Senin, 06 Juni 2011

TIGA JENIS ANAK

Oleh Syekh Subakir pada 6 Juni 2011 pukul 2:01

Ternyata ada 3 jenis anak, yaitu:

1. Qurataiyun : sangat menyejukkan mata dunia + akhirat.

2. Zinatulhayatih : menyejukkan dunia tapi tidak ibadah

QS Al Kahfi [18] : 46
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

3. Fitnah: anak jadi cobaan

QS At Thagaabuh [64] : 14, 15
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Jadi memang sudah tugas kita terutama para ibu yang mendidik anak karena katanya nanti kita di akhirat ditanya paling utama tentang "mendidik anak"... oleh karena itu surga ada di telapak kaki ibu.

Bahkan Rasulullah ditanya umatnya "siapakah yang patut dihormati selain ALLAH" nabi menjawab 3 kali "Ibu,...ibu,..ibu".

Renungan :

SAYANGILAH anak-anak, KASIHANILAH kelemahannya, TEPATILAH JANJI yang kita berikan kepadanya, sebab mereka beranggapan bahwa rizki mereka ada ditangan kita

"Tatkala kita memandang wajah anak-anak dan kita merasa SENANG, maka kita akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang membebaskan budak"

"Barang siapa MENCIUM anaknya, Allah akan menulis satu kebaikan dalam buku catatan amalnya, dan barang siapa tak menyayangi ia tak akan disayangi"

"Seringlah MENCIUM anak kita, sebab dengan satu ciuman, kita akan menaiki satu peringkat di surga, dikatakan bahwa orang yang tak pernah mencium anak-anaknya adalah penghuni neraka"

"Kasih sayang kepada anak merupakan kasih sayang kepada ayah dan ibu, dan Allah menganugerahkan Rachmat-Nya kepada seorang hamba yang amat menyukai anak-anaknya"

Ketika Rasulullah SAW mendengar istri seorang sahabat melahirkan dan mendapati dalam kondisi cacat, Rasulullah bersabda; "Sesungguhnya anakmu akan menjadi wewangian di surga"

Semoga bermanfaat bagi kita semua
Dan yang memiliki anak yang pewaris surga,


Kamis, 02 Juni 2011

SOAL PENENTUAN BULAN BARU

Ada hal yang mesti kita cermati tentang penetapan ’Bulan Baru’, yang selama ini menjadi sumber perdebatan berkepanjangan. Dan, kemudian berdampak pada penetapan awal Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha.

Apa yang saya sampaikan ini tentu jangan dianggap sebagai ‘kebenaran mutlak’, melainkan sekedar sebagai wacana untuk mengklarifikasi masalah berkepanjangan yang selama bertahun-tahun tidak kunjung selesai, di Indonesia.

1). Penetapan akhir bulan atau awal bulan dilakukan pada saat waktu maghrib. Yakni ketika matahari tenggelam, di ufuk barat akan kelihatan ‘bulan sepotong’ alias hilal, jika memang sudah waktunya bulan baru.

2). Jika tidak kelihatan, maka usia bulan yang sedang berjalan digenapkan menjadi 30 hari. Khususnya dalam kasus bulan Ramadan. Sehingga, meskipun besoknya sudah 1 syawal, kita tetap menggenapkan puasa Ramadan. Dan baru pada tanggal 2 syawal melakukan shalat Idul Fitri.

3). Kenapa demikian? Karena Rasulullah mengajarinya demikian: diperintahkan untuk menggenapkan jika tidak terlihat hilal. Jadi, sebenarnya, pokok masalahnya bukanlah 1 syawalnya, melainkan ’Bulan Ramadan’nya. Karena, usia bulan dalam kalender Hijriah hanya 29,5 hari. Maka, jika ’setengah harinya’ muncul di awal, kita akan berpuasa 29 hari. Tapi jika ’setengah harinya’ muncul di belakang, kita diperintahkan untuk menggenapkan berpuasa menjadi 30 hari. Padahal, besoknya itu sebenarnya sudah tanggal 1 syawal. Dan, itu tetap dipakai sebagai patokan untuk menentukan bulan berikutnya: Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dst. Sehingga penanggalannya tidak bergeser karenanya.

4). Yang sering menjadi perdebatan adalah: antara wilayah timur dengan wilayah barat, seringkali tidak bisa bersamaan melihat hilal ketika maghrib datang. Masalahnya, posisi geografisnya memang berbeda. Katakanlah, antara Indonesia dan Arab Saudi. Saat di Indonesia Maghrib, di Arab masih  menjelang Ashar. Jika di Indonesia, saat itu, bisa melihat hilal di ufuk barat, masalahnya selesai. Pasti di Arab pun, hilal akan terlihat. Sebab, posisi hilal itu memang muncul di ufuk barat. Arab Saudi sebagai negara yang ada di barat Indonesia pasti bisa melihatnya. Masalah akan muncul, jika di Indonesia tidak terlihat hilal. Tapi, di Arab Saudi kelihatan. Kenapa bisa demikian? Ya, karena hilal-nya berada di barat. Sehingga ketika di Indonesia Maghrib, hilal itu masih tertutup oleh lengkungan Bumi. Dan, baru 4 jam kemudian terlihat oleh mereka yang berada di Arab Saudi, saat Maghrib datang. Maka dalam kasus ini, Indonesia menggenapkan puasa menjadi 30 hari, sedangkan Arab Saudi mencukupkan puasa 29 hari. Sehingga di Indonesia baru shalat Idul Fitri tanggal 2 syawal, dan di Arab shalat tanggal 1 syawal.

5). Jadi, sebenarnya penetapan shalat Id itu lentur dan tentatif saja. Yakni, seusai puasa Ramadan. Cuma, yang harus kita sadari, bahwa terlihat hilal ataupun tidak terlihat hilal pada saat Maghrib ~ di Indo maupun di Arab ~ besoknya tetap saja tanggal 1 syawal. Kenapa? Karena, usia bulan yang tersisa itu sebenarnya hanya maksimum 0,5 hari alias 12 jam. Sehingga, kalau misalnya maghrib itu jam 6 sore, maka besok jam 6 pagi itu sudah masuk tanggal 1 syawal. Apalagi, jika hanya berjarak empat jam (dari Arab Saudi ke Indonesia). Jika di Indonesia jam 18.00 belum terlihat hilal, dan kemudian di Arab Saudi terlihat jam 18.00 waktu Saudi, maka dalam waktu bersamaan di Indonesia jam 22.00 sudah masuk tanggal 1 syawal. Apalagi besok paginya. Maka, sebenarnya sudah boleh melakukan shalat Idul Fitri. Meskipun boleh juga menggenapkan.

