Minggu, 21 Oktober 2012

BERDOA KOK LUPA KEPADA TUHANNYA ~ TASAWUF HAJI 2012 (06) ~


oleh 
Agus Mustofa pada 21 Oktober 2012 pukul 8:43

Masjidil Haram adalah tempat yang sangat mustajab untuk berdoa. Sudah sangat banyak contoh kasusnya, terutama yang dialami oleh mereka yang pergi ke tanah suci. Tetapi, tentu saja doa yang terkabul itu adalah doa yang disampaikan dengan benar. Jika tidak, maka ibarat kita sedang berbicara melalui handphone kepada seseorang tapi lupa memencet nomer telpon lawan bicara. Tidak berjawab, karena tidak nyambung..!

Ritual haji adalah ibadah yang bertabur dzikir dan doa. Meskipun, basisnya adalah ibadah fisik sejak wuquf di Arafah, lempar jumrah di Mina, sampai tawaf dan sa’i di Mekah. Dzikir dan doa adalah dua aktivitas ibadah yang berkesinambungan. Doa akan menjadi mustajab jika didahului oleh dzikir yang mantap. Dan sebaliknya menjadi tidak mustajab, ketika dzikirnya tidak bermakna. Kenapa bisa demikian?

Ya, dzikir adalah upaya untuk menyambungkan hati dengan Allah. Apa pun bacaannya. Dzikrullah bermakna ‘mengingat’ Allah. Hatinya berinteraksi dengan Dzat Penguasa Jagat Raya, yang telah memproklamirkan diri-Nya sebegitu dekat dengan makhluk-Nya. Yang ‘jaraknya’ sudah lebih dekat daripada urat leher kita sendiri – yang kita tahu sudah tak berjarak itu. Karena urat leher memang sudah berada di dalam diri kita sendiri.

Meskipun sudah sedemikian dekatnya kita dengan Allah, tak jarang kita tidak merasakan kedekatan itu. Kenapa? Karena kita tidak mengingat-Nya. Tidak berdzikir kepada-Nya. Perhatian kita terdominasi oleh hal-hal yang bersifat semu dan inderawi. Al Qur’an menyebut kondisi itu sebagai ‘lalai’, tidak fokus, dan ‘kemana-mana’. Dzikir yang baik adalah yang bisa menyatukan keberagaman realitas di sekitar kita menjadi ‘kesadaran tunggal’ melebur ke dalam kesadaran terhadap Allah. Bukan cuma menyadari ‘bersama’ Allah. Melainkan berada di dalam-Nya. Yang oleh Al Qur’an dijelaskan sebagai: Allah telah meliputi segala sesuatu – benda maupun peristiwa, termasuk kita –wakanallahu bikulli syai’in mukhiitha.

Maka, doa orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji menjadi sangat mustajab, dikarenakan hati yang selalu nyambung kepada-Nya itu. Namun toh demikian, banyak jamaah haji yang tak bisa mencapai kondisi tersebut. Banyak orang berdoa di tanah suci tanpa menyambungkan hati kepada-Nya. Kecuali sekedar memenuhi syariatnya saja. Inilah yang oleh Allah disebut sebagai doa yang lalai itu.

QS. Al Ahqaf (46): 5
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)-nya sampai hari kiamat, dan orang-orang yang LALAI terhadap doanya?

Orang yang lalai terhadap doanya itu ditempatkan dalam satu kalimat dengan orang-orang yang menyembah selain Allah. Artinya, jiwanya sama-sama tidak fokus kepada Allah yang mestinya menjadi satu-satunya Tuhan yang hadir di dalam kesadarannya dalam berdoa. Lantas, apakah yang bisa melalaikan kita dalam berdoa kepada Allah itu?

Dalam beribadah haji atau umrah, saya melihat diantaranya karena ketidakpahaman jamaah terhadap apa yang dilakukannya. Yang lebih dipentingkan adalah tatacara atau syariat belaka. Mereka kurang memahami substansi atau hakekat dari ritual yang sedang dijalani. Salah satu sebabnya, karena bimbingan haji sejak di tanah air memang kurang menyentuh masalah ini. Yang menjadi perhatian seringkali adalah tatacara yang bersifat fisikal. Seperti bagaimana cara mengenakan pakaian ihram, cara bertawaf, cara berwukuf, cara bersa’i, bertahalul, cara lempar jumrah, dan sebagainya.

Jarang sekali bimbingan haji yang memberikan sentuhan spiritual yang penuh makna dalam melakukan ritual-ritual itu. Bahwa, berbagai macam ritual itu sebenarnya adalah simbol-simbol belaka, yang harus dibarengi dengan pemaknaan yang mendalam secara spiritual. Karena jika tidak, jamaah haji akan terjebak kepada kedangkalan makna terhadap situs-situs yang kini semakin kehilangan atmosfer kesejarahannya.

Wuquf, tak lebih hanya akan menjadi kegiatan camping setengah hari, dimana jamaah tak memperoleh makna apa-apa di Padang Arafah yang sangat bersejarah. Lempar jumrah, tak lebih hanya akan menjadi kegiatan outbond massal yang tak jarang malah memupuk sifat-sifat setaniah. Demikian pula Tawaf dan Sa’i, hanya akan menjadi kegiatan longmarch yang tak membekaskan getaran jiwa dalam interaksi intens dengan-Nya. Kecuali, kita memahami maknanya. Dan mengisikan hakekat makna itu ke dalam seluruh ritual haji yang sedang kita jalani.

Maka tidak heran, banyak jamaah haji yang masih disibukkan dan dibingungkan oleh tatacara ritual daripada menyelami getaran spiritualitas yang berada di dalam jiwanya sendiri. Dalam hal berdoa, saya masih sangat banyak melihat orang-orang yang lebih disibukkan oleh buku doa yang dikalungkan di dadanya dibandingkan menikmati dan merasakan isi doanya.

Setiap mau melakukan ritual haji, entah wuquf, lempar jumrah, tawaf maupun sa’i dia sibuk membuka-buka bukunya untuk mencari doa yang sesuai. Dan ketika sudah ketemu doa yang dicarinya, tak jarang ia hanya membaca tanpa ada getaran jiwanya. Sekedar memenuhi syarat dan rukunnya. Sekedar memenuhi syariatnya.

Maka, tak jarang saya melihat orang-orang yang sedang berdoa itu lebih ingat buku panduannya daripada ingat Tuhannya. Atau lebih memperhatikan suara muthawif yang memandu doanya, ketimbang merasakan isinya. Ekspresi mereka datar, tanpa ada haru biru yang terpancar dari wajah dan pandangan matanya. Karena boleh jadi, benaknya hanya terisi oleh target-target untuk menyelesaikan ritual secara syariat. Ingat bacaan doanya, tetapi lupa kepada Tuhannya.

