Sabtu, 08 Januari 2011

METODE ALAMIAH BELAJAR AGAMA

Metode yang paling manjur dalam sebuah pembelajaran sebenarnya sangatlah sederhana: ‘tirulah cara belajar anak kecil’. Tentu saja yang alamiah. Jangan yang sudah direkayasa oleh para orang dewasa yang ada di sekitarnya. Apalagi yang sudah dimanipulasi untuk kepentingan tertentu, sehingga menjurus kepada doktrin, yang menyebabkan anak-anak tidak tumbuh berkembang secara sehat dalam pemikirannya. Menurut Anda anak-anak itu belajar secara paedagogi ataukah Andragogi?

Cobalah lihat bagaimana proses belajar anak-anak untuk menjadi pintar.

1). Keingintahuannya sangat besar. Kecuali punya kelainan bawaan. Segala macam dia eksplore untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Dimulai dari dirinya, dia sering memainkan-mainkan anggota badannya. Misalnya menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Mengulum-ngulum jari-jarinya. Memegang apa saja yang bisa dipegang dan seterusnya. Dia sedang mencoba mengenal, mempersepsi, merasakan sensasi, dan kemudian menyimpannya di dalam memori. Suatu saat, itu berguna untuk memutuskan sesuatu terkait kejadian yang sedang dia hadapi.

2). Dia tidak mengenal rasa takut dan malu, karena dia belum punya persepsi terhadap sebuah sistem nilai. Kecuali sudah ditakut-takuti terlebih dahulu atau ditanamkan sikap terhadap suatu nilai moral tertentu. Yang ada di benaknya adalah keingintahuan, dan ia ingin melampiaskan sepuas-puasnya. Nah, pengalaman yang menakutkan, memalukan, menyedihkan, membahagiakan, membuat tertawa dan menangis, dan sebagainya itulah yang akan menjadi sistem nilai baginya setelah beranjak dewasa. Jika pengalaman masa kecilnya kurang lengkap terhadap sistem nilai ini maka biasanya saat dewasa ‘bermasalah’.

3). Tidak mengenal kata ‘sulit’. Karena memang dia tidak tahu. Yang ada hanyalah, ingin memperoleh sesuatu. Jika dia tidak bisa memperoleh, dia akan berusaha terus untuk memperolehnya. Sekarang gagal, ya nanti. Nanti gagal, ya besok. Besok gagal, ya lusa. Dan seterusnya. Orang-orang di sekitarnyalah yang menyugesti dia untuk menganggapnya sulit. Padahal, sebenarnya bagi dia ‘mudah’ dan ‘sulit’ itu sama saja.

4). Melihat dan meniru apa yang ada di sekitarnya. Sejak kecil anak-anak tidak tahu apa-apa. Dia menjadi tahu segala sesuatu karena melihat dan meniru yang ada di sekitarnya. Mulai dari cara tertawa, cara menangis, cara makam, cara mandi, tidur, bekerja, berpakaian, bergaul, berbahasa, sampai beragama. Karena itu, kita bisa mengenal asal usul suatu suku bangsa dari cara dia menyikapi dan melakukan sesuatu. Suku Jawa, suku Madura, Batak, Sunda, atau Cina, Arab, Eropa, Amerika, dan seterusnya, mereka memiliki kekhasan yang sama karena belajar dari lingkungan yang sama sejak kecil. Bagi orang Indonesia, bahasa Inggris dan Arab adalah sulit misalnya, tetapi bagi anak-anak yang terlahir di Inggris dan Arab tidak ada kata sulit. Demikian pula sebaliknya.

Maka, kalau kita meniru proses pembelajaran pada seorang anak, kita akan memperoleh analoginya untuk proses pembelajaran dan pendidikan agama bagi umat Islam. Bahwa cara belajar yang paling efektif itu adalah:

1). Dimulai dari keingintahuan yang besar. Kalau sang pembelajar sendiri sudah tidak ingin tahu tentang hal tersebut, maka proses pembelajaran dengan metode apa pun tidak akan efektif. Untuk menjadi efektif, kita harus membangkitkan dulu rasa keingintahuan mereka. Ini bagi saya syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang pembelajar. Bagaimana caranya membangkitkan keingin tahuan itu? Tentu saja sangat beragam tergantung situasi dan kondisi yang menyertainya. Tetapi yang paling efektif, menurut saya, adalah harus melibatkan kepentingan sang pembelajar sendiri. Kalau dia saja sudah menganggap tidak berkepentingan dengan topik yang sedang dibicarakan, tentu saja dia tidak akan tertarik. Dan kalau sudah tidak tertarik, tentu tidak efektif.
Karena itu, untuk bisa mengenal Allah misalnya, kita harus mengenal diri sendiri. Supaya apa? Supaya kita tahu bahwa diri kita memiliki berbagai keterbatasan. Kalau sudah tahu dirinya serba terbatas, maka ia akan merasa membutuhkan ’sesuatu’ di luar dirinya yang bisa membuat dia memperoleh kepentingannya. Awalnya mungkin dia meminta tolong kepada sesama. Tetapi setelah dia tahu bahwa sesamanya juga memiliki serba keterbatasan, dia akan mencari yang lebih tinggi lagi. ’Sesuatu’ yang memiliki kriteria ’serba hebat’ dalam segala hal. Sehingga ketika dia memperoleh masalah dia bisa curhat dan minta tolong kepada-Nya. Menjadi tempat bergantung dan berlindung. Dari sinilah kemudian proses bertuhan itu bergulir secara alamiah. Tentu saja, melewati tingkatan-tingkatan yang akan menggiringnya sampai ke pertemuan dengan Sang Penguasa alam semesta secara hakiki.

2). Jangan merasa takut dan malu dalam beragama. Perasaan takut dan malu ini seringkali dimunculkan oleh pihak-pihak diluar diri kita. Misalnya oleh guru atau orang tua yang doktrinal. Misalnya, ditanamkan kepadanya, kalau dia belajar sendiri pasti akan gagal. Akan tersesat. Ditemani setan, dan sebagainya. Kenapa tidak dikatakan sebaliknya saja. Kalau dia rajin belajar sendiri dia akan sukses, punya wawasan yang luas yang mengantarkannya pada kesuksesan, dan ditemani oleh Allah Sang Maha Berilmu. Yang demikian tentu sangat positip buat sang pembelajar.
Kalau belum apa-apa sudah takut dan malu, maka proses pembelajarannya akan terhenti. Allah pun di dalam al Qur’an selalu memotivasi kita untuk bangkit dengan semangat yang kuat. Misalnya, dikatakan-Nya bahwa Dia tidak membebankan apa-apa yang lebih dari kekuatan kita. Dia juga mengajarkan, bahwa Dia mengampuni dosa-dosa yang dilakukan karena ketidaksengajaan. Dan sebagainya.

QS. Al Baqarah (2): 286
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari) yang dikerjakannya...

QS. Al Baqarah (2): 225
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud, tetapi Allah menghukum kamu disebabkan yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Maka bebaskanlah perasaan dan pikiran kita dalam proses belajar. Mirip anak kecil yang pingin tahu segala. Yang penting niatnya diluruskan dulu. Karena, kata Nabi, hasil usaha kita itu akan berbanding lurus dengan niat yang kita tanamkan sejak awal. Kalau niatnya sudah buruk, hasilnya pasti buruk. Tetapi, kalau niatnya ingin menjadi lebih baik, Insya Allah hasilnya akan lebih baik ke masa depan. Yakinlah, jangan ragu sedikitpun.

