnya sebagai energi negatif.

Seseorang yang sedang stress disebut sedang menghasilkan energi negatif di dalam dirinya. Dan efeknya bukan hanya pada jiwanya, melainkan juga pada badannya. Tubuh fisiknya bisa mengalami sakit yang sulit diketahui sebab-musababnya. Dan tak jarang, para dokter biasa – physician – tidak bisa menyembuhkannya. Tetapi, bukan berarti ini berada di wilayah pseudo-medical atau supranatural dan sebangsanya, karena ternyata ia bisa disembuhkan oleh seorang psychiatrist yang mengerti ilmu jiwa. Itulah yang disebut sebagai penyakit psikosomatis.

Apa yang saya uraikan diatas hanya untuk menggambarkan betapa manusia adalah makhluk yang sangat kompleks, yang selalu memancar-mancarkan energi atau menyerapnya saat melakukan aktivitas kesehariannya. Mulai dari yang bersifat fisikal, emosional, sampai spiritual. Semakin fisikal semakin mudah diukur, semakin spiritual semakin sulit. Tetapi, semuanya terbukti memiliki dampak riil dalam kehidupan kita. Bisa berakibat baik atau buruk, yang lantas menjadi penting untuk diperhatikan.

Ibadah Haji sarat dengan amalan-amalan spiritual tingkat tinggi bagi yang memahaminya. Dan tentu saja melibatkan energi spiritual yang sangat besar, yang bisa berdampak sampai kepada emosi dan fisik. Sebaliknya, bagi yang tidak memahami, mereka hanya akan memperoleh dampak fisikal seperti orang yang melakukan camping, outbond, atau long-march belaka, sebagaimana telah saya uraikan di tulisan sebelumnya.

Pelajaran Haji adalah pelajaran tentang akhlak yang mulia sebagaimana dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul. Seperti kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, dan sebagainya. Secara energial, sifat-sifat itu memiliki energi yang sangat tinggi. Semakin sabar seseorang, semakin tinggi energi spiritualnya, dan itu akan berdampak positif pada kondisi emosi dan fisiknya menjadi semakin baik. Sebaliknya, semakin tidak sabaran seseorang, semakin rendah energi spiritualnya, dan itu akan memunculkan ketidakstabilan pada energi emosional maupun fisikalnya.

Orang yang emosinya tidak stabil dan memburuk, akan menghasilkan frekuensi rendah yang ditandai oleh melonjak-lonjaknya denyut jantung dan tremor di seluruh tubuhnya. Dan kemudian oleh kacaunya sistem kelenjar maupun hormonal. Lonjakan getaran fisikal itu, dalam Fisika disebut sebagai gelombang yang amplitudonya membesar. Dampaknya, frekuensinya menurun. Dan efek berikutnya adalah energi yang drop menjadi rendah.

Maka orang yang sedang marah-marah, tidak sabaran, gelisah, meledak-ledak, stress dan sebangsanya, sebenarnya sedang mengalami penurunan energi spiritual, emosional, dan fisikal sekaligus. Orang yang sedang dalam arasy energi semacam ini sedang terkungkung oleh energi negatif yang merugikan diri sendiri. Jika mengambil keputusan cenderung salah, jika bertanding pasti kalah, dan berbuat apa saja daya kontrolnya rendah.

Sebaliknya, orang-orang yang sedang dalam kondisi sabar, rendah hati, ikhlas, dan sebagainya – berakhlak mulia – ia sedang berada di arasy energi spiritual yang tinggi. Denyut jantungnya ikut lembut, emosinya stabil, sistem energi tubuh dan jiwanya dalam kondisi yang bagus. Dampaknya, berbagai keputusannya cenderung bijaksana dan perbuatannya terkontrol dengan baik.

Jika energi tersebut berada dalam kerumunan secara kolektif, dampaknya pun menjadi akumulatif. Dan bisa menyebabkan leburnya arasy energi individual menjadi massal. Itulah sebabnya, kenapa dalam sebuah demonstrasi yang emosional sifat-sifat individu yang tadinya baik bisa hanyut oleh emosi massa yang tak terkendali dan merusak apa saja yang ada di hadapannya.