Sementara, di sisi yang lain saya melihat sejumlah jamaah berdoa sambil berurai air mata. Tenggelam dalam dzikir-dzikir yang panjang. Berbisik-bisik dengan Allah, Dzat yang sudah mendominasi seluruh kesadarannya. Dan kemudian mereka tersungkur dalam nikmatnya sujud yang panjang, sampai terguncang-guncang punggungnya oleh isak tangis yang membuncah dalam rasa syukur dan pertaubatannya yang dalam...

QS. Al Israa’ (17): 109-110
Dan mereka tersungkur bersujud sambil menangis, dan mereka bertambah khusyu' (dalam ibadahnya). Katakanlah (kepadanya): "Bisikkanlah (nama) Allah atau Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu sebut, Dia mempunyai Asmaaul Husna. Dan janganlah kamu keraskan suaramu dalam sembahyangmu dan janganlah pula merendahkannya. Dan lakukanlah pertengahan di antara keduanya (dengan berbisik-bisik sepenuh jiwa)."

Wallahu a’lam bishshawab.
(Bersambung).

Sabtu, 20 Oktober 2012

MELURUSKAN NIAT KE TANAH SUCI ~ TASAWUF HAJI 2012 (05) ~


oleh 
Agus Mustofa pada 20 Oktober 2012 pukul 7:27

Menjelang berangkat ke tanah suci, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri: niat apakah yang melandasi kepergian kita berhaji? Realitasnya, ternyata sangat beragam. Mulai dari yang berhaji karena ‘tidak sengaja’ diajak saudara atau penugasan kerja, ingin dapat predikat dan penghargaan masyarakat, sampai kepada yang memang ingin beribadah menyempurnakan kualitas jiwanya disana.

Apakah tidak boleh kita memiliki background niat yang bermacam-macam seperti itu? Ooh, boleh-boleh saja, tidak ada yang melarang. Tetapi, ternyata Allah mengajarkan di dalam Al Qur’an agar kita meluruskan niat dalam menjalani ibadah ini. Justru, dikarenakan beragamnya niatan orang-orang yang datang dari segala penjuru Bumi itu.

QS. Al Baqarah (2): 196
Wa atimmul  hajja wal ‘umrota lillaah...
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh(mu) karena Allah semata...

Kata ‘menyempurnakan’ dalam ayat itu mengindikasikan adanya berbagai macam niat dalam beribadah haji. Termasuk niat untuk sambil berdagang atau bekerja yang memang diperbolehkan oleh Allah, sebagaimana diinformasikan dalam ayat-ayat sesudahnya. Tetapi, ketika ritual haji sudah dimulai, semuanya harus meluruskan niat untuk hanya beribadah kepada Allah semata. Banyak-banyak berdzikir mengingat Allah.

QS. Al Baqarah (2): 198
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia Tuhanmu (berniaga di musim haji). Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam (sebanyak-banyaknya). Dan berdzikirlah kepada Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang tersesat.

Bahkan anjuran untuk menyempurnakan niat itu berlaku juga bagi mereka yang meniatkan ibadah, tetapi belum sempurna ‘karena Allah’. Banyak peribadatan sepanjang haji itu yang bisa menjebak kita untuk ‘tidak karena Allah’. Sehingga membuat ibadah kita kurang sempurna.

Seorang kawan ketika ditanya tentang niatnya beribadah haji menjawab begini: ‘’Saya ingin berdoa di tanah suci agar masalah yang menghimpit hidup saya cepat teratasi.’’ Sebuah niat ibadah yang cukup baik, tetapi bisa menurunkan kesempurnaan haji jika ‘meleset’ dalam persepsi. Mirip dengan seseorang yang menjalankan shalat Dhuha karena ingin dapat rezeki, atau melakukan puasa karena ingin lulus ujian.

Yang begini ini, jika tidak kita sadari, bisa menjebak kita ke dalam praktek ibadah yang bukan karena Allah semata. Tetapi, dikarenakan rezeki dan lulus ujian. Jangan. Ibadah mesti ‘lillaahi ta’ala’ – hanya karena Allah semata. Bahwa, setelah itu kita menjadi dekat dengan Allah, dan segala macam masalah hidup teratasi dengan baik, itu adalah ‘bonus’ dari perilaku yang benar di jalan Allah.

Niatan dan persepsi yang salah dalam berdoa di tanah suci itulah yang lantas melahirkan berbagai praktek yang keliru pula. Sehingga banyak orang yang ‘titip doa’ kepada saudara atau sahabatnya yang sedang menunaikan ibadah haji, agar dibacakan di depan Kakbah. Mereka beranggapan doa yang dibacakan di tempat mustajab itu pasti terkabul, tidak sebagaimana kalau mereka panjatkan di tanah air. Apalagi ada yang menambahkan dengan kalimat begini: ‘’Ya Allah, kami sudah bertahun-tahun berdoa di tanah air belum juga Engkau kabulkan, kini kami datang ke rumah-Mu untuk berdoa agar Engkau penuhi...’’

Rupanya si jamaah haji atau orang yang titip doa itu mengira Allah berada di dalam Kakbah. Mungkin karena tempat suci itu disebut sebagai Baitullah alias ‘Rumah Allah’. Sedangkan di tanah air ia merasa jauh dari Allah, sehingga doanya tidak mustajab. Tentu saja yang begini ini berselisihan dengani ajaran Al Qur’an yang mengatakan bahwa Allah itu sudah sangat dekat – lebih dekat dari urat leher kita sendiri – dan Dia akan mengabulkan doa orang-orang yang memang bermohon kepada-Nya dimana pun ia berada, selama ia melakukannya dengan benar.

QS. Al Baqarah (2): 186
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia (memang) bermohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman (hanya) kepada-Ku, agar mereka berada di dalam kebenaran.

Berhaji harus meluruskan niat karena Allah semata. Di tanah suci itulah kita sedang ‘bertamu’ kepada-Nya untuk berburu hikmah dalam menyempurnakan kualitas jiwa. Meningkatkan spiritualitas menuju kesempurnaan seorang hamba di hadapan Tuhannya. Meniru keikhlasan keluarga Nabi Ibrahim yang hanif (lurus) dalam bertauhid hanya kepada-Nya...

QS. An Nahl (16): 120-122
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (ia pandai) mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Walahu a’lam bishshawab.
(Bersambung).