QS. Faathir (35): 43
...Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri...

Sebagian besar kegagalan sebenarnya disebabkan oleh faktor internal daripada eksternal. Ada yang disebabkan oleh keragu-raguan dan ketidakyakinan. Ada yang disebabkan oleh kurang kerasnya usaha. Ada yang disebabkan oleh ketidak konsistenan dalam mencapainya.

Perbedaan antara orang sukses dan tidak sukses itu sebenarnya hanya satu saja. Yakni, orang yang tidak sukses: ketika gagal dia tidak bisa bangkit lagi. Sedangkan orang yang sukses: ketika gagal, dia bangkit lagi. Gagal, bangkit lagi. Gagal bangkit lagi, dan seterusnya. Sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Jika pun dia tidak memperoleh persis seperti apa yang dia harapkan, dia tetap berpuas diri menerima apa yang telah dicapai dengan usaha kerasnya itu. Dan, dia bisa mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut untuk upaya berikutnya. Pada hakekatnya, dia tetap sukses memperoleh manfaat dari seluruh upaya yang telah dia lakukan.

3). Perasaan ’sulit’ akan sesuatu sebenarnya ditanamkan dari luar diri kita. Misalnya, ada yang mengatakan: memahami al Qur’an itu sulit lho..! Syaratnya banyak, ada belasan. Harus ini dulu, harus itu dulu, dan seterusnya, barulah boleh mempelajari al Qur’an. Ada pula yang mengatakan shalat khusyuk itu juga sulit lho..! Harus begini, harus begitu, dan seterusnya baru bisa khusyuk. Dengan cara begini, sang pembelajar sudah memperoleh ’beban’ dulu. Dan akhirnya, benar-benar menemui kesulitan. Padahal itu adalah sugesti yang telanjur tertanam di alam bawah sadarnya.
Kenapa tidak dikatakan saja bahwa belajar agama ini mudah. Persis seperti yang diajarkan Allah. Bahwa al Qur’an ini mudah untuk dipelajari, maka pelajarilah. Bahwa beragama ini mudah, dan Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-hamba-Nya, bukan hendak menyulitkannya. Dan seterusnya.

QS. Al Qamar (54): 17
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

QS. Al Baqarah (2): 185
... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...

Sehingga Allah memotivasi kita dengan firmannya, bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Dalam istilah lain, sebenarnyalah ’kesulitan’ itu diciptakan satu paket dengan ’kemudahan’. ’Masalah’ diciptakan satu paket dengan ’solusi’. Penyakit diciptakan satu paket dengan obatnya. Dan seterusnya. Tinggal bagaimana kita bisa menemukan pasangan paket tersebut. Agama adalah sesuatu yang mudah dan menyenangkan, serta memberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan.

QS. Alam Nasyrah (94): 5-6
Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

4). Proses pembelajaran tidak terlepas dari melihat contoh dan menirunya. Itulah teknik yang sangat efektif. Belajar bahasa misalnya, lihat dan amati saja orang-orang yang menggunakan bahasa itu dalam kesehariannya, dan kemudian tirulah. Maka Anda akan bisa berbicara seperti pengguna aslinya. Demikian pula belajar ilmu-ilmu lainnya. Amati, pahami, tirukan, biasakan, dan Anda pun menjadi BISA. Tentu saja ada yang sekedar bisa, tapi ada juga yang ahli, bergantung pada banyak hal yang menyertai proses pembelajarannya.
Proses beragama juga demikian. Mendidik anak, keluarga, dan umat harus dengan keteladanan. Tidak bisa hanya dengan omongan. Yang demikian dikritik keras oleh Allah di dalam al Qur’an. ’Jangan hanya ngomong, sesuatu yang tidak kita kerjakan’. Karena yang demikian ini tidak memberikan pendidikan secara efektif. Dan sebaliknya mendidik umat menjadi orang-orang yang munafik.

QS. Ash Shaff (61): 3
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.

Maka, tanamkanlah proses beragama itu lewat keteladanan. Cara shalat kita akan ditiru anak-anak kita. Cara berpuasa kita juga ditiru mereka. Cara berdoa, cara bersedekah, cara bersikap terhadap orang lain, cara bebicara, cara berpikir, cara menganalisa masalah, cara memutuskan persoalan, cara membuat perencanaan kemasa depan, sampai pada cara kita ’besikap’ tehadap Tuhan dengan segala dinamika ujian yang diberikan kepada kita, atau pun mensyukurinya. Kuncinya adalah: keteladanan, keteladanan dan keteladanan...!

QS. Mumtahanah (60): 4
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia...

QS. An Nahl (16): 120
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),

QS. Al Ahzab (33): 21
Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...

Tentu saja yang dimaksud berteladan tidak harus sama persis secara fisikal. Melainkan ’sejiwa’ secara substantif. Karena, sepersis apa pun kita meniru orang lain, tidak akan pernah menjadi orang lain itu. Kita tetap akan menjadi diri kita sendiri. Cuma ’ketularan’ polanya saja.

Maka, bagaimanakah kesimpulan proses pembelajaran yang efektif bagi umat Islam dalam beragama? Menurut saya sebagai berikut:
1). Jika yang kita didik adalah ANAK-ANAK, maka sebenarnya itu lebih mudah. Berikan saja keteladanan agar dia meniru apa saja yang sedang kita ajarkan. Kalau kita mau dia menjadi anak yang ahli ibadah, ajaklah dia bersama-sama untuk beribadah secara istiqomah. Kalau kita mau anak kita menjadi orang yang santun dan berakhlak mulia, maka contohilah dia dalam bertutur kata dan bergaul dengan siapa saja dengan akhlak yang mulia. Jika kita ingin dia menjadi dermawan, maka ajaklah dia sering-sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kepedulian kepada kaum dhu’afa. Kalau kita ingin dia menjadi seorang pemikir hebat, maka ajaklah dia untuk berdiskusi setiap saat tentang segala macam permasalahan sehingga dia menjadi terbiasa menganalisa, menyimpulkan, memutuskan, dan mengekspresikan. Dan seterusnya.
Dalam konteks ini, orang tua dan guru harus menjadi pemicu, pemancing, fasilitator dan TELADAN. Karena sang anak tidak akan meniru apa yang diomongkan, kalau ternyata dia melihat kontradiksi antara omongan dan perbuatan guru atau orang tuanya. Atau, setidak-tidaknya dia akan meniru cara melakukan ’kontradiksi’ itu. Misalnya, dia akan menjadi pembohong. Di mulut mengatakan A, di hati B, di perbuatan C.

Sebagai seorang panutan, tentu guru atau orang tua harus tampil seutuhnya. Kepandaiannya akan ditiru. Cara menyampaikan gagasan akan ditiru. Cara menjawab juga ditiru. Cara menghindar dan menyelamatkan diri juga ditiru. Termasuk cara marah atau sabarnya ketika dikritik juga akan ditiru. Bahkan sampai kualitas keikhlasan yang terpancar dari sikapnya pun akan ditiru.

Jangan segan untuk menunjukkan ketidaktahuan di hadapan anak-anak kita. Justru, itu harus dijadikan sebagai momentum untuk mengajarkan kejujuran, sekaligus motivasi untuk pantang menyerah dalam mencari jawaban atas ketidaktahuan tersebut. Keteladanan untuk terus belajar, dan tidak malu dengan ketidak tahuan, asalkan terus berusaha mencari solusinya. Karena sesungguhnya sikap tidak bisa dibentuk dengan omongan, melainkan dengan keteladanan. Dan kemudian dibiasakan.