Sebaliknya, akumulasi energi spiritual yang kolosal bisa membawa individu-individu di dalamnya menjadi lebih baik. Dan berdampak kebaikan pula kepada segala yang berinteraksi dengannya. Baik interaksi individual maupun interaksi massal yang bersifat keumatan. Itulah yang terjadi pada ritual Haji selama di tanah suci. Pusaran energi makna itu bergema di angkasa fisik jutaan  jamaah, yang kemudian menjadi atmosfer emosional dan spiritual yang menghanyutkan individu-individu di dalamnya dalam lantunan dzikir-dzikir yang penuh makna.

Memancar dari kalimat-kalimat talbiyah hamba-hamba yang rindu Tuhannya. Menggeletar dari jiwa yang penuh kepasrahan. Menggetarkan sanubari yang paling dalam, dan menggema di angkasa semesta berpusaran di Arsy Allah Azza wajalla, Tuhan Jagat Semesta Raya...

Labbaik Allaahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wanikmata laka wal mulk. Laa syariikalak... (Kupenuhi panggilan-Mu ya Allah. Kupenuhi panggilan-Mu wahai Dzat yang tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya, segala puja dan puji beserta semua kenikmatan dan kerajaan hanyalah untuk-Mu semata. Tiada sekutu bagi-Mu...)

Wallahu a’lam bishshawab (Bersambung).

Senin, 22 Oktober 2012

TASAWUF HAJI 2012 (07) ~ PETILASAN PARA NABI BERENERGI TINGGI ~


oleh Agus Mustofa pada 22 Oktober 2012 pukul 7:59

Setiap karya selalu mengandung energi pembuatnya. Entah itu berupa karya sastra, karya lukis, musik, sains, budaya, bahkan politik. Apalagi karya-karya spiritual. Energi yang tersimpan di dalam karya-karya itu suatu ketika bisa menular alias meresonansi siapa saja yang berinteraksi dengannya. Dan kemudian menimbulkan efek yang sama dengan sumbernya.

Pernahkah Anda membaca suatu karya sastra sampai merinding, bahkan meneteskan air mata? Kenapa kita bisa ikut terharu saat membaca sebuah puisi yang mengharu biru? Boleh jadi Anda akan mengatakan: ‘’ya, karena isinya memang menyentuh hati, sehingga hati saya bergetar’’. Kenapa bisa menyentuh hati dan apa yang membuatnya bergetar?

Itulah yang disebut sebagai resonansi energi makna. Kalimat-kalimat yang kita baca itu memunculkan informasi. Di dalam informasi itu ada makna yang kita pahami. Dan di dalam makna itu terdapat energi yang menyebabkan jantung kita berdesir. Desiran itu menggetarkan seluruh tubuh kita. Mengaktifkan sejumlah hormon dan kelenjar. Termasuk kelenjar air mata, sehingga menetes tanpa bisa kita bendung lagi. Dan seterusnya. Bahkan sampai mendorong kita untuk melakukan sesuatu perbuatan yang berdampak riil.

Dalam konteks yang sedang kita bicarakan, karya sastra itu telah memancarkan energi pembuatnya kepada kita yang membacanya. Jika karya itu dibuat sambil menangis, maka energi makna yang tersimpan di dalam tangisan sang pujangga itu akan mengisi karyanya. Tertuang dalam kalimat-kalimat yang penuh haru. Meresap ke dalam diksi-diksi yang dipilihnya sehingga bisa menggambarkan isi hatinya. Dan saat kita membacanya, energi makna yang tersimpan di dalam karya itu akan menggeletar meresonansi jiwa kita. Sehingga kita pun menangis sebagaimana sang pujangga itu menangis saat menumpahkan isi hatinya.

Bukan hanya karya sastra dalam bentuk puisi, sebuah karya lukis pun menyimpan getaran-getaran jiwa sang pelukis. Sebuah karya yang hebat adalah karya yang menuangkan seluruh perasaan sang maestro ke dalam kanvas. Dan kelak, ketika ada yang menikmati karya lukis itu sepenuh hati, mereka akan bisa merasakan getaran perasaan sang maestro di atas kanvas tersebut. Seorang penikmat lukisan bisa berjam-jam berada di depan lukisan yang telah menggetarkan jiwanya. Itulah resonansi energi..! Meskipun tidak ada kata yang terucap, aliran energi itu tetap bisa mengalir deras kepada orang yang memiliki frekuensi sama dengan sumbernya.