HAJI MABRUR BUKAN HAJI WISATA ~ TASAWUF HAJI 2012 (04) ~

oleh Agus Mustofa pada 19 Oktober 2012 pukul 11:32

Seorang kawan saya, sepulang dari haji heboh bercerita pengalamannya di tanah suci. Dia tunjukkanlah foto-fotonya saat berada disana. Ada yang mejeng di depan hotel berbintang, ada yang berjejer dengan artis papan atas, ada pula yang sedang makan ramai-ramai di sebuah resto terkenal. Seorang tetangga nyeletuk: "kamu ini cerita ibadah haji atau darmawisata..?"

Substansi ibadah haji ke masa depan rupanya terancam oleh pendangkalan makna yang semakin hari semakin  memprihatinkan. Pendangkalan itu terjadi hampir di semua lini, sejak di tanah air sampai di tanah suci. Lihatlah bagaimana biro-biro perjalanan menawarkan paket ibadah hajinya. Ada yang menawarkan kenikmatan hotel bintang lima sebagai andalannya, plus keberangkatan bersama sejumlah artis papan atas.

Ada juga yang menawarkan nikmatnya menu Indonesia selama haji, plus dengan tenda-tenda mewah yang diset ala pesta kebun saat wuquf di Arafah. Dan berbagai fasilitas transportasi, akomodasi, dan konsumsi, beserta kemudahan dalam menjalankan ibadah haji selama di tanah suci. Yang lebih seru, adalah di paket-paket ibadah umroh. Dimana pendaftarannya menggunakan promo ala barang-barang konsumtif: “segera daftarkan diri Anda untuk umrah bulan ini. Daftar bertiga mendapat bonus HP, berempat memperoleh Galaksi Tab, berlima berhadiah Laptop..!’’

Saya yang membacanya langsung saja membayangkan promo di mall-mall yang menjual barang-barang konsumtif. Kok, promo ibadah haji dan umrah seperti itu ya? Kenapa tidak menawarkan substansi ibadah? Bahwa dengan haji dan umrah itu kita bisa memperoleh banyak hikmah yang berguna untuk meningkatkan kualitas spiritualitas jamaah dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Di tanah suci sendiri, kondisinya agak memiriskan hati. Berbagai situs yang memiliki nilai sejarah tinggi justru semakin pudar, dan berganti dengan hotel-hotel berbintang, restoran-restoran cepat saji, dan pusat-pusat perbelanjaan modern. Sekeliling masjid Al Haram sudah mirip dengan kota-kota metropolitan di Amerika ataupun Eropa. Bukannya saya anti kemodernan, tetapi semua itu bisa menghilangkan suasana kesejarahan yang menjadi atmosfer penting bagi jamaah haji.

Dari Hilton Tower kita bisa menyaksikan halaman tengah masjid Al Haram, dimana Kakbah berada. Karena towernya memang jauh lebih tinggi dari bangunan masjid yang terbuka di bagian tengahnya itu. Demikian pula dari Hotel Grand Zam-Zam, dimana kami beberapa kali menginap disana. Suara sang imam shalat terdengar sangat jelas di kamar-kamar, karena memang dihubungkan dengan sound system yang berkualitas bagus.

Sehingga, tak jarang ada jamaah Indonesia maupun lainnya yang melakukan shalat bermakmum ke masjidil Haram sambil tetap berada di dalam kamar atau terasnya. Alasannya, ia bisa melihat suasana di sekitar Kakbah dan mendengar suara sang Imam. Toh, banyak jamaah yang hanya bisa bermakmum dengan cara berada di halaman masjid, atau teras Mall di sekeliling masjid. Padahal, mereka kan tidak bisa melihat, kecuali hanya mendengar suara imam lewat spiker yang menggema di seantero masjidil Haram.

Kondisi semacam ini merembet ke berbagai ritual haji, mulai dari wuquf di Arafah, lempar jumrah di Mina, sampai Sa’i di Shafa dan Marwa. Saya melihat Arafah semakin hijau dan nyaman. Seiring dengan penghijauan yang digalakkan oleh pemerintah Arab Saudi, kelak padang pasir Arafah itu barangkali akan menjadi taman yang Indah. Suasananya akan lebih sejuk dengan naungan pepohonan dan air mancur dimana-mana.

Sekarang, pancaran air itu memang masih disemprotkan dari tiang-tiang tinggi untuk meningkatkan kadar kelembabannya, agar tidak terjadi dehidrasi atau heat-shock pada jamaah haji yang wuquf disana. Kelak, sangat boleh jadi, tiang-tiang penyemprot kabut air itu diganti dengan air mancur dan kolam-kolam yang indah. Sehingga, Padang Arafah berangsur-angsur akan menjadi Camping Ground sebagaimana di tempat-tempat wisata yang menawarkan kenyamanan. Jauh dari suasana dimana Nabi Ibrahim dan keluarganya melakukan perenungan saat menghadapi ujian kesabaran dari Allah.

Di tempat lempar jumrah, kondisinya juga semakin nyaman. Dulu banyak korban berjatuhan saat berebut melempar tugu simbol sifat-sifat setan itu. Saat saya berhaji di tahun 2000, saya menyaksikan jamaah yang kepalanya berdarah-darah terkena lemparan batu dari arah berseberangan. Sehingga ia pun membalas dengan lemparan batu pula ke arah seberang. Saya menyaksikan banyak orang kesetanan justru saat melempar simbol setan. Saya membayangkan, sang Iblis beserta pasukan setan yang sesungguhnya sedang tertawa-tawa menyaksikan jamaah yang kesetanan itu.

Kini, kondisinya sudah jauh lebih nyaman. Alur kedatangan dan kepulangan jamaah yang akan melempar jumrah sudah jauh lebih tertib. Tugu jamarat yang dulu bentuknya seperti pensil berdiri, sudah diganti dengan dinding lebar. Sehingga, menutup kemungkinan bagi lolosnya batu dari arah seberang ke kepala jamaah. Juga sudah dibikin bertingkat tiga. Jamaah bisa memilih tempat yang paling aman dan nyaman. Bahkan, sudah dilengkapi dengan eskalator pula.

Tentang eskalator ini, saya khawatir akan ditambah di masa depan. Bukan hanya untuk menaiki tangga, melainkan juga disediakan eskalator mendatar yang melintasi tugu-tugu jamarat. Sehingga, boleh jadi, kelak jamaah haji melempar jumrah sambil naik lantai berjalan tanpa harus bersusah payah seperti sekarang, yang seringkali menguras tenaga untuk memasuki medan kerumunan jutaan orang yang sedang menuju ke titik yang sama.

Tetapi, jika itu benar-benar terjadi kelak, saya membayangkan betapa berbedanya suasana kebatinan yang terjadi antara kita dengan keluarga Ibrahim. Sebuah ritual napak tilas perjuangan antara hidup dan mati, yang kelak mungkin akan menjadi sebuah wisata yang menyenangkan. Meskipun wisata itu dibungkus dengan nama ‘Wisata Ruhani’.