2). Jika yang kita hadapi adalah orang dewasa, yang sudah PUNYA sistem nilai yang terbentuk sebelumnya. Dan sudah menjalankan keyakinannya. Ini lebih sulit. Karena mereka sudah memilikibarrier alias dinding penghalang di benaknya, dalam bentuk yang beragam. Sangat bergantung pada masa lalunya. Apakah dia orang yang terbuka terhadap segala hal yang baru, ataukah dia orang yang tertutup dan ’keukeuh’ dengan pendapat lamanya. Yang paling sulit, adalah mereka yang sebelumnya sudah masuk dalam lingkaran doktrinal.
Ada beberapa teknik untuk mengajak mereka belajar agama. Tetapi pada dasarnya semuanya sama, yakni: melibatkan sang pembelajar untuk mengalami dan menjiwai sendiri apa yang sedang dipelajari. Kalau tidak, hasilnya dijamin tidak akan efektif. Biasanya akan muncul sikap acuh tak acuh, merasa tidak butuh, menganggap remeh, tidak berkepentingan, bahkan buang-buang waktu saja.

Yang ’paling mudah’, dalam kelompok ini, adalah jika mereka bertanya duluan. Yang demikian ini sudah terpenuhi syarat utamanya, yakni dia ’ingin tahu’ dan merasa ’membutuhkan’. Kecuali, kalau pertanyaannya hanya untuk ngetes.. :(  Pada kelompok pertama ini, halangan psikologisnya relatif lebih rendah. Kita tinggal memberikan jawaban yang logis dan bisa diterima oleh akal sehatnya saja, sambil tentu saja tetap menunjukkan keteladanan. Bahwa kita juga melakukan apa yang menjadi jawaban kita itu.

Yang ’kurang mudah’ adalah mereka yang tidak bertanya tetapi memiliki pemikiran yang terbuka. Keingin-tahuannya terhadap masalah tersebut agak kurang, sehingga kita harus pandai-pandai ’menarik perhatiannya’. Supaya dia menganggap topik pembicaraan kali ini adalah bagian dari kepentingan dan kebutuhannya.

Yang ’agak tidak mudah’, adalah mereka yang membantah dengan konsep yang berseberangan. Sebenarnya mereka sudah tertarik dengan topik tersebut, tetapi berbeda pendapat. Kita harus bisa ’menunjukkan’ titik lemah dari pendapat dia terlebih dahulu, baru kemudian mengajukan konsep kita kepadanya. Jika dia orang yang terbuka, biasanya bisa menerima dengan lapang dada.

Dan yang ’tidak mudah’ adalah mereka yang ’menyerang’ dengan konsep yang berbeda, tetapi sambil menutup hati dan pikirannya untuk menerima apa pun yang berbeda dengan pendapat dia. Yang ini ’sama tidak mudahnya’ dengan mereka yang tidak bertanya, tapi sambil menutup hati dan pikirannya dari pendapat apa pun yang berbeda dengannya. Istilahnya cuek bebek... :(

QS. Al Baqarah (2): 88
Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Sungguh Allah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali diantara mereka yang ( bisa) beriman.
 
Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~


oleh Agus Mustofa pada 7 Januari 2011 pukul 19:41

Rabu, 05 Januari 2011

PANCA INDERA & BLACK BOX BERNAMA OTAK

Otak adalah organ manusia yang paling canggih, yang sampai sekarang belum ’dikenal’ secara detil mekanisme kerjanya. Sehingga, salah seorang kakak saya yang dokter saraf pun menyebutnya sebagai ’black-box’. Sebuah ’kotak-hitam’ yang begitu misterius. Terutama jika dikaitkan dengan fungsi jiwa yang berada di ’baliknya’.

Suatu kali saya berdiskusi dengannya panjang lebar. Dan saya tanyakan, bagaimanakah proses yang terjadi di dalam otak, sehingga sebuah ’kehendak’ yang begitu abstrak bisa berubah menjadi sinyal listrik yang ditransfer ke organ-organ tubuh sebagai sebuah perintah untuk bergerak, misalnya. Jawaban yang saya terima hanya ’gelengan kepala’.

Saya tanya lagi, ketika seseorang melihat suatu pemandangan yang indah lewat matanya, dan kemudian pemandangan itu diterjemahkan oleh retina menjadi sinyal-sinyal listrik yang diteruskan ke pusat penglihatan di otak. Sebenarnya apakah yang sedang terjadi? Kenapa manusia bisa men-translate sinyal-sinyal itu menjadi sebuah ’rasa keindahan’? Apakah bentuk rasa keindahan itu? Dia bukan materi, dia bukan energi, melainkan ’persepsi’. Siapakah yang ’merasakan’ persepsi keindahan itu di dalam otak? Bukankah ’otak robot’ secanggih apa pun tidak pernah bisa ’merasakan’ keindahan?

Bukan hanya mata, tetapi juga merdunya  suara, semerbak harum aroma bunga, rasa asin manis dalam sebuah selera, dan kasar halus atau panas dinginnya cuaca. Bukankah semua itu sekedar sinyal-sinyal listrik yang dihantarkan susunan saraf sensorik ke otak belaka? Dan kemudian diubah menjadi sebuah image yang bisa ’dipersepsi’?

Kakak saya yang dokter saraf itu pun kembali menggeleng-gelengka kepalanya. Dia kemudian mengatakan begini. Dunia luar dan alam jiwa itu memiliki perbatasan di otak. Apa yang ada di ’dunia luar’ dan di ’alam jiwa’ sama sekali berbeda. Otak menjadi semacam interface alias ‘alat penerjemah’ dari alam dunia ke alam jiwa. Mirip sebuah kotak hitam yang ajaib.

Sinyal-sinyal listrik yang berasal dari dunia luar jika masuk kepadanya akan diubah menjadi sebuah persepsi yang abstrak. Seperti rasa keindahan, kesedihan, kebahagiaan, keinginan, ketentraman, semangat, putus asa, rindu, dendam, iri, dengki, yakin, ingkar, dan sebagainya, yang itu bukan berbentuk materi atau energi. Melainkan ’persepsi’ alias ’perasaan’ yang sangat abstrak. Dalam istilah kedokteran jiwa disebut sebagai ’fungsi luhur’.

Sebaliknya, jika perasaan jiwa yang sangat abstrak itu kembali melewati otak, maka ia akan diubah menjadi sinyal-sinyal listrik yang kemudian diurai menjadi zat-zat neurotransmitter yang bersifat material dan memiliki energi mekanik, sehingga bisa menjadi sebuah perintah untuk bergerak atau menghasilkan aktivitas motorik pada organ tubuh kita. Lha, kok bisa sesuatu yang ’abstrak’ diubah menjadi materi / energi yang terukur, dan sebaliknya? Bagaimana mekanismenya? Sekali lagi, belum ada ilmuan yang bisa menjawabnya dengan tuntas.

Jawaban yang muncul adalah: ’pokoknya’, kalau ada sinyal listrik masuk ke otak melalui saraf-saraf sensorik, otak akan mengubahnya menjadi ’persepsi jiwa’ yang abstrak. Sebaliknya jika ada persepsi jiwa yang melewati otak, maka ia akan diubah menjadi sinyal-sinyal listrik berupa energi mekanik yang kemudian menjalar pada saraf-saraf motorik.