Cuma, Rasulullah menganjurkan untuk menggenapkan 30 hari, karena waktu itu tidak ada alat yang bisa digunakan untuk memastikan hitung-hitungan tersebut. Satu-satunya alat adalah ’penglihatan’ kita. Sehingga, jika tidak terlihat, ya sudah genapkan aja. Toh, tidak menjadi masalah apakah itu 1 syawal atau 2 syawal. Yang penting seusai puasa Ramadan.

6). Selain Idul Fitri adalah Idul Adha. Dalam al Qur’an disebutkan bhw musim haji itu sebenarnya beberapa bulan. Yakni, Syawal, Dzulqo’dah, dan Dzulhijjah, QS. 2: 197. Dan cara menentukan awal musim haji itu memang dengan melihat munculnya hilal, seperti penentuan bulan-bulan lainnya, QS. 2: 189. Pada bulan-bulan itu jamaah haji sudah mulai berdatangan untuk menyiapkan wuquf di Arafah pada 9 Dzulhijjah, sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Dan pada tanggal 10 s/d 13 jamaah haji melakukan lempar jumrah, tawaf, dan sai, serta menyembelih kurban. Sedangkan di Indonesia, kita melakukan shalat Id. Pada saat itu, kita dilarang untuk berpuasa. Berpuasa Arafah adalah sebelumnya, yakni saat jamaah haji wuquf di Arafah.

7). Maka, meskipun perintah puasa Arafah dan Idul Adha disampaikan Rasulullah lebih awal dari perintah Haji, keduanya tetap saja berkaitan. Bahwa puasa Arafah terkait dengan Wuquf, dan shalat Id terkait dengan: lempar jumrah, tawaf, sai, dan penyembelihan kurban. Karena itu, tidak mungkin kita memisahkan keduanya. Misalnya, puasa Arafah di lakukan di awal bulan Syawal, dan wuqufnya dilakukan di bulan Dzulhijjah. Demikian pula, shalat Id-nya. Karena, ibadah-ibadah itu memang saling terkait.

8). Maka, sekali lagi, kesimpulannya adalah: penetapan puasa Arafah terkait erat dengan wuquf, dan shalat Id terkait dengan hari tasyrik. Di Indonesia, 9 Dzulhijjah dengan sendirinya akan jatuh tanggal 15 November. Karena, antara Arab Saudi dan Indonesia hanya beda 4 jam. Sehingga kalau di Arab Saudi tanggal 9 Dzulhijjah datang saat maghrib jam 18.00, maka di Indonesia 9 Dzulhijjah itu masuk jam 22.00 malam, pada hari yang sama: 15 November.

9). Bahkan, jika ditarik ke negara terjauh dari Arab Saudi yang berjarak 12 jam pun kondisinya akan tetap sama. Jika, di Arab Saudi maghrib menjadi pembatas beralihnya tanggal dari 9 ke 10 Dzulhijjah, maka 12 jam kemudian di negara yang jauh itu masuk ke tanggal 10 Dzulhijjahnya, yakni jam 6 pagi. Artinya, mereka boleh melakukan shalat Idul Adha, karena saat itu jamaah haji sudah meninggalkan Arafah menuju Mina. Dan sudah masuk tanggal 10 Dzulhijjah. Jadi, tidak mungkin bertambah sehari lagi. Terlalu lama. Apalagi, tidak ada alasan untuk menggenapkan puasa sebagaimana pada bulan Ramadan. Namun demikian, tentu saja, apa yang saya jalankan ini adalah pendapat saya. Dipakai silakan, tidak pun tidak apa-apa... :)
wallahu a'lam bishshawab

~ salam ~

oleh Agus Mustofa pada 14 November 2010 jam 22:1


Sabtu, 05 Maret 2011

HARI INI TAKDIR, HARI ESOK JUGA TAKDIR ~ MERAIH TAKDIR TERBAIK (2)

Allah menetapkan takdir makhluk-Nya seiring dengan perjalanan waktu. Sejak awal penciptaan makhluk, sampai kelak saat berakhirnya. Dulu, Allah menetapkan takdir. Hari ini, menetapkan takdir. Esok, menetapkan takdir. Kelak pun, menetapkan takdir. Jutaan, atau miliaran, bahkan triliunan takdir Allah telah terjadi dan akan terus terjadi pada seluruh makhluk-Nya, termasuk diri kita. Itulah sebabnya Allah menyebut Diri-Nya sebagai Dzat yang paling sibuk di seluruh penjuru semesta.

QS. Ar Rahman (55): 29
Meminta kepada-Nya semua yang ada di langit dan di bumi. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.

Hari ini, Dia sibuk menciptakan jutaan manusia di dalam rahim ibunya. Hari ini juga, Dia mengurus miliaran manusia lainnya menjadi remaja, pemuda, dewasa, menua, dan akhirnya meninggal dunia.

Dalam waktu yang bersamaan, Allah sedang menakdirkan seseorang sakit, dan yang lainnya sembuh. Menakdirkan seseorang kecelakaan, dan yang lainnya selamat. Menakdirkan seseorang mendapat rezeki, dan yang lainnya rugi. Menakdirkan seseorang menikah, dan lainnya tetap membujang. Menakdirkan seseorang menderita, dan lainnya bahagia..!

Di saat yang sama juga, Allah sedang mengurusi triliunan sel di dalam tubuh saya, dan bertriliun sel di tubuh Anda, di tubuh teman dan sahabat kita, di tubuh anak-anak dan saudara-saudara kita. Juga mengurusi miliaran jantung yang terus menerus berdenyut, darah yang harus mengalir, saraf-saraf yang tetap mendistribusikan neurotransmitter, produksi hormon-hormon yang kita butuhkan, bahkan sampai informasi genetika yang bekerja akurat supaya anak keturunannya tidak menjadi cacat.