Yang lebih memprihatinkan saya adalah tempat Sa’i. Inilah simbol perjuangan Siti Hajar yang sekarang sudah tak kelihatan lagi bekasnya. Bukit Shafa dan Marwa yang asli praktis sudah hilang. Diganti dengan gundukan bebatuan yang dibungkus akrilik. Mirip tebing buatan di rumah-rumah kita dimana kita biasa membuat kolam ikan. Jarak antara kedua bukit itu sudah dilapisi dengan lantai marmer yang halus. Di sepanjang rutenya yang berjarak sekitar 0,5 km dipasangi dengan kipas angin besar-besar.

Bukan hanya satu lantai, melainkan juga tiga lantai. Kalau kita melihat keluar masjid yang tampak adalah gedung-gedung perhotelan, mall, dan pusat-pusat perbelanjaan. Disini disediakan kursi-kursi dorong untuk orang-orang tua yang tidak mampu berjalan menempuh Shafa-Marwa sebanyak tujuh kali putaran. Dan, yang menarik perhatian saya, pemerintah Arab Saudi ternyata juga menyediakan banyak kursi dorong elektrik, yang bisa dikendalikan sendiri oleh penumpangnya. Saya langsung teringat Bom-Bom Car alias mobil-mobilan listrik, dimana anak-anak suka bermain di mal-mal.

Entahlah apa jadinya ritual haji ke masa depan, jika pihak-pihak yang punya otoritas tidak segera menyadari hal ini. Jangan-jangan substansi haji akan terkubur seiring dengan semakin populernya istilah ‘Wisata Ruhani’. Dan kemabruran haji cukup diukur dengan kemampuan daya beli jamaah yang bisa berangkat haji ke tanah suci..?! Wallahu a’lam bishshawab. (Bersambung).


Kamis, 18 Oktober 2012

BERHAJI, RUKUN ISLAM KEDUA ATAU KETUJUH ~ TASAWUF HAJI 2012 (03) ~

oleh Agus Mustofa pada 18 Oktober 2012 pukul 5:13

MESTINYA, ibadah haji adalah rukun Islam kelima. Yaitu, setelah syahadat, shalat, puasa, zakat, kemudian berhaji ke tanah suci. Tetapi, ternyata ada yang menjalankan ibadah haji ini sebagai rukun Islam yang kedua. Yakni, setelah membaca syahadat, langsung menjalankan ibadah haji, karena ia punya duit dan punya kesempatan. Apalagi, ternyata dengan berhaji itu status sosialnya menjadi meningkat di mata masyarakat. Meskipun, ia tidak pernah shalat, berpuasa, ataupun berzakat

Sebaliknya, ada pula orang yang menjadikan ibadah hajinya sebagai rukun Islam yang ketujuh. Setelah bersyahadat, shalat, puasa dan zakat, maka yang kelima adalah beli rumah, yang keenam punya mobil, yang ketujuh baru berhaji ke tanah suci.

Lantas, apakah tidak boleh menjadikan haji sebagai rukun kedua atau ketujuh? Tentu saja tidak ada yang melarang. Tetapi sungguh terkandung pelajaran yang sangat mendalam pada keduanya, terkait dengan kualitas ‘pengorbanan’ sebagai salah satu pelajaran inti ibadah haji.

Saya sendiri awalnya, tanpa terasa, menjadikan haji sebagai rukun Islam ketujuh itu. Sebagaimana kebanyakan umat Islam, saya sudah lama memendam keinginan untuk beribadah ke tanah suci. Tetapi, berbagai macam kesibukan dan alasan menyebabkan saya tidak segera berani untuk pergi haji. Diantaranya, saya ingin memiliki rumah dan mobil terlebih dahulu.

Sebelum usia 30-an tahun saya sudah bisa mencapai keinginan itu. Tetapi, ternyata dengan berbagai alasan saya belum juga memutuskan untuk pergi haji. Sampai di tahun 1998, dimana Indonesia diterpa badai krisis ekonomi yang dahsyat, yang memorak porandakan pemerintahan maupun sendi-sendi bisnis di semua lini. Bisnis sampingan saya pun ikut runtuh. Modal yang tak seberapa hanyut seperti kecemplung air bah. Dan rumah maupun mobil ikut terseret arus.

Dalam kondisi kelimpungan itu saya teringat niatan saya untuk pergi ke tanah suci yang sudah lama terpendam. Saya seperti disadarkan oleh Allah, bahwa pencapaian yang sudah saya peroleh itu tidak boleh menghalangi proses spiritualitas untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Maka, saya pun membulatkan tekat untuk pergi ke tanah suci, justru dalam kondisi yang pas-pasan waktu itu. Rumah yang tadinya milik sendiri, saat itu beralih ke rumah kontrakan. Mobil yang tadinya bagus dan punya beberapa, tinggal satu dengan kualitas seadanya.

Tetapi, justru saat itulah keinginan saya untuk pergi ke tanah suci mendadak menggebu. Padahal, waktu pendaftaran haji sudah habis. Untungnya, siang harinya saya memperoleh kabar batas pendaftaran haji diundur dua minggu, karena kuota masih tersedia banyak. Rupanya, krisis ekonomi yang hebat itu telah menyebabkan begitu banyak calon jamaah haji yang mengurungkan diri. Saya pun bergegas mendaftar bersama istri.

Saya masih teringat pertanyaan istri saat membuat keputusan itu. “Apakah uang tabungan yang tinggal sedikit ini mau kita gunakan untuk pergi haji?’’ Ia khawatir sisanya tidak cukup untuk membeli rumah lagi, apalagi mobil. Tetapi, niatan saya begitu kuat. Saya katakan kepadanya, bahwa rezeki itu urusan Allah. “Kita sudah berusaha untuk meraihnya, tetapi Allah berkehendak lain. Barangkali Dia mengingatkan kita agar tidak menomer duakan proses spiritual untuk mendekatkan diri kepada-Nya...’’Akhirnya, jadilah kami mendaftarkan diri untuk pergi haji di tahun 2000.

Kemudahan demi kemudahan lantas terjadi. Berbagai urusan administrasi yang tadinya belum kami siapkan sama sekali, tiba-tiba menjadi mudah semuanya. Mulai dari KTP yang mati sampai urusan paspor, cek kesehatan, dan berbagai persiapan lain, semuanya mudah. Dan yang paling membuat kami surprised saat itu adalah ini: ada orang menjual rumah dengan harga sangat murah..! Orang itu terbelit hutang di bank, sehingga rumahnya dilelang. Dan ia menawarkan kepada saya. Yang luar biasa, harganya sama persis dengan sisa uang tabungan saya setelah dipakai mendaftar haji..!Subhanallaah.