Jadi, jiwa tak pernah bersinggungan langsung dengan dunia luar. Ia ’melihat’ alam dunia lewat sebuah jendela bernama ’Otak’. Jika si manusia tidak punya otak, maka sang jiwa pun tidak punya jendela untuk ’melihat’ alam dunia. ’Jendela’ berupa otak itu memiliki kepanjangan tangan, yakni: enam indera. Yang lima adalah mata, telinga, hidung, lidah & kulit. Sedangkan yang keenam adalah sebuah sistem medan elektromagnetik yang membentuk poros antara otak-jantung.

Yang lima indera bekerja secara elektromagnetik lewat sistem saraf dengan memanfaatkan sifat konduksi kelistrikan. Sedangkan yang keenam bekerja secara radiasi medan elektromagnetik. Kecepatan rambat listrik dalam sistem saraf manusia adalah sekitar 120 meter/ detik. Sedangkan radiasinya jauh berlipat kali lebih cepat, bergantung pada seberapa tinggi frekuensi ataupun panjang gelombang yang terpancar.

Pada mekanisme pancaindera, otak akan menghasilkan zat-zat neurotransmitter yang menjadi perantara antara otak dengan ujung saraf-saraf tepi. Baik yang masuk ke otak maupun yang berasal dari otak. Sedangkan pada mekanisme radiasi indera keenam, bertumpu pada getaran gelombang beta (>13 Hz), alfa (8-13 Hz), teta (4-8 Hz) dan delta (< 4 Hz). Serta variasi sinyal informasi yang menumpanginya.

Maka kalau kita perhatikan sungguh sangatlah menakjubkan, organ yang bernama otak itu. Seluruh aktifitas manusia – tubuh dan jiwa – dikendalikan secara sinergis disini. Keseimbangan antara dunia luar dan dunia dalam semuanya bertumpu disini. Dan menariknya, otak tidak memiliki pusat kendali. Karena, semua sel otak yang berjumlah sekitar 100 miliar itu memiliki peran sentral. Jika rusak satu, maka fungsi otak itu pun bakal menurun. Sebaliknya, jika sel-selnya berkembang sehingga membentuk sirkuit-sirkuit yan lebih tebal dan meluas, otak tersebut akan meningkat performanya.

Sebagai misal, jika otak dilatih untuk mengingat secara terus menerus, maka sel-sel yang terkait dengan memorinya akan berkembang. Ukurannya menjadi lebih besar, ’kabel-kabel’ sarafnya menebal, jumlah selnya bertambah banyak, dan kemudian membentuk sirkuit saraf memori yang hebat. Orang tersebut menjadi memiliki ingatan yang tajam. Sebaliknya, jika ingatan kita tidak pernah dilatih, maka sel-selnya akan melemah, menyusut, dan kemudian sirkuitnya mengecil. Mirip dengan otot yang dilatih fitness dan tidak. Semakin lama dilatih, semakin kuat untuk digunakan mengangkat beban berat.

Demikian pula kemampuan analisa, kemampuan berlogika, kemampuan menahan emosi, dan kemarahan, mengendalikan kesabaran, dan berbagai sifat-sifat kebaikan, semua itu akan melatih ’otot-otot’ dalam otak kita supaya menjadi lebih handal. Tentu saja, butuh waktu untuk membuatnya hebat. Semakin hebat kemampuan otak seseorang, maka semakin besar pula volumenya.

Dan karena ukuran tempurung kepala kita relatif tetap, maka perkembangan otak itu akan membentuk lipatan-lipatan di permukaannya. Semakin banyak lipatannya, menunjukkan otak tersebut semakin cerdas dan sering dipakai. Sebaliknya, semakin sedikit lipatannya, semakin kurang cerdas karena jarang dipakai. Jadi salah besar kalau kita ’menyayangi’ otak kita dengan cara jarang-jarang memakainya. Konon, otak orang Indonesia banyak yang masih mulus permukaannya dan tidak banyak lipatannya, karena terlalu ’disayang-sayang’ pemakaiannya...! :(

Nah, maka dalam konteks yang sedang kita bicarakan ini, indera kita adalah jendela bagi jiwa untuk memahami dunia. Pusat imaging-nya ada di otak. Dan ’pemirsanya’ ada di balik otak. Allah menciptakan indera kita itu agar kita bisa memahami alam semesta yang diciptakan-Nya. Yang tanpanya kita tidak akan mengerti apa-apa. Persis seperti yang Dia ungkapkan di dalam firman-firman-Nya.

QS. An Nahl (16): 78
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (indera keenam) agar kamu bersyukur.

QS. Al An’aam (6): 46
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap tidak memperhatikannya.

Ya, apakah jadinya kalau Allah mencabut kemampuan indera kita, termasuk hati sebagai indera keenam untuk memahami? Maka, kita akan seperti disekap di dalam sebuah ruangan gelap gulita kedap cahaya, kedap suara, kedap suasana, kedap segala-galanya, termasuk kedap rasa. Bahkan tanpa ingatan yang masih ada di dalam memori otak kita. Sehingga persepsi kita menjadi kosong melompong.

Meskipun segala hiruk pikuk ada di sekitar kita, tidak akan terdeteksi oleh jiwa, karena seluruh jendela untuk ’mengamati’ alam dunia telah tertutup. Jiwa kita benar-benar bakal ’sendirian’ karena otak yang berada di dalam tempurung kepala telah terisolasi dari dunia sekitarnya. Agaknya, begitulah lorong gelap kematian yang bakal menyergap jiwa, sesaat setelah maut datang menjemput. Yakni, ketika seluruh saraf-saraf sensorik kita hancur bersama membusuknya seluruh jaringan sel-sel tubuh.

Ini mirip sebuah pesawat televisi yang tak memunculkan gambar dan suara apa pun karena antenanya tak menangkap sinyal-sinyal elektromagnetik yang berseliweran di sekitarnya. Apalagi jika diputus dari sambungan listriknya. Itulah saat-saat datangnya kematian. Oleh karena itu, hilangnya fungsi panca indera dan hati benar-benar bisa bagaikan datangnya kematian saat seseorang masih menjalani kehidupannya.

Maka bersyukurlah kepada Allah yang telah menciptakan indera dan hati. Yang dengannya kita menjadi bisa menikmati segala keindahan ini. Memang semuanya serba dibatasi kemampuannya. Tetapi, justru itu kita harus mensyukurinya. Bayangkan betapa menderitanya, jika seluruh indera kita memiliki kemampuan yang tidak terbatas. Anda akan bisa melihat benda-benda kecil yang selama ini tidak kelihatan. Mulai dari kuman-kuman, bakteri, virus, molekul, atom dan elektron yang bergetar-getar memusingkan, sampai pada bangsa jin yang bentuknya menyeramkan. Bahkan segala dinding pembatas yang kita buat di rumah-rumah kita, tidak ada gunanya lagi karena kita bisa melihat segala yang ada di baliknya. Apakah kehidupan ini tidak bertambah semrawut karenanya?