Bukan hanya itu, Allah juga sedang sibuk mengurusi triliunan peristiwa terkait dengan binatang-binatang, tumbuhan, dan segala isi alam semesta. Allah terus menerus membuat takdir atas makhluk-makhluk-Nya dari waktu ke waktu. Setahun terakhir ini, kita tak bisa menghitung berapa banyak takdir yang telah Allah buat. Sebulan ini, kita juga tak bisa menghitung jumlah takdir yang telah ditentukan-Nya. Seminggu ini, pun kita tak mampu menghitung takdir yang telah ditetapkan-Nya. Bahkan, juga dalam sejam terakhir, semenit terakhir, sedetik terakhir, atau limit waktu berapa pun yang bisa kita amati.

Allah terus menerus ’memproduksi’ takdir dari waktu ke waktu. Hari ini kita ditakdirkan sehat, mungkin hari berikutnya kita ditakdirkan sakit. Dan setelah itu sehat lagi. Dan kapan-kapan sakit lagi. Ya memang begitulah, semua itu adalah takdir Allah atas kita. Ketetapan yang terus berubah dari waktu ke waktu. Maka Allah menyebut Diri-Nya sebagai Al Qadiir, Yang Maha Menakdirkan. Maha Berkuasa menggerakkan seluruh peristiwa dan menetapkan semua kondisinya.

QS. Al Baqarah (2): 106
...Tidakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Menakdirkan (Qadiirun) atas segala sesuatu?

Maka seluruh peristiwa dalam kehidupan kita sebenarnya adalah Takdir belaka. Bukan hanya di saat terakhir, sebagaimana dipahami oleh sebagian kita. Melainkan dari tahun ke tahun, bulan ke bulan, minggu ke minggu, hari ke hari, jam ke jam, menit ke menit, detik ke detik, nano detik ke nano detik, dan seterusnya, semuanya dalam kekuasaan dinamika takdir Allah.

Lantas, apakah kita bisa mengetahui takdir masa depan kita? Tentu saja sangat sulit, karena terlalu banyak variabel yang memengaruhinya. Jangankan takdir esok hari, takdir kita sejam lagi pun kita tidak tahu. Atau, bahkan semenit berikutnya pun tidak ada yang tahu. Semua itu berada di dalam kekuasaan Allah sepenuhnya.

Tetapi, kita bisa mengetahui takdir-takdir yang telah terjadi. Lantas kita diberi hak bahkan disuruh oleh Allah untuk mengubah takdir yang telah terjadi itu agar menjadi lebih baik. Seiring dengan proses kehidupan kita. Seiring dengan ikhtiar kita. Seiring dengan doa. Seiring dengan bantuan orang-orang di sekitar kita. Seiring dengan kejadian-kejadian tak terduga. Seiring dengan seluruh gerak alam semesta yang meliputinya...!

Maka, hidup kita sebenarnya, tak lebih dan tak kurang, adalah berpindah dari satu takdir ke takdir lainnya. Hari ini dapat takdir jelek, ya kita usahakan agar esok dapat takdir baik. Besok belum juga baik, ya lusa kita usahakan agar dapat takdir lebih baik, begitulah seterusnya. Sampai Dia sebagai Penguasa takdir, melihat kita pantas untuk menerima takdir terbaik yang kita harapkan. Dan lantas memberikannya untuk kita.

Allah-lah yang mengajari agar kita selalu berusaha untuk mengubah 'takdir sekarang' menjadi takdir yang lebih baik di masa depan. Dan, semua itu harus dimulai dari upaya kita sebagai makhluk, baru kemudian Allah yang akan menentukan pantas tidaknya kita menerima takdir yang lebih baik di waktu mendatang. Jika kita tidak berusaha mengubah keadaan kita hari ini, maka Allah pun tidak akan mengubahnya untuk esok hari. Persis sebagaimana diceritakan dalam ayat berikut ini.

QS. Ar Ra’du (13): 11
....Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan (takdir sekarang) dari suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Doa bisa mengubah takdir. Usaha bisa mengubah takdir. Bantuan orang-orang di sekitar kita bisa mengubah takdir. Peristiwa ’kebetulan’ pun bisa mengubah takdir. Karena sesungguhnya, substansi hidup kita dari waktu ke waktu adalah perubahan itu sendiri. Tinggal, apakah kita mau berubah menjadi lebih jelek ataukah menjadi lebih baik. Atau stagnan, alias jalan di tempat.

Banyak orang memformat dirinya dengan cara pasrah bongkokan menunggu takdir, mengira Allah akan memberikan segala kebaikan tanpa usaha. Padahal Allah justru memerintahkan untuk mengubah takdirnya agar menjadi lebih baik dengan cara berusaha. Sehingga, surga pun harus digapai dengan cara berusaha dalam perjuangan dan kesabaran, bukan dengan cara berleha-leha..!

QS. Ali Imran (3): 142
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antaramu, dan belum terbukti orang-orang yang sabar (dalam perjuangan hidupnya).

Manusia berusaha, Allah yang menakdirkan hasilnya. Tentu saja, setelah Dia mempertimbangkan segala faktor yang memengaruhinya. Justru disinilah nilai drama kehidupan manusia. Dengan Qadar yang diberikan di awal proses, seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk memeroleh Qadla-Nya. Perpaduan antara Qadar dan Qadla itulah yang akan menghasilkan Takdir terbaik.

Dialah yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana, atas takdir apa yang pantas kita terima. Tetapi, yang jelas, Allah menyuruh kita untuk berusaha, dan bertanggungjawab atas segala keputusan yang kita buat. Mau maju kek, atau mau mundur. Mau berbuat baik, atau berbuat jahat. Mau berjuang keras, atau berleha-leha. Semua keputusan diserahkan kepada kita, dan berdasarkan itu semua Allah akan memberikan balasannya berupa Takdir terbaik yang pantas kita terima.

QS. Al Mudatstsir (74): 37-38
Bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya...

QS. Al Hasyr (59): 18
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Maka, kalau kita mengaku sebagai umat Rasulullah, pasti kita bakal dengan senang hati mengikuti keteladanan yang beliau ajarkan. Sebuah perintah untuk mengubah takdir hari ini menjadi takdir hari esok yang lebih baik, lewat sabda beliau yang sangat terkenal. Yakni: ’’jadikanlah hari ini lebih baik dari kemarin, dan jadikan hari esokmu lebih baik dari hari ini..!’’