Saya masih merinding jika ingat peristiwa itu. Keputusan saya untuk mendekatkan diri kepada Allah langsung dijawab. Padahal belum berangkat ke tanah suci. Kekhawatiran istri saya – tidak akan punya rumah – juga langsung direspon oleh-Nya. Bahkan, ’kontan’ beberapa hari sebelum berangkat haji. Tentu saja saya langsung menangkap kesempatan itu, bertransaksi rumah dengan sisa uang tabungan yang ada. Alhamdulillah..

Anda bisa membayangkan betapa mantapnya kami saat berangkat haji. Rasa syukur tiada henti-hentinya kami lantunkan sepanjang perjalanan haji kami. Bukan hanya karena memperoleh rumah kembali dengan harga yang bisa kami jangkau, tetapi karena kami merasa telah mengambil keputusan yang tepat untuk mendahulukan Allah. Sehingga, Allah lantas memberikan solusi atas permasalahan yang sedang menghimpit kami.

Itulah ibadah ke tanah suci yang paling mengharu biru jiwa kami. Sebuah perjalanan yang penuh linangan air mata. Antara rasa berdosa dan pertaubatan. Antara kegelisahan dan keyakinan. Antara penyesalan dan rasa syukur yang tiada tara. Ternyata, ibadah haji seharusnya memang tidak kami tempatkan di urutan ketujuh, melainkan benar-benar menjadi rukun Islam yang kelima..!

QS. Faathir [35]: 34
Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (membalas rasa syukur dengan kebahagiaan yang tiada tara).

Wallahu a’lam bishshawab.
(Bersambung).


Rabu, 17 Oktober 2012

RITUAL HAJI, PERAYAAN AKHIR TAHUN ~ TASAWUF HAJI 2012 (02) ~

oleh Agus Mustofa pada 17 Oktober 2012 pukul 8:40

HARI RAYA HAJI adalah perayaan akhir tahun. Karena itu, puncaknya ditempatkan di bulan ke-12 dalam penanggalan Hijriyah: bulan Dzulhijjah. Namun karena bersifat sangat kolosal dari berbagai penjuru dunia, Al Qur’an memberikan keleluasaan untuk menyelenggarakan event ini selama 3 bulan. Yakni sejak seusai Ramadan: mulai dari Syawal, Dzulqaidah sampai Dzulhijjah.

Berbeda dengan perayaan budaya yang hanya bersifat hura-hura, ritual Haji menyajikan prosesi yang penuh makna. Bukan bertabur tawa, melainkan penuh dengan linangan air mata. Haru biru antara kesedihan dan kebahagiaan, antara kegelisahan dan keyakinan, antara rasa berdosa, pertaubatan, dan syukur tiada terkira.

Inilah hari raya yang sebenarnya lebih besar dari Idul Fitri. Meskipun, di Indonesia justru hari raya Idul Fitrilah yang lebih besar dibandingkan dengan Idul Adha. Sampai-sampai pemerintah merasa perlu untuk membuat libur bersama selama berhari-hari. Tak jarang, sejumlah kantor dan perusahaan masih menambahkan cuti bersama, beberapa hari lagi. Di Mesir libur Idul Fitri hanya satu hari.

Islam mengajarkan Idul Fitri itu sebagai Idul Shaghir alias ‘hari raya kecil’. Demikianlah yang dipraktekkan di Arab Saudi, Mesir, atau negara-negara Islam lainnya. Mereka lebih membesarkan Idul Adha sebagai Hari Raya Besar. Yang di Jawa pun disebut sebagai Riyoyo Besar. Namun entahlah, bagaimana awalnya, Idul Fitri di Indonesia lantas bergeser atau setidak-tidaknya berkembang menjadi peristiwa budaya, yang lebih menonjolkan kehebohan fisikal.

Kebesaran Idul Adha dibandingkan dengan Idul Fitri, salah satunya, tampak dari lamanya takbiran, mengumandangkan puja-puji untuk Tuhan Semesta Alam. Pada saat Idul Fitri, takbiran diselenggarakan hanya semalam saja. Yakni, seusai Ramadan sampai keesokan harinya menjelang shalat Id. Sedangkan Idul Adha menggelar takbiran selama empat hari empat malam penuh. Yakni, tanggal 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah.

Selain itu, Idul Fitri adalah perayaan yang bersifat lokal bersama handai tolan dan keluarga dimana kita berada, dan karenanya hisab-rukyatnya dilakukan di tempat masing-masing. Sementara, Idul Adha adalah perayaan internasional yang dihadiri oleh saudara seiman dari segala bangsa, dengan beragam budaya dan bahasa. Inilah ritual ibadah yang tidak mempermasalahkan mazhab ataupun aliran agama. Pokoknya, selama hanya bertuhan kepada Allah dan berteladan kepada Rasulullah Muhammad SAW, mereka berhak untuk memperoleh ‘undangan’ datang ke tanah suci mengikuti acara tahunan ini.

Untuk apa? Apakah untuk berhura-hura dan bersuka ria? Bukan. Mereka diundang untuk hadir dan merasakan berbagai ritual haji yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sebuah ritual untuk meneguhkan keyakinan bertuhan hanya kepada Allah, Sang Penguasa Jagat Semesta. Sang Pencipta kehidupan yang memegang kendali tertinggi atas segala peristiwa yang kita lakoni.

Selama beberapa hari di tanah suci itulah jamaah haji dilarutkan ke dalam miniatur kehidupan manusia secara universal. Menerapkan hablum minallah – interaksi dengan Allah – sekaligus hablum minannas – interaksi dengan manusia dalam realitas sehari-hari. Hanya orang-orang yang sudah menyelami makna ajaran islam dengan baik sajalah yang bisa memadukan dan meleburkan interaksi ilahiah - insaniah itu secara simultan. Sungguh, di dalam peleburan kedua macam interaksi itulah terkandung pelajaran Haji yang sangat kompleks dan mendalam.

Bahwa, umat Islam mesti bisa bersifat hasanah kepada sesama makhluk-Nya, sebagai landasan sekaligus puncak penghambaan kita kepada Allah, Sang Pencipta segala. Karena, sesungguhnya Allah tidak butuh ibadah-ibadah kita secara individual. Tanpa kita menyembah-Nya sebagai Tuhan pun, Allah tetap saja menjadi Tuhan atas segala ciptaan-Nya. Yang Allah ‘inginkan’ adalah agar kita meniru Dia, yang senantiasa berbuat kebaikan kepada makhluk-Nya tanpa meminta balas jasa. Semata-mata karena sifat Rahman dan Rahim-Nya belaka.