Demikian pula jika pendengaran kita tidak dibatasi oleh-Nya. Seluruh suara di alam semesta akan terdengar dengan jelasnya. Oh, betapa menderitanya. Suara di kejauhan yang mestinya tidak ingin kita dengar, kini menjadi terdengar sebagaimana suara-suara di dekat kita. Suara-suara yang tadinya pelan, kini terdengar sama kerasnya dengan suara-suara yang memekakkan telinga. Suara-suara makhluk gaib yang tadinya tak kita sadari, kini bersaing dengan makhluk-makhluk yang kelihatan. Bahkan, bayangkan, seluruh suara di luar angkasa nun jauh disana kini terdengar sebagaimana suara getaran partikel-partikel di alam sekitar kita. Betapa memekakkannya dunia kita. Sungguh tak bisa kita bayangkan betapa menderitanya hidup manusia..!

Nah, Allah membatasi semua itu dengan menyetel kemampuan panca indera, hati, dan akal kita, supaya kita bisa menikmati segala karunia-Nya. Sungguh Dia Maha Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana...

 Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~


oleh Agus Mustofa pada 4 Januari 2011 pukul 18:02


Jumat, 31 Desember 2010

BAGAIMANA RUH, BAGAIMANA JIWA

Misteri jiwa dan ruh selalu menjadi perbincangan yang sangat menarik. Karena dengan memahami ruh dan jiwa, kita akan lebih mengenal diri sendiri. Sekaligus, bisa mengenal asal-usul kita. Dan mengantarkan untuk bertemu dengan Dzat yang menciptakan manusia.
 
Sayangnya, belum apa-apa sudah ada yang ’melarang’ untuk membahasnya. Terutama tentang ruh. Yakni mereka yang mengambil ayat Qur’an berikut ini sebagai landasannya.
 
QS. Al Israa’ (17): 85
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
 
Sebenarnya, kalau kita cermati ayat di atas, sama sekali tidak ada kata larangan itu. Yang ada cuma mengatakan bahwa ruh itu termasuk ’urusan tuhan’. Kalimat ini bukan ’kata perintah’ untuk tidak boleh melakukan. Maksimal cuma mengingatkan dan memberikan stressing tentang rumitnya masalah ruh. Dan kemudian, ini sesuai dengan penjelasan dalam kalimat berikutnya, bahwa manusia diberi ilmu tentang ruh ini cuma sedikit. Dan memang kemudian terbukti, ilmu tentang ruh tidak cukup berkembang dalam peradaban manusia. Tetapi, sekali lagi, Allah tidak melarang kita untuk membicarakannya...
 
Berbeda dengan jiwa. Ketika berbicara tentang jiwa, Allah justru mendorong kita agar memikirkan dan belajar tentangnya. Karena di dalam ilmu jiwa ini ada hikmah yang sangat berharga buat kehidupan manusia.
 
QS. Az Zumar (39): 42
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.
 
Karena itu, ilmu tentang jiwa berkembang pesat. Sangat jauh kalau dibandingkan dengan ilmu tentang ruh. Dulu ilmu jiwa disebut sebagai Psikiatri, yang membahas secara global fenomena jiwa manusia. Namun, karena semakin kompleks, lantas dipecah menjadi dua, yakni psikiatri dan ilmu saraf. Yang pertama mengurusi fungsi jiwa secara abstrak, sedangkan yang kedua mengurusi jiwa terkait dengan struktur saraf manusia. Keduanya berada dalam wilayah ilmu kedokteran jiwa.
 
Lebih lanjut, berkembang menjadi psikologi, yang berbicara tentang potensi jiwa di luar bidang kedokteran. Kemudian muncul psiko-neuro-imunologi yang mengaitkan kemampuan daya tahan tubuh manusia dengan kualitas kejiwaannya. Ada pula psycho-cybernetics yang membahas tentang rahasia alam bawah sadar. Dan, akhir-akhir ini ngetrend ilmu baru yang disebut sebagai psikotronika, yang mengulas tentang kekuatan pikiran secara mekatronika.
 
Ringkas kata, benar sinyalemen al Qur’an bahwa ilmu tentang jiwa akan berkembang terus seiring dengan peradaban manusia. Sedangkan ilmu tentang ruh hampir-hampir jalan di tempat. Pembahasan tentang keduanya, dengan segala keterbatasannya, akan mengantarkan kita kepada lorong misteri panjang yang berujung pada kekuasaan Allah.
 
Meskipun tidak persis, saya sering menganalogikan struktur diri manusia dengan komputer. Yakni, manusia memiliki badan, jiwa dan ruh yang bisa digambarkan seperti hardware, software, dan sumber listrik yang menghidupinya. Badan manusia seperti hardware alias ’perangkat keras’ komputer saja layaknya. Terbuat dari material pilihan, yang dibentuk menjadi sirkuit-sirkuit canggih sebagai ’body’ dengan kualitas tertentu.
 
Manusia juga demikian. Bahan dasar tubuhnya dipilihkan Allah dari puluhan unsur yang ada di dalam tanah bumi, kemudian disusun menjadi tubuh manusia yang sangat canggih. Ada tulangnya, ada ototnya, ada daging, darah, saraf, jantung dan berbagai organ dalam, serta otak dan susunan saraf, yang menjadi ’mother-board’ dengan ’IC’ dan segala ’komponen elektroniknya’. Ini kelak akan sangat berpengaruh bagi terciptanya kualitas seorang manusia lebih lanjut. Jika kualitas badannya sudah tidak baik, maka sangat boleh jadi performanya pun kurang maksimal.
 
’Lapisan’ kedua adalah jiwa, yang dalam komputer dianalogikan sebagai software alias perangkat lunak. Kalau mother-board dan berbagai komponennya sudah memadai, maka software yang dimasukan ke dalamnya pun bisa bagus. Sebaliknya jika ’terlalu bagus’ software-nya, komputer itu pun bakalan hang. Mogok. Nah, jiwa adalah software. Mulai dari operating system sampai program-program aplikasinya.
 
Semakin tinggi spesifikasi teknis komputer itu, dan semakin bagus program-program yang digunakannya, maka semakin hebat pula performa si komputer. Sebaliknya, semakin rendah spec-nya, semakin rendah pula kualitas programnya, dan semakin rendah pula kemampuan komputer.
 
Yang menarik, pada manusia, pembentukan dan penyempurnaan perangkat keras dengan perangkat lunaknya terjadi secara bersamaan. Yakni, ketika berada di dalam kandungan sang ibu. Disanalah Allah menciptakan ’rangkaian dasar’ tubuh manusia sekaligus ’memrogram’ isinya dengan operating system yang terbuka untuk pengembangan kualitas lebih lanjut.
 
Sedangkan ’program-program aplikasi’ bisa dimasukkan seiring dengan pertumbuhan bayi di dalam rahim sampai saat ia telah terlahir ke dunia. Bahkan sampai dewasa kelak. Atau, sampai menjelang kematiannya. Maka, selain badan yang terus disempurnakan, Allah pun terus menerus menyempurnakan kualitas jiwa seseorang.
 
QS. Asy Syams (91): 7-10
Demi jiwa serta proses penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan (memasukkan software) kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
 
Siapa saja yang memasukkan sifat-sifat baik ke dalam jiwanya, maka ia sedang memasukkan program-program aplikasi yang akan meningkatkan performa komputer. Sebaliknya, yang memasukkan sifat-sifat jelek, sama saja dengan memasukkan virus-virus akan akan membuat hang komputernya. Bahkan bisa sampai merusak hard-disk segala jika tidak segera diatasi.
 