Wallahu a’lam bishshawab
 ~ salam ~


oleh Agus Mustofa pada 4 Maret 2011 pukul 4:01


Jumat, 04 Maret 2011

MENGURAI KEBINGUNGAN SOAL TAKDIR ~ MERAIH TAKDIR TERBAIK (1)

Kontroversi soal takdir tidak bisa dilepaskan dari masih rancunya definisi istilah TAKDIR itu sendiri. Ada yang mendefisinisikan ’takdir’ sebagai ketetapan Allah yang final sejak awal dan tak bisa diubah. Tapi, ada pula yang mendefinisikannya sebagai 'ketetapan' yang masih bisa berubah. Tentu saja, keduanya membawa konsekuensi yang sangat berbeda, bahkan berlawanan.

Istilah takdir berasal dari kata Qaddara - Yuqaddiru yang bermakna menetapkan atau menakdirkan. Yang pertama adalah fi’il madzi (past tense) alias kata kerja lampau, terkait dengan ketetapan yang ’sudah terjadi’. Sedangkan yang kedua adalah fi’il mudhari’ (present tense) yang bermakna ketetapan yang ’sedang & akan terjadi’. Memahami makna ’takdir’ secara gramatika bisa membantu mengurai kerancuan tersebut.

QS. Al Furqaan (25): 2
yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia telah menetapkan (qaddara) ukuran-ukurannya dengan ketetapan sedetil-detilnya (taqdiran).

Dalam ayat diatas, Allah menggunakan kata qaddara - telah menetapkan - ukuran-ukuran segala ciptaannya dengan detil (takdir). Setidak-tidaknya ada dua makna yang terkandung di dalamnya. Yang pertama, setiap makhluk ciptaan Allah itu selalu diiringi dengan spesifikasi yang detil. Dan yang kedua, penetapan itu sudah diberikan Allah sejak saat penciptaannya. Istilah qadar dalam bahasa Indonesia berimpit dengan ’kadar’ alias ukuran dan kapasitas.

Diantara contohnya adalah tentang air yang ada di bumi. Di masa awal penciptaan bumi Allah menurunkan air ke planet biru ini dari luar angkasa berupa gumpalan-gumpalan es dalam ukuran besar. Jumlahnya sudah diukur, tidak lebih dan tidak kurang. Sirkulasinya setelah sampai di Bumi juga sudah ditentukan, lewat penguapan dan mekanisme hujan. Sehingga, air itu lantas tetap berada di planet Bumi dalam kadar yang cukup untuk kehidupan penghuninya hingga kini. Allah telah menetapkan kadarnya. Takdirnya.

QS. Al Mukminuun (23): 18
Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran (qadar); lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk menghilangkannya.

Bukan hanya air, Dia juga menetapkan ukuran siang dan malam terkait dengan kecepatan rotasi Bumi. Semua itu ditakdirkan Allah sesuai dengan desain terbaik. Sehingga terjadilah ukuran siang dan malam seperti yang terjadi selama ini. Tanpa campur tangan manusia. Bahkan manusia dijamin tidak bisa ikut campur di dalamnya.

QS. Muzzammil (73): 20
... Dan Allah menetapkan (yuqaddiru) ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, ...

Yang menarik, dalam ayat di atas Allah menggunakan fi’il mudhari’ (present tense) untuk menjelaskan kadar siang dan malam. Ini menunjukkan, bahwa takdir tentang ukuran siang dan malam itu akan terjadi secara berkelanjutan ke masa depan. Dengan kata lain, panjangnya siang dan malam boleh jadi masih bisa bergeser seiring dengan bertambahnya waktu alam semesta.

Dan seterusnya. Kalau kita cermati, maka Allah menetapkan Takdir segala ciptaan-Nya dalam bentuk kapasitas, ukuran, dan mekanisme alamiah, sejak masa awal  penciptaan sampai berlanjut ke masa depan.

QS. Al Hijr (15): 21
Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran (qadar) yang tertentu.

Seiring dengan ketetapan yang bersifat Qadar itu, Allah juga membuat ketetapan yang bersifat Qadla. Apakah Qadla? Juga bermakna ketetapan Allah, tetapi yang kita masih bisa ikut campur di dalam prosesnya. Dengan kata lain, inilah Takdir Allah yang bisa kita ikhtiari. Karena itu, dalam sejumlah ayat, Allah menggunakan istilah Qadla terkait dengan proses penciptaan yang masih terus berlangsung.

QS. Ali Imran (3): 47
... Apabila Allah berkehendak menetapkan (qadla) sesuatu, maka Allah cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia (kun fayakun).

Ayat diatas mengaitkan Qadla dengan kun fa yakun. Yakni kalimat penciptaan yang bermakna: ’jadi, maka jadilah’ segala ciptaan-Nya. Secara bahasa, kalimat fa yakun adalah masuk dalam fi’il mudhari’ alias present tense. Kalimat semacam ini diulang-ulang dalam banyak ayat, hubungan antara Qadla dengan kun fa yakun.

Artinya, proses penciptaan itu bukan berlangsung di masa lalu saja, melainkan masih terus berlangsung ke masa depan. Sehingga, takdir Allah lewat Qadla adalah takdir yang masih berlangsung alias belum final. Masih memiliki peluang untuk menjadi apa saja, seiring dengan hukum-hukum Allah yang ditetapkan lewat Qadar di awal penciptaan.

Diantaranya, adalah takdir kematian. Allah menggunakan kata Qadla dalam menentukan kematian seseorang. Misalnya nabi Sulaiman di ayat berikut ini. Bahwa takdir kematian itu sebenarnya bukan ditetapkan di awal, saat penciptaan, melainkan berjalan seiring dengan proses kehidupan seseorang. Yang ditetapkan pada saat penciptaan di dalam rahim adalah Qadar alias kapasitas dan ukuran-ukurannya saja.

Misalnya, tulangnya didesain Allah bisa bertahan 70 tahun. Demikian pula organ-organ dalamnya seperti jantung, ginjal, paru, dan livernya. Jika orang yang bersangkutan bisa memenejemeni hidupnya dengan baik sehingga sehat, maka ia akan mati dalam usia 70 tahun, sesuai dengan desain ciptaannya. Sesuai dengan Qadar yang Allah tetapkan. Tetapi jika ia menjalani hidupnya secara amburadul, maka sangat boleh jadi ia bakal mati di usia yang lebih muda. Apalagi jika bunuh diri, ia bisa benar-benar mati karenanya..! Allah memberikan Qadla kematian seiring dengan proses.