QS. Al Qashash [28]: 77
‘’...dan berbuat baiklah (kepada siapa saja) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’’

Itulah sebabnya, selama berada di tanah suci, jamaah haji dilarang untuk berkata-kata tidak baik, apalagi berbuat kejahatan. Membunuh binatang dan merusak tumbuhan pun diharamkan. Sebaliknya, justru diperintahkan untuk berbuat kebaikan sambil terus melantunkan dzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya.

QS. Al Baqarah [2]: 197-198
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata-kata buruk), berbuat fasik (jahat) dan bertengkar selama mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebajikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Tidaklah berdosa bagimu untuk mencari karunia Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafah, berdzikirlah (sebanyak-banyaknya) kepada Allah di Masy'aril haram. Dan berdzikirlah (kepada) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya sebelum itu kamu termasuk orang-orang yang tersesat.

Penghayatan ritual haji dengan sepenuh-penuhnya akan mengantarkan seorang muslim menjadi lebih utuh dalam menjalankan spiritualitasnya untuk ‘berserah diri’ hanya kepada Allah, Tuhan yang selalu mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada semesta alam..!

Wallahu a’lam bishshawab. (Bersambung).

Selasa, 16 Oktober 2012

99,9 PERSEN UMAT ISLAM ‘BERHAJI’ DI TANAH AIR ~ TASAWUF HAJI 2012 (01) ~

oleh Agus Mustofa pada 15 Oktober 2012 pukul 9:44

Memasuki bulan Haji 1433 H, Kaltim Post menurunkan rubrik khusus bertajuk: TASAWUF HAJI. Rubrik yang akan berlangsung selama puncak musim Haji  ini akan diisi oleh AGUS MUSTOFA, yang kita kenal sebagai penulis buku ‘Serial Diskusi Tasawuf Modern’.

Penulis yang sangat produktif dengan puluhan judul buku itu, diantaranya telah menulis buku best seller ‘Pusaran Energi Ka’bah’, ‘Menjadi Haji Tanpa Berhaji’, dan ‘Makrifat di Padang Arafah’. Dengan pengalamannya belasan kali beribadah ke tanah suci, mantan wartawan Jawa Pos ini akan mengajak pembaca untuk memperoleh makna haji secara mendalam, meskipun belum berkesempatan untuk berhaji.

Siapa tahu, dengan cara ini Anda telah menjadi ‘lebih haji’ dibandingkan dengan jamaah haji yang pulang dari tanah suci. Terutama mereka yang tidak menyelami makna ibadahnya, sehingga hajinya tak lebih hanya berdarmawisata belaka. Salam bertasawuf Haji disini..!
-------------------------------------------------------------------------------------------

TAHUKAH ANDA berapa persen umat Islam Indonesia yang bisa berangkat haji ke tanah suci, setiap tahunnya? Ternyata hanya sekitar 0,1 persen saja! Yakni, 200 ribu orang diantara 200 juta umat Islam Indonesia. Yang 99,9 persen harus rela ‘berhaji’ di tanah air, dikarenakan berbagai alasan, terutama: karena tidak punya biaya atau tak punya kesempatan.

Padahal, kita semua tahu bahwa haji adalah ibadah puncak dalam rukun Islam. Sebuah pertanda bahwa seseorang telah menjalankan keislamannya secara paripurna. Tetapi kenapa hanya ‘diperuntukkan’ 0,1 persen umat Islam saja? Apakah memang demikian pemahamannya? Betapa beruntungnya orang-orang yang punya duit dan punya kesempatan, mereka bisa ‘membeli’ kesempurnaan ibadahnya kepada Allah..!

Tetapi, benarkah mereka yang pulang haji itu telah menjadi haji secara maknawi? Jangan-jangan hanya menjadi haji secara simbolis? Karena, ternyata mereka belum memperoleh puncak pelajaran haji: berserah diri hanya kepada Allah semata.

Berhaji bukanlah sekedar bepergian ke tanah suci semata. Karena rukun Islam kelima ini menjadi simbol puncak kualitas keislaman seseorang. Diharapkan, orang yang sudah menjalani ibadah haji akan memperoleh tingkat spritualitas yang tinggi sebagaimana ikon utama agama Islam, yakni Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dimana Nabi Muhammad SAW adalah salah satu keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ismail.

Apakah yang bisa dipetik dari sejarah Nabi Ibrahim dan keluarganya itu? Ada beberapa pelajaran penting yang akan menjadi pondasi sekaligus kesempurnaan bagi keislaman kita. Yang paling utama adalah pelajaran tauhid. Yakni, kesungguhan untuk hanya bertuhan kepada Allah, Sang Penguasa Jagat Semesta. Itulah warisan utama dari agama Ibrahim ini.

Ya, ternyata Islam disebut sebagai agama Ibrahim. Bukan agama Muhammad. Dan bahkan Nabi Muhammad diperintah Allah untuk mengikuti agama Ibrahim, nenek moyang beliau sendiri. Al Qur’an-lah yang menceritakan semua itu, diantaranya ayat-ayat berikut ini.

QS. Al Baqarah [2]: 130-132
‘’Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.’’

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Berislamlah!" Ibrahim menjawab: "Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula (kepada) Ya'qub (cucunya). (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berislam".

Sehingga tidak heran Allah pun memerintahkan kepada Nabi Muhammad, sebagai keturunan Ibrahim, untuk mengikuti agama nenek moyangnya.

QS. An Nahl [16]: 123
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif (lurus). Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Itulah sebabnya, puncak kualitas keislaman seseorang disandarkan pada ibadah haji yang ritualnya adalah napak tilas sejarah keluarga Nabi Ibrahim. Tetapi, bukan hanya dengan datang ke tanah suci dimana peristiwa ritual haji itu terjadi. Melainkan lebih mendalam dari itu. Dimana pun kita berada, kita bisa memperoleh substansi pelajaran puncak keislaman itu. Meskipun, idealnya adalah bagi mereka yang menyelami substansi sambil berada di tanah suci. Tapi, sungguh tak sedikit diantara kita yang bisa menjadi ‘lebih haji’ dibandingkan mereka yang pulang dari tanah suci..! (Bersambung).


NB: ulasan TASAWUF HAJI ini saya tulis untuk koran KALTIM POST. Agar memberikan manfaat lebih besar, saya muat juga di forum ini. Mudah-mudahan memperoleh barokah dan ridha-Nya. Salam.