Nah, sifat-sifat jelek tidak akan merugikan selain kepada diri kita sendiri. Bahkan terbukti bisa merusak kualitas otak seseorang jika sudah terjadi secara kronis dan akut. Kebohongan, kebencian, iri, dengki, dendam, sombong, serakah, dan berbagai sifat jahat yang dilarang Allah, hanya akan memunculkan kerusakan sistem saraf kita sendiri. Persis seperti cara kerja virus-virus komputer.
 
Sebaliknya, ketulusan, kesabaran, kerendah-hatian, kasih sayang, dan berbagai sifat baik yang dicontohkan Rasulullah akan menguatkan dan mengoptimalkan sistem kerja saraf dan kejiwaan kita. Dan ujung-ujungnya, akan menyebar ke seluruh tubuh kita sehingga menjadi sehat lahir dan batin.
 
Pusat jiwa ada di balik otak. Jika otak dengan segala susunan sarafnya rusak, maka jiwa pun akan mengalami kerusakan. Orang gila, hilang ingatan, idiot, alzhemeir, sadistis, dan berbagai gangguan kejiwaan, ternyata menunjukkan adanya kelainan pada susunan dan sistem kerja sarafnya. Sebaliknya, orang yang mengalami kerusakan pada sistem sarafnya, dipastikan juga akan mengalami gangguan fungsi jiwanya. Ya, kita telah memperoleh sinyal sangat kuat, bahwa jiwa bersemayam di balik otak.
 
Karena itu, perbaikan kualitas jiwa seiring dengan perbaikan kualitas otak. Bukan hanya otak dalam arti logika, memori, rasionalitas, dan analisa. Melainkan juga dalam arti emosional dan spiritual. Otak adalah organ yang secara utuh mewakili kualitas jiwa seseorang yang tergambar dalam sistem limbiknya. Karena itu, meskipun kedokteran masa depan sedemikian maju, sehingga bisa melakukan transplantasi ginjal, liver, sampai jantung sekalipun, para ahli ini tidak akan melakukan transplantasi otak. Karena, jika sampai terjadi transplantasi otak, seluruh kepribadian orang itu akan berganti menjadi orang lain sama sekali..!
 
Jika jiwa berada di balik otak, dimanakah sang ruh berada? Ruh adalah aktor yang berada di balik hidup-tidaknya seorang manusia. Mirip dengan listrik yang menghidupi komputer. Dimana pun Anda colokkan kabel listrik komputer Anda, maka komputer itu bisa hidup. Tentu saja asal spec listriknya sesuai. Komputer saya, komputer Anda, dan komputer kawan-kawan kita semua membutuhkan listrik yang sama.
 
Yang membedakan hanyalah perangkat keras dan perangkat lunaknya. Demikian pula ruh kita, adalah sama. Ialah sifat-sifat Ketuhanan yang sudah melingkupi seluruh alam semesta. Mulai dari yang kita anggap ’benda-benda mati’, tumbuhan, binatang, malaikat, jin, sampai manusia. Semuanya berada di dalam Dzat yang Maha Hidup. Tinggal seberapa tinggi kualitas badan dan jiwa yang akan tersambung kepada Ruh Kehidupan, itulah yang akan menentukan seberapa tinggi kualitas ’kehidupan’ yang melingkupinya.
 
Dari semua makhluk, yang tertinggi adalah manusia. Karena itu, manusialah yang disebut mendapat tiupan ’sebagian’ ruh-Nya secara sempurna. Sedangkan yang lain, memperoleh dalam skala yang lebih rendah. Dalam sudut pandang ini, ternyata tidak ada makhluk mati di alam semesta ini. Yang ada cuma perbedaan kualitas kehidupannya belaka...
 
Maka, dimanakah ruh ilahiah itu bersemayam di dalam diri kita? Tentu saja bersemayam di seluruh penjuru tubuh kita. Mulai dari rambut sampai ujung kuku jari kaki. Mulai dari sel-sel sebagai unit terkecil kehidupan sampai pada jaringan sel, organ dan tubuh secara keseluruhan. Karena itu, rambut kita hidup, mata kita hidup, mulut kita hidup, seluruh organ, jaringan dan sel-sel, semuanya hidup. Itu karena dilingkupi oleh sifat Maha Hidup Allah yang telah ditularkan lewat sebagian ruh-Nya yang telah ditiupkan ke dalam diri kita. Dan akan mati, ketika sudah ditinggal oleh ruh yang menghidupinya. Ini mirip dengan komputer yang kehabisan listrik karena colokannya dicabut, atau baterainya telah drop.
 
Saat kematian datang, tubuh manusia mengalami kehancuran secara dramatis. Triliunan sel-selnya rusak secara bertahap dengan sangat cepat hanya dalam kurun waktu sekitar 6 jam. Dan mulai membusuk. Organ-organ dalamnya membusuk, jaringan sel-selnya membusuk, otaknya membusuk, dan darah yang membeku di dalam tubuh itu pun membusuk. Kecuali beberapa bagian, seperti tulang, gigi dan rambut. Kehidupan telah meninggalkan jasadnya, karena sang ruh telah terpisah dari badannya.
 
Kemanakah sang jiwa? Sang jiwa terlepas pula dari badan yang sudah membusuk itu. Istilah QS. Az-Zumar (39): 42 diatas: jiwanya ’ditahan’ oleh Allah. Seperti sebuah video player yang di-pause. Berbeda dengan orang yang tidur: jiwanya akan dikembalikan lagi. Ibarat video, telah di-play kembali.
 
Nah, ketika di-pause itu apa yang terjadi dengan jiwa? Sang jiwa tidak rusak, karena yang rusak memang hanya badannya. Perangkat keras alias hardware-nya saja. Sedangkan perangkat lunak alias software-nya, tidak. Hanya, tidak bisa teraplikasi disebabkan badan sebagai perangkat kerasnya tidak berfungsi lagi. Jadi, si software itu masih hidup di alamnya sendiri, yakni di alam software. Kenapa ia masih hidup? Karena sang software itu terlepas dari badan bersamaan dengan ruh, sebagai sumber kehidupan.
 
Tidak mudah memang membayangkan bagaimana ada software masih ‘hidup’ ketika dia tidak teraplikasi di dalam hardware. Tetapi, bagi yang tidak asing dengan dunia energi tentu lebih bisa membayangkan bahwa ada ‘segumpal energi’ yang bisa bergerak dan berdinamika kesana kemari meskipun tidak ‘menumpang’ pada sosok materi. Karena, selain merambat secara konduksi dan konveksi, energi juga bisa merambat secara radiasi tanpa membutuhkan perantara. Inilah yang dalam ilmu kedokteran jiwa dikenal sebagai Bioplasma alias badan halus.
 
Begitulah kira-kira pemahamannya, ketika Allah mengatakan dalam Firman-Nya bahwa manusia yang sudah mati ternyata jiwanya masih hidup.
 
QS. Al Baqarah (2): 154
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; sebenarnyalah mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.
 
Mereka hidup di dunia energi dan informasi, bukan di dunia materi yang kasat mata. Karena itu, segala aktifitas mereka adalah aktifitas-aktifitas yang bersifat energial dan informasi belaka. Diantaranya, kepada mereka ditunjukkan informasi masa depan mereka sendiri ketika kelak berada di alam akhirat. Yakni, azab neraka bagi orang-orang yang banyak berbuat jahat...
 
QS. Al Mukmim (40): 46
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras".
 