Hal semacam ini bisa terjadi pada karya apa pun. Berbagai karya budaya, pidato-pidato hebat, penemuan-penemuan fenomenal, sampai pada karya-karya spiritual seperti petilasan para nabi dan orang-orang yang saleh. Bukan hanya yang berupa teks-teks yang mengandung makna secara harfiah, melainkan juga benda-benda yang seakan-akan tak memiliki makna, tetapi sebenarnya mengandung getaran energi sang pembuatnya. Yang semua itu baru bisa dirasakan resonansinya oleh orang-orang yang memiliki frekuensi sama dengan sumbernya.

Ini mirip dengan sebuah alat musik – katakanlah gitar – yang bisa menggetarkan gitar di sebelahnya jika kedua gitar itu disetem dengan nada-nada snar yang sama. Meskipun gitar yang bersebelahan itu hanya dipetik salah satunya. Kenapa bisa demikian? Itulah resonansi: bergetarnya sebuah benda disebabkan oleh bergetarnya benda lain yang berfrekuensi sama.

Inilah penjelasannya, kenapa seseorang yang berdekatan dengan orang yang sabar hatinya akan ikut merasa tenteram. Sebaliknya jika berdekatan dengan orang yang emosional, hatinya akan ikut gelisah dan emosional pula. Atau, ketika kita berada di sebuah tempat yang energinya negative perasaan kita menjadi gelisah, dan kalau berada di tempat yang berenergi positive hati kita merasa tenteram.

Tanda positive dan negative pada energi, dalam konteks ini, bermakna energi yang bermanfaat atau merugikan kita. Ada sebuah tempat yang jika kita berlama-lama di tempat itu kita bisa menderita sakit, maka tempat itu kita sebut sebagai berenergi negative. Sebaliknya, ada tempat yang jika kita berlama-lama disitu badan kita menjadi lebih bugar, maka tempat itu kita sebut sebagai berenergi positive. Bahkan bukan hanya yang bersifat fisikal, melainkan juga yang bersifat spiritual.

Maka, petilasan para nabi dan orang-orang saleh adalah tempat yang berenergi positive. Diantaranya adalah tempat-tempat ritual haji, terutama di Masjid al Haram, dimana Baitullah berada. Inilah rumah ibadah tertua yang dibangun oleh manusia. Dan kemudian ditinggikan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Yang lantas, selama ribuan tahun dijadikan tempat ibadah oleh manusia.

QS. Ali Imran (3): 96
Sesungguhnya rumah (ibadah) yang pertama kali dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Berdekatan dengan karya Ibrahim kita bakal teresonansi energi yang tersimpan di dalamnya. Tentu saja bagi yang memiliki frekuensi yang sama dengan sumbernya. Bagaimanakah frekuensi Nabi Ibrahim itu? Al Qur’an berulang kali menjelaskan tentang karakter beliau yang sangat santun, berakhlak mulia, rendah hati, penuh pengorbanan, dan berserah diri hanya kepada Allah.

QS. AtTaubah (9): 114
‘’… Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.’’

QS. An Nahl (16): 120
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi taat kepada Allah dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),

Maka, jika kita datang ke Baitullah dengan sifat-sifat Ibrahim itu, niscaya kita akan merasakan resonansi luar biasa dari Baitullah. Mirip dengan apa yang saya ceritakan di atas, bahwa berdekatan dengan orang yang sabar akan ketularan sifat sabar, berdekatan dengan orang yang emosional bakal ikut-ikutan emosional. Sifat-sifat Ibrahim yang lembah lembut, santun, taat, penuh keikhlasan dan berserah diri hanya kepada Allah akan mengimbas jiwa kita sampai ke relung-relung hati yang paling dalam. Sehingga tak terasa akan terucap doa Ibrahim yang penuh makna dalam bisikan-bisikan mesra kita kepada Allah Sang Penguasa Jagat Semesta saat kita bermunajat kepada-Nya.

QS. Al An’aam (6): 162-163
‘’… Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku. Dan aku adalah orang yang paling awal berserah diri (kepada-Nya)".

Wallahu a’lam bishshawab. (Bersambung).