QS. Saba’ (34): 14
Maka tatkala Kami telah menetapkan (qadla) kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.

Dalam ayat berikut ini, Allah menjelaskan lebih detil, bahwa keputusan Allah tentang umur seorang manusia itu terjadi dua kali. Yang pertama adalah di dalam rahim saat tahap desain. Allah memprosesnya sesuai dengan kadar penciptaan seperti saya jelaskan di atas. Lantas, yang kedua, adalah di luar rahim, saat ia sudah menjalani hidupnya. Karena, boleh jadi, meskipun desain tubuhnya bisa bertahan 70 tahun, tetapi jika ia adalah orang yang sembrono dalam menjalani hidup sehingga ’layak’ untuk mati muda, maka Allah pun akan mematikan dia.

QS. Al Hajj (22): 5
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang hari kebangkitan, maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan (9 bulan), kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian kamu sampai pada masa kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya...

Maka, ringkas kata, Takdir adalah ketetapan Allah yang berjalan sejak saat-saat awal penciptaan sampai kelak berakhirnya peristiwa tersebut. Yang awal disebut Qadar, ditetapkan Allah tanpa campur tangan makhluk yang bersangkutan, dalam bentuk kapasitas. Sedangkan yang kedua adalah Qadla, yang ditetapkan Allah seiring dengan proses, dengan mempertimbangkan segala variabel yang memengaruhinya, termasuk usaha yang dilakukan oleh mereka yang menjalaninya..!

Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~


oleh Agus Mustofa pada 3 Maret 2011 pukul 8:27


Rabu, 23 Februari 2011

JANGAN KELIRU MENUHANKAN SURGA ~ PENTING MANA DUNIA ataukah AKHIRAT (6-habis)

Awas, jangan sampai keliru bertuhan..! Bertuhan kepada yang remeh temeh akan mengantarkan Anda kepada yang remeh temeh juga. Bertuhan kepada dunia, bakal memperoleh dunia. Bertuhan kepada surga, cuma dapat surga. Bertuhan kepada Sang Penguasa segala, akan mengantarkan Anda hidup mulia.

Secara definitif, Tuhan adalah ’sesuatu’ yang selalu mendominasi perhatian kita, dan kita anggap sebagai sumber segala kebahagiaan. Kualitas beragama seseorang sangat bergantung pada persepsinya tentang Tuhan yang disembahnya itu. Jika persepsinya tentang Tuhan rendah, maka kualitas agamanya pasti juga rendah. Sebaliknya, jika persepsinya tentang Tuhan tinggi, kualitas beragamanya pun bakal tinggi. Perjalanan spiritualnya menjanjikan kenikmatan yang tiada tara.

Ada orang yang pusat perhatiannya dalam beragama adalah kepada ritual ibadah. Maka, kenikmatan yang dia peroleh hanyalah sebatas menjalankan ritual belaka. Pokoknya sudah bersyahadat, menjalankan shalat, berpuasa, zakat, dan haji, dia sudah merasa puas. Kenikmatannya dalam beragama, ya hanya sebatas itu. Apakah tidak boleh? Oh, ya boleh-boleh saja. Terserah Anda. Tetapi, betapa sayangnya...

Orang yang beragamanya hanya demikian, jauh kalah nikmat dibandingkan dengan orang yang mempelajari dan memahami makna ibadah ritual. Bisa Anda bayangkan, betapa nikmatnya orang yang bisa menyelami makna syahadatnya? Perjalanan spiritualnya adalah sebuah proses kesaksian atas keberadaan Allah sebagai Tuhannya. Dan Rasulullah sebagai panutannya.

Bisa kita bayangkan juga, betapa nikmatnya orang yang bisa khusyuk menjalani shalatnya. Sejak takbiratul ihram yang menggetarkan jiwanya, membaca al Fatihah yang penuh makna, rukuk dan bersujud dalam nuansa pengagungan Tuhannya. Dan kemudian bershalawat kepada nabi tercinta yang ditutup dengan salam hangat buat saudara-saudara seagamanya.

Atau bisa Anda bayangkan pula, mereka yang telah berhasil menjalankan ibadah penuh makna dalam puasanya, zakatnya dan hajinya. Beserta dzikir, doa, dan segala amal ibadahnya. Mereka larut bukan hanya dalam ritual ibadah yang kering rasa, melainkan tenggelam dalam perjalanan makna yang terkandung dalam ibadah yang dihayatinya.

Tetapi, ketika dikaitkan dengan proses bertuhan, tingkatan ritual dan makna ini sebenarnya masih berada pada tataran awal perjalanan tauhid seseorang. Dan dengan sendirinya, juga perjalanan spiritualnya. Orientasi spritualnya masih berkutat pada diri sendiri. Dalam bahasa tauhid, ketauhidannya masih egoistik. Dia belum bertuhan kepada ’Sesuatu’ yang lebih tinggi, yang seharusnya berproses dengan cara merendahkan kepentingan egonya.

Pemaknaan segala ritual ibadah yang bersifat personal antara seseorang dengan Allah memang menjanjikan kenikmatan yang luar biasa. Tetapi, akan menjadi lebih luar biasa lagi, ketika proses spiritual yang egoistik itu bergeser kepada hal-hal yang bersifat sosialistik. Ini memang seiring dengan apa yang telah kita bahas dalam note tentang kebahagiaan, terdahulu.

Fokus perhatiannya, sebenarnya bukan hanya pada perolehan kenikmatan yang lebih tinggi, melainkan lebih kepada proses peniadaan diri. Atau, setidak-tidaknya pengurangan kepentingan diri sendiri. Dan menggeser kepada kepentingan orang lain, dengan tetap berdasar pada ketauhidan.

Kenapa ibadah sosial memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan ibadah personal? Karena, seiring dengan amalan sosial itu, kita sedang berproses untuk mengurangi egoisme. Dan ini diperlukan untuk menuju kepada Allah. Hanya orang-orang yang egonya rendah saja yang akan bisa mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu proses yang harus dilewati adalah berkorban untuk orang lain.