Kelak, di hari kebangkitan, sang bioplasma yang hidup bersama ruhnya itu akan dikembalikan lagi ke badan yang telah diutuhkan kembali oleh sang Pencipta. Maka, manusia akan hidup kembali seperti sediakala. Dirinya tersusun kembali dari badan, jiwa dan ruh. Dan kemudian akan memperoleh balasan sesuai amalan masing-masing dalam kehidupannya di alam akhirat...
 
QS. Yunus (10): 4
Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar dari Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya kembali (di hari berbangkit), agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas serta azab yang pedih disebabkan oleh kekafiran mereka.
 
Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~
 
 
oleh Agus Mustofa pada 30 Desember 2010 pukul 16:16
 

Selasa, 28 Desember 2010

MENYAKSIKAN SAAT-SAAT PENCIPTAAN MANUSIA

Kapankah penciptaan manusia di dalam rahim seorang ibu mulai berlangsung? Ternyata, peristiwa dahsyat itu dimulai saat sel spermatozoa sang ayah bertemu dengan sel telur sang ibu di dalam sebuah lorong gelap saluran tuba falopii. Saluran yang ada di kanan kiri perut bagian bawah seorang ibu itu adalah sebuah kanal yang menghubungkan ’sarang telur’ yang disebut ovarium dengan ’rahim’, dimana cikal bakal manusia akan ’ditumbuhkan’ oleh Sang Pencipta.

Pertemuan sel telur dengan spermatozoa merupakan sebuah drama yang sangat mengagumkan. Sebuah peristiwa yang menjadi permulaan drama panjang kehidupan seorang manusia di muka Bumi. Sebuah peristiwa multikompleks dimana sebagian takdir seorang manusia ditetapkan oleh Sang Pencipta dalam bentuk qadar. Misalnya, jenis kelaminnya, kekuatan organ-organ tubuhnya, jenis rambut dan kulitnya, warna bola matanya, bakat-bakatnya, dan sebagainya. Selebihnya, Allah memberikan sebagian sifat ’Maha Berkehendak-Nya’ kepada sang manusia untuk mengusahakan sendiri takdirnya di alam dunia.

Pra-penciptaan manusia itu dimulai dengan lepasnya spermatozoa sang ayah dari ’sarangnya’ untuk dipertemukan dengan ovum sang ibu yang juga terlepas dari ’sarangnya’. Agar bisa bertemu dengan sel telur, jutaan spermatozoa dari seorang ayah harus menempuh perjalanan panjang sekitar 10 jam. Mulai dari bagian paling luar organ reproduksi wanita, sampai di jarak sepertiga dari sarang telur sang ibu. Kira-kira, setara dengan perjalanan naik mobil dari Surabaya ke Jakarta.

Jika jutaan spermatozoa itu ’kecapaian’ dan tidak bisa mencapai posisi sel telur ibu, maka kandaslah proses penciptaan manusia itu. Misalnya, karena daya vitalitasnya memang rendah. Atau dihalangi oleh alat kontrasepsi. Atau, barangkali ’tersesat’ karena ada kelainan struktur organ sang ibu.

Dalam keadaan normal, sel spermatozoa yang berjumlah jutaan dan berbentuk kayak kecebong kecil dengan ekor yang bergetar-getar itu seperti punya radar untuk menuju ke sarang telur sang ibu. Tidak tersesat. Meskipun sebagiannya boleh jadi ’gugur’ di tengah jalan. Bagi yang bisa melintasi ruangan rahim, mereka akan terus melaju memasuki lorong gelap tuba falopii, dan kemudian terjadi pertemuan bersejarah yang meleburkan spermatozoa dan sel telur disana. Walaupun jumlahnya jutaan, yang berhasil membuahi sel telur biasanya hanya satu saja. Kecuali, terjadi proses anomali sehingga terbentuk pembelahan sel kembar dikarenakan ada sejumlah sel bibit ayah yang berhasil menerobos masuk ke dalam sel telur.

Sejak pertemuan itulah proses penciptaan manusia berlangsung, dengan pentahapan yang sangat dramatis. Dari satu telur induk hasil leburan itu, lantas membelah menjadi dua, menjadi empat, delapan, enam belas, tiga puluh dua, dan seterusnya, sampai bertiliun-triliun, hanya dalam waktu sekitar 9 bulan saja.

Yang aneh, sambil membelah menjadi triliunan sel, setiap sel yang sebenarnya identik itu seperti ada yang mengomando untuk menjadi sel-sel yang berbeda posisi dan karakter. Ada yang menjadi sel darah, sel tulang, sel daging, sel jantung, sel hati, sel usus, sel liver, ginjal, paru, mata, otak, kulit, kelenjar-kelenjar, dan seterusnya, dan sebagainya, sampai mencapai sekitar 200 jenis sel dalam tubuh manusia dewasa. Bisakah Anda bayangkan jika sel-sel itu salah menerjemahkan perintah? Misalnya, mestinya membentuk sel jantung, keliru menjadi sel mata atau sel kulit atau sel tulang. Tentu akan menjadi masalah besar bagi sang janin.

Mereka lantas berkelompok-kelompok membentuk jaringan sel yang saling berkoordinasi. Dimulai dari sejumlah sel yang berkoordinasi membentuk sel-sel embrionik, yang menjadi cikal bakal bayi. Proses ini berlangsung selama beberapa hari pertama, sel induk yang melebur di dalam saluran falopii itu pun membelah sambil bergerak turun menuju rahim. Sesampai di rahim, ia mencari tempat menempel di dinding ruang pembiakan itu. Dan kemudian melekat sambil mengeluarkan ‘akar-akar’ yang menancap di dinding rahim, agar ia bisa menyerap sari-sari makanan untuk tumbuh dan berkembang.

Fase ini oleh al Qur’an disebut sebagai ‘Alaqah’ alias ‘yang menempel’ atau ’melekat’ di dinding rahim. Ada yang menyebut ini sebagai segumpal darah. Sebenarnya itu terjemahan yang kurang tepat. Karena, ‘alaqah memang berbeda dengan sel-sel darah. Meskipun secara mata awam mirip dengan darah yang menggumpal. Seperti terlihat pada ibu yang sedang mengalami keguguran.

’Alaqah adalah kumpulan sel-sel ’primitif’ yang dikenal sebagai sel embrionik alias stem sel. Dari sel-sel embrionik inilah kemudian tubuh calon manusia itu terbentuk menjadi lebih spesifik. Yakni, membentuk gumpalan daging yang kelak akan berkembang menjadi kulit bagian luar, bagian dalam, dan sejumlah organ dalam.

Setelah itu, bermunculanlah tulang-tulang rawan di dalam gumpalan daging itu. Dalam waktu yang bersamaan, gumpalan daging dan tulang belulang itu memanjang ke arah atas dan bawah, sehingga membentuk kepala, tubuh, kaki, dan tangan. Sementara di bagian dalamnya terus membentuk organ-organ dalam yang semakin kompleks. Dan tulang belulang yang semakin mengeras itu pun dibungkus dengan otot-otot sebagai penggeraknya. Akhirnya, terbentuklah tubuh manusia dengan sangat menakjubkan.