Minggu, 14 Oktober 2012

CATATAN PAMUNGKAS Tentang 'KETIDAK-KEKALAN AKHIRAT'

~ AYAT MUTASYABIHAT YANG MUHKAMAT ~
oleh Agus Mustofa pada 14 Oktober 2012 pukul 8:23

Rasanya aneh juga membaca judul di atas. Masa ada ayat mustasyabihat yang muhkamat? Bukankah ayat mustasyabihat itu bermakna ‘samar’ dan butuh penjelasan panjang serta mendalam? Sedangkan ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang ‘gamblang’ tanpa perlu dijelaskan secara ‘njlimet’, apalagi muter-muter. Jangan-jangan, nanti ada ayat yang sebaliknya: muhkamat tapi mustasyabihat?

Menurut saya, memang bisa terjadi demikian. Karena ‘samar’ dan ‘gamblang’ itu memang relatif. Bagi saya gamblang, bagi Anda belum tentu. Sebaliknya, bagi Anda gamblang, bagi saya juga belum tentu. Itulah sebabnya, tidak ada seorang ahli tafsir pun yang berani secara tegas mengelompokkan ayat-ayat mana yang mutasyabihat, dan ayat-ayat mana yang muhkamat. Bagi saya, semua firman Allah memiliki makna yang sangat gamblang sekaligus mendalam. Tergantung seberapa luas ilmu yang kita miliki untuk memahami ayat-ayat tersebut.

Termasuk ayat-ayat tentang akhirat yang selama sembilan tahun terakhir kontroversial, tetap saja masuk kategori mutasyabihat dan muhkamat. Yang bagi saya muhkamat, ternyata bagi orang lain bisa mutasyabihat. Sebaliknya, yang bagi orang lain muhkamat bagi saya ternyata mutasyabihat. Itulah salah satu sebab, kenapa saya mengangkat kembali tema akhirat tidak kekal ini. Memang temanya sama, tetapi banyak penjelasan baru yang tadinya mutasyabihat, ternyata sekarang semakin muhkamat. Dan saya berharap, ini bisa menjadi penjelasan tambahan dan syukur-syukur pelengkap, sehingga saya tak perlu lagi menjelaskan lebih jauh.

Seiring dengan terbitnya buku ‘’TERNYATA AKHIRAT Masih TIDAK KEKAL’ ini, saya ingin mengangkat satu ayat utama sebagai pokok bahasan dalam memungkasi tema ‘Akhirat Tidak Kekal’ yang mutasyabihat ini menjadi lebih muhkamat. Karena secara logika agama maupun logika ilmu pengetahuan saya sudah bicara cukup panjang lebar: note 1 s/d 9 (bagi yang belum baca silakan baca dulu di notes sebelumnya, biar nyambung dengan note pamungkas ini). Bahwa, Tauhid Islam mengajarkan tidak ada satu pun yang berhak menyandang sifat Allah secara mutlak, mulai dari sifat melihat, mendengar, berbicara, berkehendak, berkuasa, dan sebagainya. Termasuk sifat Kekal.

Karena apa yang dimiliki oleh makhluk pasti TERBATAS dan TERGANTUNG kepada yang lain. Misalnya, penglihatan dibatasi oleh keberadaan mata, pendengaran dibatasi oleh keberadaan telinga, berbicara dibatasi oleh keberadaan pita suara, dan sebagainya. Langit dan bumi beserta segala isinya pun dibatasi oleh keberadaan ruang dan waktu. Kalau dimensi ruang & waktu dilenyapkan, maka seluruh isinya akan ikut lenyap. Meskipun, itu langit dan buminya akhirat.

Sementara itu, Allah bersifat mandiri, yang di dalam istilah Tauhid dikenal sebagai sifat Qiyamuhu Binafsihi – berdiri sendiri tidak membutuhkan apa pun. Atau di dalam Al Qur’an disebut dengan istilah laisa kamitslihi syai-untak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya, QS. 42: 11. Jika ada seseorang yang masih menyamakan sifat makhluk dengan sifat Allah, maka patut dipertanyakan kepahaman Tauhidnya.

Sedangkan secara logika sains, juga tidak bisa dihindari bahwa alam semesta ini pasti akan berakhir. Planet Buminya berakhir - dengan cara apa pun - yang sudah saya jelaskan dalam notes sebelumnya. Dan alam semesta pun bakal berakhir – dengan cara apa pun – juga sudah saya jelaskan di notes. Kita boleh berbeda pendapat tentang mekanismenya, tetapi hampir pasti tidak berbeda dalam menyimpulkan ‘bakal kiamatnya’ alam semesta ini. Apalagi cuma planet Bumi, meskipun itu Buminya Akhirat. Pasti kiamat..!

Kalimat ‘kalau Allah menghendaki kan bisa saja dikekalkan’ sungguh tak bisa digunakan sebagai argumentasi untuk mengatakan bahwa akhirat itu kekal. Karena, kalimat yang sama itu pun bisa digunakan untuk alasan sebaliknya: ‘’Yaah, kalau Allah menghendaki kan juga bisa menghancurkan akhirat sehingga menjadi tidak kekal’... :(

Jadi logika tauhid maupun logika sains memiliki kesimpulan yang sama, bahwa alam semesta – dunia maupun akhirat – pasti bakal kiamat. Kiamatnya dunia disebut kiamat sughra atau ‘kiamat kecil’, sedangkan kiamatnya akhirat disebut kiamat kubra alias ‘kiamat besar’.

Yang masih ada perbedaan itu kan masalah teknis penjelasannya. Mekanismenya. Termasuk penafsiran ayat-ayat Al Qur’annya. Mereka yang menganggap ini termasuk masalah mutasyabihat, mencoba menjelaskan dengan segala ‘kerumitannya’. Sedangkan yang menganggap ini masalah muhkamat, menjelaskan hal ini dengan ‘sederhana’ saja.

Berikut ini adalah salah satu ‘ayat pokok’ yang menginspirasi saya untuk berkesimpulan bahwa Akhirat itu memang Tidak Kekal. Bagi saya ayat ini termasuk muhkamat, karena bisa dijelaskan dengan kaidah bahasa yang sangat sederhana. Bahkan tak perlu dengan logika tauhid dan sains yang saya uraikan di atas.

QS. Huud [11]: 107-108
Mereka KEKAL di dalamnya (neraka) SELAMA ada LANGIT dan BUMI, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka KEKAL di dalamnya SELAMA ada LANGIT dan BUMI, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Kata ‘khaalidiina’ dalam ayat tersebut sengaja saya terjemahkan sebagai ‘KEKAL’, mengikuti terjemahan pada umumnya, agar kita memperoleh makna yang sesungguhnya tentang kata KEKAL tersebut. Apakah ia ‘benar-benar kekal’, ataukah ‘kekal yang terbatas’, yang dengan kata lain sebenarnya ‘tidak kekal’.