Jadi, kalau kita menolong orang lain, dengan masih punya tendensi untuk memperoleh ’sesuatu imbalan’ dari proses itu, maka itu justru akan mengurangi nilai spiritual yang sedang kita jalankan. Proses pengurangan ego tidak terjadi. Dan proses mendekat kepada Allah pun dengan sendirinya tidak terjadi. Yang ada justru memupuk kepentingan diri sendiri, yang dalam skala tauhid bisa disebut lebih ’bertuhan kepada diri sendiri’ dari pada bertuhan kepada Allah.

Dalam konteks tersebut, pada hakekatnya, kita tidak sedang berbuat kebajikan sosial kepada orang lain, tetapi sedang menunggangi penderitaan mereka untuk memperoleh kenikmatan pribadi. Juga, sebenarnya, kita tidak sedang berproses mendekat kepada Allah dengan cara menaati-Nya, berkorban, dan bersyukur kepada-Nya, melainkan malah memanipulasi Tuhan untuk memenuhi tujuan mencari kebahagiaan diri sendiri.

Padahal, kenikmatan yang kita peroleh dalam ibadah sosial itu justru adalah ketika kita bisa meniadakan kepentingan diri sendiri, dan ikhlas berkorban untuk kepentingan orang lain. Maka, dalam waktu bersamaan kita akan memeroleh dua kebahagiaan sekaligus. Yang pertama, karena melihat orang lain bahagia dikarenakan pengorbanan kita. Dan yang kedua, karena kita bisa berproses meniadakan diri dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Pada tingkat ini, kebahagiaannya jauh lebih hebat dibandingkan yang sekedar memahami makna ibadah secara personal.

Tak jarang kita melihat di sekitar kita, ataupun pada diri kita sendiri, bahwa segala ibadah yang kita lakukan itu ternyata tidak berproses untuk bertuhan kepada Allah. Bertuhan yang diajarkan oleh Islam adalah sebuah proses ’peniadaan diri’ untuk memunculkan Eksistensi Allah dalam seluruh lini kehidupan kita. Ini menjadi jalan spiritual utama dalam perjalanan kehidupan seorang muslim.

Sayangnya, yang banyak terjadi, justru kita mengangkat ego kita sendiri untuk menyaingi eksistensi Allah. Tanpa sengaja maupun dengan sengaja. Karena ketidaktahuan ataupun karena keserakahan. Proses-proses keagamaan kita manipulasi untuk menyenangkan diri sendiri. Dan segala yang diluar diri kita, kita ’paksa’ untuk memenuhi segala yang kita maui. Termasuk Tuhan pun kita ’perintah’ untuk memenuhi segala kebutuhan itu.

Yang demikian ini berbalikan dengan pelajaran utama dalam tauhid. Bahwa proses beragama yang sebenarnya adalah: laa ilaaha illallaah ~ peniadaan segala sesuatu sebagai Tuhan, dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya aktor dalam proses spiritual kita. Justru, kebahagiaan akan muncul dengan cara peniadaan ego kita sebagai manusia, dan meleburkan diri dalam Ego ketuhanan Allah sebagai Penguasa segalanya.

Kebahagiaan bukan diperoleh dengan cara mengejar-ngejar, melainkan diterima sebagai anugerah Allah, dikarenakan kita berhasil merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Sang Penguasa alam semesta. Bukan ’kepasrahan’ yang pasif, melainkan upaya berserah diri yang aktif, lewat perjuangan tiada henti. Dalam istilah yang berbeda, adalah menundukkan dorongan hawa nafsu yang egoistik, dan mengikuti naluri fitrah yang ilahiah.

Segala upaya duniawi yang kita lakukan dalam hidup ini justru hanya menjadi sarana untuk meniadakan kepentingan egoistik itu. Harta benda, ilmu, kekuasaan, istri, suami, anak-anak, sampai pada tatanan masyarakat yang ada di sekitar kita, semuanya sekedar sarana bagi perjalanan spiritual yang mendalam. Bukan dengan cara mengasingkan diri dari semua hiruk pikuk duniawi, melainkan justru harus mencebur ke dalam realitas.

Kita tidak akan bisa melepaskan diri dari semua sarana kehidupan ini. Tetapi, kita bisa menata mindset kita bahwa semua itu bukan Tuhan bagi kita, dimana kebahagiaan kita digantungkan kepadanya. Justru, kebahagiaan sejati bakal muncul dengan cara membuktikan bahwa penguasaan kita atas semua fasilitas duniawi itu tidak membuat kita bergantung kepadanya, sebagai manifestasi dari kalimat: laa ilaha (tidak ada Tuhan pada semua fasilitas duniawi itu). Dan kemudian kita abdikan seluruh hasil perjuangan kita itu kepada Allah, sebagai aplikasi kalimat lanjutannya: illallaah (kecuali hanya kepada Allah semata).

Proses demikian, bukan hanya kita tujukan kepada fasilitas duniawi, melainkan juga fasilitas ukhrawi alias keakhiratan. Banyak orang terjebak kepada keinginan untuk memperoleh surga, seakan-akan surga adalah segala-galanya bagi kehidupan akhiratnya. Jika itu yang terjadi pada pikiran kita, maka sesungguhnya kita telah terjebak kepada menuhankan surga. Tak ada bedanya, dengan kita menganggap berbagai fasilitas dunia ini sebagai sumber segala kebahagiaan kita. Dimana, kita sampai tega menempatkan Allah sebagai ’pelengkap penderita’ yang cuma kita sembah-sembah ketika kita membutuhkan-Nya.

Kita boleh berdoa memohon rezeki, tetapi awas jangan sampai menuhankan rezeki. Kita boleh memohon ilmu, tetapi jangan sampai terjebak pada kesombongan keilmuan. Kita juga boleh memohon kekuasaan, tanpa harus terperangkap pada keserakahan. Termasuk kita boleh memohon surga, tanpa harus memandang surga sebagai ’segala-galanya’..!

Justru, orang yang menganggap surga sebagai sumber segala kebahagiaannya, mereka tidak akan menemukan kebahagiaan di surga. Mereka bakal kecele, karena surga hanya akan terasa indah bagi orang-orang yang menempatkan Allah sebagai Tuhannya. Jika yang dibayangkan adalah sekedar kenikmatan bendawi, Anda akan benar-benar bosan karenanya.