QS. Al Mukminun (23): 12-14
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani dalam tempat yang kokoh. Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh, lalu alaqoh itu Kami jadikan gumpalan daging dan (di dalam) gumpalan daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging (otot-otot). Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Ayat diatas bercerita tentang proses penciptaan manusia dimana bahan-bahan dasar tubuh manusia disarikan dari zat-zat organik dalam tanah. Tetumbuhanlah yang ’bertugas’ menyerap saripati tanah itu, lantas diubah menjadi buah, daun, biji-bijian, dan umbi yang dimakan manusia. Kemudian, sebagiannya dicerna dan diproses menjadi sperma pada laki-laki dan sel telur pada perempuan, yang disimpan di dalam sarang yang aman. Setelah itu, prosesnya mengikuti tahapan-tahapan di atas, sampai terbentuk makhluk bernama manusia yang sama sekali berbeda dengan bahan-bahan dasarnya itu.

Allah menyebut manusia sebagai makhluk yang memiliki bentuk sebaik-baiknya. Di dalamnya ada jiwa yang disempurnakan. Dan, kepadanya ditiupkan ruh saat penciptaanya. Kapankah jiwa dan ruh itu terbentuk? Apakah bersamaan dengan badan yang diciptakan secara bertahap sebagaimana diceritakan diatas? Ataukah sebelum ada badan sudah ada jiwa dan ruh? Dan konon mereka sudah bersyahadat? Siapakah yang bersyahadat itu dan kapan? Kenapa kita tidak ingat?

Kita bisa menelusurinya lewat proses penciptaan itu di data-data kedokteran, sekaligus melakukan cross-check secara Qur’ani.

1). Bahwa permulaan kehidupan manusia adalah saat bertemunya spermatozoa dengan ovum. Masa sebelum itu, manusia disebut sebagai belum berbentuk apa-apa. Badannya belum terbentuk, jiwanya belum terbentuk, ruh-Nya belum ditiupkan. Menurut istilah ayat di bawah ini, saat itu manusia berbentuk makhluk yang ’belum bisa disebut’. Barulah setelah itu, Allah bercerita bahwa manusia diciptakan dengan cara mencampurkan air mani (dari laki-laki dan perempuan).

QS. Al Insaan (76): 1-2
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang bisa disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

2). Data kedokteran menunjukkan bahwa kehidupan janin sudah dimulai pada hari pertama, sejak bertemunya bibit ayah dan ibu. Sejak itu pula embrio manusia sudah bertumbuh menunjukkan kehidupan. Ada yang tumbuh sempurna, ada pula yang tumbuh tidak sempurna. Tetapi, sudah hidup. Karena itu, bisa bertumbuh. Sehingga kalau digugurkan, itu sudah berarti membunuh cikal bakal manusia. Berapa pun umur kandungannya.

Jangankan 4 bulan alias 120 hari, pada usia kandungan 60 hari saja janin sudah memiliki organ lengkap, mulai dari kepala, badan, tangan, hingga kaki. Ukurannya memang masih 2,5 cm tetapi sudah hidup dan bergerak. Usia kehamilan berikutnya, hanya tinggal menyempurnakan belaka. Tulang belulangnya dipanjangkan dan disempurnakan. Organ-organ dalamnya dibesarkan dan disempurnakan. Otaknya disempurnakan. Panca inderanya disempurnakan, dan seterusnya. Tetapi, pendengaran dan penglihatannya sudah mulai terbentuk, bahkan pada usia kehamilan sekitar 40-an hari. Demikian pula jenis kelaminnya sudah terdeteksi pada usia kehamilan 40-an hari.

Betapa salah kaprahnya dokter yang berani menggugurkan kehamilan pada usia kehamilan diatas itu, tanpa alasan yang benar..! Bahkah, ketika saya diundang dalam sebuah forum ilmiah di Fakultas Kedokteran Unair Surabaya tentang ini, saya mengatakan, janin itu sebenarnya sudah hidup sejak saat awal terbentuknya stem sel alias sel induk, di hari pertama. Dan ternyata, sejumlah guru besar yang hadir menyatakan sependapat.

3). Sebagian Ruh Allah telah ditiupkan ke embrio yang menjadi cikal bakal manusia sejak hari pertama. Dan karena itu, sang embrio menjadi hidup, dan terus berkembang menjadi makhluk yang lebih sempurna. Apakah ruh sudah ada sebelum embrio terbentuk? Tentu saja, karena ruh adalah ’sebagian’ dari eksistensi ilahiah. Ruh bukan diciptakan, melainkan ’ditiupkan’ alias ’ditularkan’ belaka. Dan ruh setiap manusia adalah sama. Ruh yang ada di dalam diri saya dan diri Anda adalah sama, yakni sifat-sifat ketuhanan yang ditularkan kepada manusia, sehingga ia menjadi hidup, berkehendak, melihat, mendengar, berkata-kata, dan seterusnya. Semua itu tertulari oleh sifat Allah yang Maha Hidup, Maha Berkehendak, Maha mendengar, Maha Melihat, Maha Berkata-kata, dan seterusnya.

4). Yang berbeda pada setiap manusia bukanlah ruh, melainkan jiwa. Dalam al Qur’an disebut sebagai nafs (tunggal) atau anfus (jamak). Nah, jiwa ini diciptakan oleh-Nya bersamaan dengan badan. Dan menyempurna seiring dengan menyempurnanya badan. Khususnya otak. Semakin sempurna fungsi otaknya, semakin sempurna pula fungsi jiwanya. Sebaliknya, semakin tidak sempurna otaknya, semakin tidak sempurna pula jiwanya. Dan jiwa inilah yang bersyahadat pada saat awal proses penciptaan. Sebagaimana ayat berikut ini.

QS. Al A’raaf (7): 172
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang belakang mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (anfus) mereka: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul, kami bersaksi". (Yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalai terhadap ini."

Lantas kenapa kita tidak ingat bahwa kita sudah bersaksi? Tentu saja, karena ingatan manusia belum terbentuk waktu itu. Karena otak juga belum terbentuk. Sehingga, memori atas syahadat kita itu tidak terekam di dalam ingatan otak melainkan terekam di dalam genetika kita. Bukankah waktu itu yang ada hanya sebuah sel hasil peleburan spermatozoa dan ovum? Dan di dalam sel induk yang sudah ditiupi ruh itu baru ada jiwa yang sangat primitif yang belum punya perangkat memori seperti jiwa yang sudah sempurna.

Maka seiring dengan berkembangnya tubuh janin, berkembang pula jiwa kemanusiaan yang semakin menyempurna. Syahadat dari jiwa yang primitif itu pun menyebar ke seantero tubuh dan jiwa yang kian mendewasa. Meskipun kita ’tidak ingat’ lagi tetang syahadat kita ’dengan otak’, tetapi kita bisa ’merasakan’ dalam seluruh tubuh dan jiwa secara instinktif. Bahwa di dalam diri dan diluar diri kita ini sebenarnya ada ’Sebuah Kekuatan’ Maha Besar yang sudah inheren dalam kehidupan. Dialah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk manusia di dalamnya.

Kenapa bisa demikian? Karena memang itulah fitrah manusia, makhluk ciptaan-Nya yang sedang mencari jalan kembali kepada Sang Pencipta: Allah Azza wajalla...

QS. Az Zukhruf (43): 9
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka (siapa pun): "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", pasti mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".

QS. Ar Ruum (30): 30
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Inilah) agama yang lurus; sayang kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Wallahu a’lam bishshawab
 ~ salam ~


oleh Agus Mustofa pada 27 Desember 2010 pukul 17:37