Ini mirip dengan sifat ‘melihat, mendengar, berkehendak, dlsb’ yang melekat pada makhluk. Bahwa sifat-sifat itu sebenarnya adalah semu. Kita sebenarnya tidak ‘melihat, mendengar, dan berkehendak’, karena yang sesungguhnya Melihat, Mendengar dan Berkehendak itu adalah Allah. Sedangkan makhluk itu hanya ‘seakan-akan’ saja. Atau, setidak-tidaknya ‘terbatas’. Artinya, meskipun melihat ternyata banyak yang tidak terlihat. Meskipun mendengar banyak yang tak terdengar. Meskipun berkehendak, ternyata ‘hanya bisa memilih’ dengan segala keterbatasannya.

Karena itu, ketika bercerita tentang KEKEKALAN surga dan neraka itu pun, Allah MEMBATASI dengan kalimat SELAMA ADA LANGIT DAN BUMI. Kebanyakan penafsir terkecoh oleh kalimat ini, sehingga menafsirinya sebagai ungkapan KEKEKALAN. Biasanya ditambahkan kalimat untuk meyakinkan, bahwa itu adalah ungkapan orang Arab untuk mengatakan kekekalan. Saya justru berpendapat sebaliknya. Bahwa, kalimat ini menjadi PEMBATAS kekekalan alam akhirat.

Boleh saja akhirat dan segala isinya disebut khaaliduun (diterjemahkan ‘kekal’), tetapi kekalnya itu sebatas keberadaan langit dan bumi. Jika langit dan buminya dilenyapkan oleh Allah, alam akhirat beserta segala isinya pun bakal ikut lenyap.

Bagaimana penjelasannya? Sangat sederhana, yakni dengan menggunakan logika bahasa saja. Untuk itu, marilah kita bahas ayat tersebut, dengan membaginya dalam 3 frase.

Frase 1: Mereka kekal di dalam neraka SELAMA ada LANGIT dan BUMI,
Frase 2: KECUALI jika Tuhanmu menghendaki (yang lain).
Frase 3: Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.

Jika frase 1 dimaknai sebagai ‘kekal selama-lamanya’, maka frase 2 haruslah bermakna sebaliknya, dikarenakan adanya kata penghubung ‘KECUALI’. Sehingga kalimat itu menjadi setara dengan kalimat ini:

‘’Mereka KEKAL di dalam neraka SELAMA-LAMANYA, kecuali jika Tuhanmu menghendaki YANG LAIN (yakni: menghendaki TIDAK KEKAL)...’’

Atau alternatif kedua, justru frase 1 itu bermakna TIDAK KEKAL, sehingga kalimatnya akan menjadi begini:

‘’Mereka KEKAL di dalam neraka SELAMA ada langit dan bumi (artinya TIDAK KEKAL), kecuali jika Tuhanmu menghendaki YANG LAIN (yakni: KEKEKALAN)...’’

Kata penghubung KECUALI mengharuskan kedua frase itu bermakna ‘berlawanan’. Sehingga para penafsir pun memberikan kalimat penjelas dalam kurung (YANG LAIN). Artinya, berbalikan dengan frase sebelumnya. Kalau di frase di depannya KEKAL, maka frase di belakang harus bermakna TIDAK KEKAL. Dan sebaliknya.

Dua altenatif itu akan sama-sama membawa konsekuensi ketidak-kekalan akhirat.

Alternatif 1:
‘’Mereka KEKAL, kecuali jika Allah menghendaki TIDAK KEKAL.

Alternatif 2:
‘’mereka TIDAK KEKAL, kecuali jika Allah menghendaki KEKAL’’.

Silakan Anda pilih salah satunya, karena Anda tidak bisa memaksakan kedua frase itu KEKAL SEMUANYA, sehingga kalimat itu menjadi ANEH:

‘’Mereka KEKAL di dalamnya, KECUALI Allah menghendaki KEKAL...’’ (???)

Nah, masalah ini akan menjadi semakin jelas, kalau kita membahas ayat selanjutnya, yakni

QS. Huud [11]: 108.
Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka KEKAL di dalamnya SELAMA ada LANGIT dan BUMI, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Frase 1: Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga.
Frase 2: mereka KEKAL di dalamnya SELAMA ada LANGIT dan BUMI.
Frase 3: kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain);
Frase 4: sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Sebagaimana pembahasan sebelumnya, jika frase ke-2 dimaknai KEKAL, maka kalimat itu menjadi ‘kalimat aneh’ begini:

‘’Mereka KEKAL di dalam surga selama-lamanya, kecuali jika Tuhanmu menghendaki KEKAL, sebagai karunia yang TIADA PUTUS-PUTUSNYA.’’ (???)

Kalimat ini jelas-jelas tidak pada tempatnya. Pilihannya hanya ada dua, dimana keduanya menempatkan frase ke-2 dan ke-3 dalam makna yang berbalikan:
1.   ‘’Mereka TIDAK KEKAL, kecuali jika Tuhan menghendaki KEKAL.’’ Atau,
2.   ‘’Mereka KEKAL kecuali Tuhan menghendaki TIDAK KEKAL’’.

Tetapi karena frase 4 mengandung kalimat: ‘karunia yang TIADA PUTUS-PUTUSNYA’, maka adalah lebih masuk akal untuk memaknai frase ke-2 sebagai TIDAK KEKAL. Sehingga, kalimat di atas, mau tidak mau, harus disetarakan begini:

‘’Mereka TIDAK KEKAL, kecuali Allah menghendaki ‘kekekalan’, yaitu karunia yang tiada putus-putusnya.

Sehingga kalimat ‘selama ada langit dan bumi’ itu justru lebih cocok dimaknai sebagai PEMBATAS kekekalan (khaalidiina). Yakni: mereka ‘kekal’ di dalam surga/ neraka SELAMA langit dan buminya masih ada. Jika langit dan buminya hancur, surga dan neraka pun menjadi ikut hancur.

Kesimpulannya:
Mereka KEKAL di dalamnya ‘SELAMA ada LANGIT dan BUMI’ = TIDAK KEKAL.

Dengan demikian, ini meruntuhkan pendapat bahwa kalimat ‘selama langit dan bumi masih ada’ itu bersifat ungkapan ‘kekekalan akhirat’. Yang benar, kalimat itu bermakna harfiah, bahwa akhirat memang ‘kekal’ KALAU alam semesta MASIH ADA. Ini sama dengan sifat-sifat makhluk lainnya, seperti sifat hidup, melihat, mendengar, dan lain sebagainya. Semua sifat itu masih berfungsi JIKA tubuhnya, matanya, telinganya, dan lain sebagainya masih ada. Kalau semua itu hancur, ya sifat-sifat itu pun akan ikut lenyap.

Karena, yang KEKAL memang ya hanya ALLAH semata..!

Wallahu a’lam bishsawab

~ salam ~