Lha wong sekarang saja, sudah banyak yang tidak tertarik dengan gambaran surga yang bendawi itu. Disana ditawarkan susu dan madu, padahal kita sudah sering minum susu madu, bahkan juga termasuk telur dan jahenya, STMJ. Disana ditawarkan buah-buahan, hampir setiap hari orang Indonesia makan buah-buahan. Disana ditawarkan gelang-gelang emas, ah sekarang trend perhiasan sudah bukan pada emas lagi, melainkan platina alias emas putih. Disana ditawarkan wanita dan pemuda-pemuda sebagai istri dan suami penghuninya, lha disini sudah banyak yang poligami ataupun kawin cerai. Dan seterusnya. Dan lain sebagainya.

Jika kita memandang surga seperti itu, dan menggantungkan kebahagiaan kita serendah itu, maka jangan menyesal kalau kita tidak akan memperoleh kebahagiaan karenanya. Karena yang demikian ini adalah persepsi spiritual yang rendah tentang apa yang disebut sebagai kebahagiaan. Dan, jelas-jelas sebuah kesalahan persepsi atas berita surga di dalam al Qur’an al Karim. Karena, kata Allah, apa yang digambarkan itu tak lebih hanyalah perumpamaan belaka..!

QS. Ar Ra’d (13): 35
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.

QS. Muhammad (47): 15
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, (apakah) sama (penghuni surga) dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga menghancurkan ususnya?

Maka, awas jangan sampai salah bertuhan..! Bertuhan yang sesungguhnya hanyalah kepada Allah saja. Kebahagiaan akan datang dengan sendirinya sebagai anugerah dari-Nya, saat seluruh jiwa kita hanya terisi oleh Nama-Nya. Karena sesungguhnya, kebahagiaan itu hanya efek saja dari sebuah proses penyerahan diri secara total kepada Allah Sang Maha Penyayang lagi Maha Bijaksana..!

QS. Al Hasyr (59): 24
Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

QS. Saba’ (34): 1
Segala puji bagi Allah yang memiliki semua yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bagi-Nya segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~


oleh Agus Mustofa pada 22 Februari 2011 pukul 9:33


Selasa, 22 Februari 2011

BISAKAH REKAMAN DOSA DIHAPUS? ~ PENTING MANA DUNIA ataukah AKHIRAT (5)

Setiap kita punya dosa. Dan kita ingin agar dosa-dosa itu tidak diketahui oleh orang lain. Apalagi dipublikasikan ke khalayak ramai. Oh, betapa malunya..! Bisa nggak ya, ingatan tentang dosa itu dilupakan, atau dihapus sama sekali?

Dosa adalah segala perbuatan jelek yang merugikan diri sendiri, atau orang lain, atau merusak alam sekitar. Sebagaimana telah kita bahas dalam note sebelumnya, semua itu ternyata membekas dan terekam di alam semesta. Sedangkan pahala adalah segala perbuatan baik yang menguntungkan diri sendiri, orang lain, dan memperbaiki alam sekitar. Yang ini juga membekas dan terekam di alam. Efek dosa adalah merusak dan menghancurkan, memunculkan penderitaan secara personal maupun kolektif. Sedangkan efek pahala adalah membangun, memperbaiki dan membahagiakan, juga bersifat personal dan kolektif.

Setiap kali kita berbuat dosa, maka peristiwa itu akan terekam di dalam otak, sistem genetika, dan struktur alam. Bukan hanya berhenti pada proses rekaman semata, melainkan juga menimbulkan efek pada realitas hidup. Otak misalnya, bukan hanya 'mengingat' dosa itu, melainkan juga mengalami ’kerusakan’ susunan saraf disebabkan oleh energi jelek yang muncul dari dosa.

Dikarenakan memunculkan efek buruk itulah, kita seringkali menyebut dosa sebagai ‘energi negatif’. Istilah negatif itu memang tidak ada kaitannya dengan ’skalar dan vektor’ di dalam ilmu fisika. Karena energi memang tidak memiliki arah. Melainkan lebih kepada akibat negatif yang ditimbulkannya. Sebaliknya, energi pahala disebut sebagai ’energi positif’ karena ia menghasilkan efek positif bagi sekitarnya.

Setiap kali pikiran kita diajak berbuat dosa, setiap kali itu pula otak kita akan merekamnya sambil mengalami kerusakan struktur dan sirkuit sarafnya. Efeknya akan lebih parah jika pikiran itu sampai diamalkan. Dan jika hal itu dilakukan berulang-ulang, efek negatifnya bisa terekam sampai ke dalam sistem genetika. Dan kemudian menurun kepada anak cucu kita. Dosa yang berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan akan memicu 'gen jelek' dalam tubuh kita menjadi aktif. Bahkan pada tingkat yang sangat intens dan lama bisa mendorong terjadinya mutasi genetika. Demikian pula sebaliknya, orang yang membiasakan pikiran dan perbuatan baik, kebiasaannya itu bakal bermanifestasi ke dalam genetikanya. Dan, bisa diturunkan kepada anak cucunya.

Orang yang terbiasa makan dengan gizi berkecukupan misalnya, jika itu terjadi berulang-ulang selama masa hidupnya, akan membuatnya bertumbuh besar. Baik dalam bentuk kegemukan ataupun tinggi badan. Kondisi itu akan terekam di dalam genetikanya. Dan kemudian akan menurun kepada anak cucunya. Saya yang memiliki tinggi badan 169 cm, kini punya anak-anak yang lebih tinggi dari saya. Dua diantaranya mencapai 180 cm, misalnya.

Rekaman demikian bukan hanya terjadi di otak dan genetika, melainkan juga pada alam semesta. Dan bukan hanya tercatat, melainkan sampai memberikan efek riil. Sebagai contoh, kalau Anda merusak lingkungan ekosistem, maka alam sekitar Anda akan memberikan respon berupa perubahan iklim dan cuaca. Global warming yang sekarang melanda planet Bumi ini dikarenakan umat manusia secara kolektif melakukan dosa kepada alam. Maka, ia bukan hanya mencatat, melainkan sekaligus memberikan reaksi yang setara dengan kerusakan yang kita bikin...

Jadi, bagaimanakah caranya agar kita bisa menghapus dosa-dosa yang telanjur kita perbuat pada otak, pada sistem genetika, dan alam sekitar? Apakah cukup hanya dengan mengucapkan kata-kata:oh, maaf wahai otak, saya telah berbuat dosa kepadamu..! Lantas, kita berharap efek negatif yang ada pada otak kita akan terhapus?

Atau kepada sistem genetika, kita cukup berkata: wahai sistem genetika yang ada di dalam triliunan sel tubuhku, maafkan aku ya telah membuat kamu mengalami mutasi sehingga memunculkan penyakit keturunan. Lantas, kita juga mengharap penyakit keturunan itu lenyap dengan sendirinya?

Atau, kita bilang kepada hutan: wahai hutan, maafkan kami yang telah menghancurkanmu, menggundulimu, sehingga iklim bumi sekarang menjadi kacau balau. Karena itu tolong jangan marah kepada kami. Lantas, secara ajaib Bumi akan menjadi baik kembali?

Oh, tidak sesederhana itu kan? Kita tidak bisa menghapus dosa-dosa hanya dengan berkata-kata minta maaf atau minta ampun. Meskipun itu kepada diri sendiri. Apalagi kepada orang lain, dan alam sekitar. Termasuk juga kepada Allah, Sang Maha Pengampun. Karena, segala sesuatu ini sudah ada menkanismenya, yakni sunnatullah, sejak diciptakan pertama kali.

Untuk memperbaiki hutan, tentu tidak cukup kalau kita hanya meminta maaf kepada lingkungan. Melainkan harus melakukan perbuatan baik, dengan cara menanaminya kembali. Memeliharanya secara konsisten. Memupuknya, menyiraminya, sekaligus menghentikan perusakan yang selama ini kita lakukan. Jika, kita istiqomah alias konsisten, insya Allah sekian tahun kemudian alam akan memaafkan dosa-dosa kita. Dan dampak global warming akan hilang dengan sendirinya.

Begitu juga kerusakan yang terjadi pada otak dan sel-sel tubuh kita. Tidak cukup dong kita memperbaikinya hanya dengan kata-kata, melainkan harus dengan perbuatan nyata. Semakin lama perbuatan dosa itu telah kita lakukan, semakin berat pula menghapus dampaknya. Karena ia sudah berpengaruh sampai dalam sistem genetika. Sehingga, kata orang jawa, dosa itu bisa menurun kepada anak cucu sampai tujuh turunan..!

Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan untuk menghapus dosa-dosa kita? Yang pertama, tentu saja bertobat. Ini adalah langkah awal yang mengubah mindset kita. Memulainya dengan niat yang kuat untuk tidak melakukan dosa lagi. Sebab, sebaik apa pun perbuatan yang akan kita lakukan setelah itu, jika masih bercampur aduk dengan dosa-dosa, efeknya tidak akan menghapus dosa, malah bisa memperparah. Inilah kenapa kita diajari untuk tidak mencampur adukkan antara dosa dan pahala. Antara kejahatan dan kebaikan.

Setelah meniatkan tobat dengan sungguh-sungguh, kita mesti berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya, agar timbul ’efek menghapus’. Inilah yang diceritakan Allah dalam ayat berikut ini.

QS. Huud (11): 114
... Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu (bisa) menghapus (efek) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Namun demikian, apakah catatan dosa merusak hutan itu, misalnya, otomatis terhapus dari sejarah kehidupan kita? Kok kayaknya tidak ya?! Sejarah tetap saja mencatat, bahwa dulu kita pernah melakukan perusakan hutan besar-besaran dan mengakibatkan penderitaan umat manusia. Tetapi, sejarah juga mencatat, bahwa setelah itu kita berusaha melakukan reboisasi besar-besaran sehingga kini hutannya menjadi lebat kembali.

Kalau Anda ingin agar sejarah tidak mencatat perbuatan Anda, maka satu-satunya jalan adalah dengan ’memohon’ kepada para sejarawan untuk tidak mencatat perbuatan Anda. Itupun kalau mereka mau mengabulkan permintaan Anda. Jika ia tidak mau, maka hilanglah harapan Anda untuk menghapus dosa-dosa yang telah Anda lakukan...

Terkait dengan dosa kehidupan, maka tidak mungkin kita menghapus dosa-dosa masa lalu. Karena, seluruh alam di sekitar kita memang telah mencatatnya. Orang yang kita jahati misalnya, dia tetap sajaingat bahwa kita telah berbuat jahat kepadanya. Sahabat-sahabatnya, juga ingat karena mereka sempat menyaksikan perbuatan kita. Dan otak maupun genetika kita pun ikut merekam seluruh perbuatan dosa itu. Demikian pula alam semesta.

Jadi, bagaimana supaya rekaman perbuatan dosa kita tidak ditayangkan pada saat hari pengadilan? Satu-satunya jalan adalah memohon kepada Sang Maha Pencatat agar DIA mengampuni dosa-dosa tersebut dan berkenan menghapusnya dari catatan alam semesta. Tapi, apakah itu mungkin? Untunglah, Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang bertobat. Karena ternyata, Dia masih membukakan jalan...!

QS. Al Hadiid (57): 20
... Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya...

Ayat di atas menjelaskan, bahwa di Hari Pengadilan, Allah masih mau memberikan ampunan. Karena, memang pahala masih mengalir saat kita berada di alam barzakh, akibat investasi kebajikan yang kita lakukan di dunia. Di sisi lain, Allah juga menyediakan azab yang keras kepada mereka yang tidak bertobat, dan catatan amal kebaikannya kalah berat oleh timbangan kejahatannya. Dan di sisi lainnya lagi, Allah memberikan Ridha kepada orang-orang yang tulus ikhlas berbuat kebajikan karena Allah semata.

Ampunan Allah adalah kunci dari tidak ditayangkannya dosa-dosa kita pada saat pengadilan akhirat. Bahkan, Dia yang Maha Pengampun itu, masih menyediakan kemungkinan untuk menghapus secara permanen semua kesalahan yang pernah kita lakukan, dari kitab induk kejadian: Lauh Mahfuzh. Buat siapakah semua itu disediakan? Ternyata disediakan bagi mereka yang banyak berbuat kebajikan sambil mengorientasikan hidupnya hanya kepada Allah semata..!

QS. At Taghaabun (64): 29
(Ingatlah) hari (saat) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengadilan, itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya...

QS. Ar Ra’d (13): 39
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).
 
Wallahu a’lam bishshawab
~ salam ~


oleh Agus Mustofa pada 21 Februari 2011 pukul 11:05